Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Kabar


__ADS_3

Setelah semalaman memikirkan semuanya, aku tidak bisa selalu menghindar dari kenyataan. Arzhan sudah menikah, dan aku hanyalah adik sambungnya.


Aku sarapan bersama keluarga. Fateeh merespon dengan ledekan, sementara Mama dan Papa Indra senang melihatku mau sarapan bersama lagi.


"Non, jemputannya sudah datang." Rere menghampiriku.


"Jemputan? Lu pesen taksi online? Kenapa?"


"Semalam aku pulang dianterin Ahtar."


"Taksi online?" Rere terlihat berpikir keras.


"Kenapa, Re?"


"Memangnya ada, ya, Non , taksi online mobilnya sama seperti punya Tuan besar."


"Maksudnya?"


"Maaf, Tuan. Ada Pak Ahtar di depan, apa harus saya persilakan masuk atau ...."


"Suruh dia masuk." Papa menjawab cepat.


Ahtar?


"Itu jemputannya, Non." Rere menunjuk seseorang yang baru saja datang.


Ahtar. Jadi, yang jemput aku adalah dia?


"Ha ha ha. Re, lu gak bisa bedain mana supir taksi atau bukan? Cowok sekeren dia mana bisa jadi supir taksi." Fateeh tertawa.


"Maaf, Pak. Pagi-pagi menganggu." Ahtar menyapa Papa Indra.


"Tidak apa-apa. Siakan duduk. Masih ada dua kursi lagi yang kosong." Papa berbicara dengan nada yang entah .... Mungkin karena aku dan Fateeh belum memiliki pasangan.


Ahtar duduk di sebelahku. Dengan sengaja Fateeh pindah tempat duduk agar Ahtar bisa duduk di sampingku.


"Mau sarapan sekalian?" tanyaku. Ahtar terlihat ragu.


Tanpa menunggu jawaban darinya, aku mengambil sarapan ke meja makanan yang ada di samping meja makan. Ya, meja makan tempat kami makan, dan meja untuk menyimpan makanan, terpisah.


"Aku tidak tahu kamu suka manis atau asin, aku ambilkan saja semuanya."





"Ini terlalu banyak, aku tidak bisa menghabiskan semuanya."


"Aku akan bantu habiskan."


"Maksudnya kita makan berdua?"


"Mau ajak Rere sekalian? Boleh, kok."


Ahtar menggelengkan kepala.


Aku mendengar Fateeh berdehem. Dia pasti sedang meledekku. Tatapan Mama dan papa pun terlihat berbeda. Entah karena apa.


Aku melihat sekilas pada Arzhan, dia nampak tidak perduli.


"Ini enak."


"Kalau begitu habiskan."


"Tapi tidak dengan yang ini. Perutku kenyang."


"Buah itu sehat. Abaikan pancake nya dan makan buahnya. Kamu itu selalu menggunakan otak untuk bekerja, menjaga kesehatan itu sangat penting."

__ADS_1


"Makan ini." Aku menusuk buah kiwi dengan garpu dan meminta Ahtar membuka mulutnya.


"Itu asam."


"Makannya sambil lihat aku, pasti manis." Aku mencoba becanda.


"Awas muntah." Fateeh bergumam.


Ahtar memakan kiwi itu dengan mata merem sebelah, dia kesulitan untuk kembali membukanya. Mulutnya dan raut wajahnya yang makan buah kiwi terlihat lucu bagiku. Aku tertawa cukup keras.


"Pa, aku berangkat duluan. Ada janji dengan klien." Arzhan berpamitan.


Aku tahu dia kesal melihatku dengan Ahtar. Sejak tadi dia terlihat tidak nyaman, bahkan mengabaikan pelayanan Alea.


Setelah berpamitan pada semua orang rumah, aku dan Ahtar pergi menuju kantor.


"Seperti inilah rasanya makan bersama keluarga."


Aku menoleh pada Ahtar.


"Memangnya kamu tidak pernah makan bersama keluarga? Aneh."


"Aku tidak punya orang tua. Sejak kecil aku hidup di panti asuhan. Beruntung karena aku diberikan otak yang cerdas hingga bisa bekerja di perusahaan besar."


"Maaf."


"Tida apa-apa."


"Kalau kamu mau, datang saja setiap pagi ke rumah. Orang tuaku pasti akan senang."


"Tidak untuk Pak Arzhan. Sepertinya dia keberatan aku ada di sana."


"Dia sedang ada masalah sepertinya. Dia itu memang punya kebiasaan buruk, jika sedang tidak suka pada seseorang, dia akan membenci semua orang yang ada."


"Begitukah? Tapi kenapa aku merasa dia keberatan saat kamu melayaniku? Apa hanya perasaanku saja?"


"Mungkin dia tidak suka saat ada pria yang dekat dengan adik perempuannya. Aku dengar, hubungan sodara yang begitu dekat akan menghadirkan rasa cemburu saat mereka memiliki pasangan."


"Kamu benar. Aku merasa kesal saat pertama melihat mereka bermesraan."


Aku sakit hati saat Arzhan mencium istrinya malam itu.


"Kalian pasti sangat dekat."


"Sangat dekat."


Bagaimana tidak, kami bahkan memiliki anak kembar.


"Ahtar, jika Tania tau kita bersama maka dia akan semakin membenciku."


"Aku akan memindahkanmu ke tempat lain. Masuklah ke bagian produksi makanan denganku dan chef."


"Apa?"


"Orang luar tidak bisa masuk ke ruang kerja kami. Kamu akan aman. Berikan saja ide yang kamu miliki, kami akan mempertimbangkannya."


"Apa ini karena aku anak Papa."


"Awalnya iya, kalau merasa tidak nyaman maka buktikan dengan kinerja yang baik."


Aku tidak yakin akan lebih aman kerja denganmu, Ahtar. Belum apa-apa sudah membuatku merasa down.


"Ini Iksia. Dia anak bungsu Pak Indra. Mohon bantuannya untuk mengajari Iksia."


"Halo, senang bertemu dengan kalian."


"Halo." Mereka menyapaku dengan ramah. Mungkin karena aku anak Papa. Bos mereka. Sungguh tidak nyaman.


"Pagi ini kami akan membahas produk baru. Kami sedang berencana meluncurkan produk baru. Yaitu Snack kentang."

__ADS_1


"Bukankah sudah banyak di pasaran."


"Benar, dan mereka sama-sama laku. Yang penting adalah rasa dan kemasan yang menarik, juga iklan yang bagus."


Aku mengangguk.


Selebihnya aku hanya diam memperhatikan karena tidak mengerti apa yang mereka sedang bahas.


"Maaf, apa target marketnya masih sama?"


"Ya. Kita akan menjualnya di swalayan dan mini market."


Aku kembali mengangguk.


"Kenapa kita tidak coba promosi di sekolah-sekolah? Misalnya kita beri mereka sampel gratis."


"Kita hanya harus membuat iklan yang menarik. Lagi pula siapa yang mau berdiri panas-panas untuk membagikan makanan? Itu juga akan membutuhkan biaya lebih."


"Tapi tidak semua orang punya televisi."


"Mereka yang masuk ke swalayan tidak akan mungkin tidak memiliki televisi."


Benar juga.


Aku ingin memberikan ide, tapi entah apa yang ada di kepalaku. Kenapa tiba-tiba lupa begitu saja.


Memalukan!


Ponselku berbunyi. Panggilan dari baby twins.


Ada apa mereka menelpon di jam segini? Bukankah mereka tahu aku sedang bekerja.


"Pak, saya mohon izin keluar sebentar. Ada telpon darurat."


"Silakan."


Aku segera keluar dan mengangkat panggilan suara dari mereka.


"Apa?"


Tidak memperdulikan apa pun, termasuk mereka yang aku tabrak saat berlari. Aku harus segera bertemu dengan Papa. Dia tidak juga mengangkat telpon dariku.


"Mana Pak Indra?"


"Sedang rapat di ruang rapat di atas."


Aku kembali berlari. Minggu lift yang tidak kunjung terbuka, aku memilih untuk berlari menuju tangga.


"Papa!" Aku membuka pintu ruang rapat. Ternyata papa sedang rapat dengan para karyawan di sini.


"Papa, kita keluar sekarang. Ikut aku sekarang."


"Ada apa? Kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya Papa bisik-bisik.


"Papa, aku mohon." Mataku mulai basah.


Papa menatapku heran.


Pah, anakku di rumah sakit.


Terpaksa aku menulis di ponsel untuk dibaca Papa.


"Apa?" Papa berdiri.


Aku menganggukkan kepala pelan. Tenaga sudah hampir habis karena menahan air mata .


"Sam, lanjutkan rapat ini. Saya harus segera pergi."


Papa menggenggam tanganku erat. Kami segera keluar menuju bandara.

__ADS_1


__ADS_2