
Pergi jalan-jalan bersama anak dan suami adalah impianku sejak lama. Menghirup udara kebebasan dengan penuh tawa riang si buah hati. Kini, akhirnya tercapai juga.
Tidak ingin kebahagiaan ini terusik, aku memutuskan untuk tidak menyalakan ponsel selama liburan berlangsung. Itu syarat utama dariku pada Arzhan.
Agar tidak membuat mereka cemas, Fateeh dan Papa sudah aku konfirmasi sejak awal bahwa aku akan pergi tanpa menghidupkan ponsel, jika ada kebutuhan atau kejadian darurat, aku akan menghubungi mereka terlebih dahulu.
Tiga hari menghabiskan waktu tanpa gajet benar-benar membuat waktu kami tidak terbuang sia-sia. Kedekatan semakin terasa, fokus pada tujuan utama yaitu liburan keluarga.
"Sengaja biar memiliki waktu lebih lama di jalan," jawab Arzhan saat aku bertanya kenapa tidak menggunakan jalur udara. Arzhan memilih menyewa gerbong kereta wisata.
Kami bahkan tidak membawa suster atau pelayan pribadiku. Aku ingin mengurus anak-anak dan suami seorang diri. Hanya ada Pak Raga dan dua body guard lainnya yang menemani.
Satu gerbong yang hanya diisi oleh tujuh orang penumpang saja membuat kami merasa nyaman dan leluasa. Baik itu saat berangkat atau saat pulang seperti sekarang.
"Gak nyalain ponsel, Mas?" tanyaku sambil menyandarkan kepala di bahu Arzhan. Sakya dan Chana sudah tertidur pulas karena kelelahan.
"Nanti saja. Aku takut kenyamanan kita akan terusik."
"Mas ...."
"Hmm."
"Salah gak, sih, kalau aku gak suka kamu deket sama Alea? Aku rasa kok gak wajar, ya. Padahal Alea itu istri pertama kamu. Secara agama dan negara dia adalah istri sah kamu. Seharusnya dia bukan sih yang merasa kayak gitu?"
"Cemburu itu wajar. Bagaimana pun juga, hubungan kita memang benar-benar dilandasi perasaan. Berbeda dengan hubunganku dengan Alea."
Mas, kalian pernah gak, sih, berhubungan intim jika memang pernikahan kalian terpaksa.
Tentu saja pertanyaan itu hanya terbersit dalam hati, tidak ada sedikitpun keberanian untukku bertanya secara langsung.
__ADS_1
"Iksia, kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?"
"Eh? Enggak, kok. Gak ada."
Arzhan menoleh padaku.
"Apa kamu ingin tahu tentang hubungan kami?"
"Enggak lah. Mana boleh begitu. Itu urusan pribadi kalian, sedalam apa pun perasaan kita, hubungan kamu dengan Alea adalah ranah pribadi. Aku tidak berhak ikut campur."
Aku dan Arzhan saling menatap.
"Kami melakukan hal yang sewajarnya suami istri lakukan, Iksia. Jadi, jangan pernah menduga-duga dan memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Hanya saja, aku melakukan itu benar-benar karena kewajiban. Atau mungkin karena aku memang laki-laki normal. Bukankah hal seperti itu pun adalah keutuhan utama manusia?"
Tidak ada yang salah, tapi ditelingaku terasa salah. Pernyataan Arzhan menorehkan luka dan sedikit merusak kebahagiaan yang harus saja aku rasa.
Kenapa harus dijelaskan? Bukankah aku meminta untuk tutup mulut saja?
Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku saat ini. Rasanya panas, sesak dan sakit seperti ditusuk-tusuk berulang kali.
"Sayang." Arzhan menarik tanganku saat aku berniat pindah ke kursi lain.
"Aku sudah bilang tidak ingin tahu. Aku juga wanita dewasa yang mengerti bagaimana suami istri sesungguhnya. Tidak harus diperjelas bukan?"
Arzhan menundukkan kepala.
Aku tahu, aku memang penasaran. Bagaimana hubungan suami istri yang dilandasi tanpa rasa cinta. Tapi, aku sadar kalau manusia memiliki kebutuhan batin. Tidak harus dijelaskan bukan?
Manusia memang suka membingungkan bahkan tentang dirinya sendiri. Ingin tahu sesuatu, tapi setelah tahu mereka malah kesal dan marah sendiri.
__ADS_1
Mengorek luka sendiri dan membuat kesedihan sendiri.
Apa yang aku harapkan? Apa aku berharap mereka tidak melakukan apa-apa?
Sungguh hanya ada di cerita novel jika menikah tanpa melakukan apa-apa. Dalam kenyataannya tidak seperti itu. Mereka bahkan melakukan hal itu karena butuh.
Manusia bisa melakukan hubungan seksual tanpa cinta. Itulah kenyataannya.
"Sayang ...." Arzhan duduk di sampingku. Dia berusaha meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan.
"Aku hanya tidak ingin kamu memikirkan hal ini. Aku bisa tahu apa yang ingin kamu katakan dari matamu. Aku tahu kamu cemburu. Aku mengerti."
"Ibarat api kecil yang kamu siram bensin, Mas. Aku terbakar habis."
"Akan aku padamkan."
"Mungkin apinya padam, tapi lukanya akan sulit diobati."
"Sayang, Alea pun merasakan hal yang sama. Dia cemburu bukan karena dia cinta, dia hanya tidak suka karena harga dirinya terinjak. Bagaimana pun juga dia istri pertama statusnya."
"Apa?"
Arzhan memejamkan mata. Dia sepertinya merasa bersalah karena sudah keceplosan berbicara.
"Jadi, dia merasa harus diistimewakan karena dia menyandang istri pertama? Kenapa dia berubah? Bukankah dia dulu bilang tidak masalah jika aku membutuhkan kamu kapan pun, Mas? Dia terlihat cuek dan tidak peduli aja gitu kita mau melakukan apa saja. Kenapa sekarang dia berubah?"
"Aku pikir itu karena pengaruh hormon. Dia juga kadang kelewat manja, sensitif dan pemarah. Di lain waktu dia bisa perhatian dan sangat baik."
Jadi, Arzhan mengira itu hanya pengaruh hormon? Kenapa perasaanku mengatakan hal berbeda?
__ADS_1
Aku menatap pak Raga. Dia menganggukkan kepala padaku. Seperti sebuah isyarat bahwa dia akan melakukan sesuatu untukku.
Benar, tidak ada gunanya aku bertengkar dengan Arzhan saat ini. Aku hanya perlu menyelidiki perubahan sikap Alea belakangan ini.