Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Trainee


__ADS_3

"Ini ruang kerja kita. Di sini kita akan membuat ide untuk dijadikan produk layak jual perusahaan."


"Pantas saja gaji tim ini besar, ternyata ide produk lahirnya dari sini." Aku bergumam.


"Itu kursi anda. Ini ruangan saya. Kalau ada apa-apa silakan masuk. Tentu saja harus mengetuk pintu terlebih dahulu."


"Saya juga tidak punya kebiasaan menendang pintu orang, kok, Pak. Tenang aja."


Ini siapa, sih? cowok ngomongnya panjang kali lebar sekali.


"Permisi, Bu Iksia silakan masuk ke ruangan saya."


"Iya, Pak." Demi menyelamatkan diri dari bapak-bapak aneh barusan, aku segera pergi mengikuti manajer produk perusahaan ini, Ahtar.


"Silakan duduk."


"Terimakasih, Pak."


"Kita langsung ke intinya saja, ya, Bu."


"Iya, lebih baik kita ngobrol langsung ke inti. jangan seperti orang di luar tadi, ngomongnya banyak. Bertele-tele. Saya tidak suka membuang-buang waktu dengan omong kosong yang panjang tanpa makna."


"Anda juga berbicara terlalu banyak."


"Oh, maaf. Saya--"


"Nanti Bu Iksia ikut dengan Maria. Dia dibagian pengembangan produk. Di perusahaan ini banyak produk yang kita buat. Salah satunya makanan. Ada makanan ringan, dan juga minuman. Silakan Bu Iksia pilih mau di bagian yang mana?"


Dia memotong ucapanku yang belum selesai.


"Makanan ringan saja."


"Pilihan tepat. Produk yang tidak memerlukan otak dan tenaga."


"Maksudnya saya bodoh apa gimana?"


"Untuk pemula seperti Bu Iksia, ini cocok. Terlebih belum ada pengalaman tentang bekerja dalam bidang apa pun."


Sialan! Mau ngebantah juga gimana, ucapan dia benar.


"Untuk perkejaan selanjutnya, Bu Iksia bisa langsung bertanya pada Maria nanti."


"Maaf, Pak. Apa bagi bapak saya terlihat seperti ibu-ibu?"


"Lalu Bu Iksia memandang saya setua Pak Indra?"


"Maksudnya?"


Ahtar tidak mempedulikan pertanyaan yang aku ajukan, dia mengambil ponselnya yang berdering.


Ngomong apa orang ini, bertanya malah dikasih pertanyaan lagi. Eh, tunggu dulu ....


"Maaf, tadi ada telpon. Sampai di mana obrolan kita tadi?"


"Ibu-ibu dan bapak-bapak. Anda bapaknya dan saya ibunya."


"Lalu mana anaknya?"


"Anak siapa?"


"Kita."


"Ha? Maksudnya?"

__ADS_1


"Sebentar, ada telpon lagi."


Ouchhh! Astaga, apa begini obrolan orang yang paling pintar di perusahaan? Sampe-sampe otakku tidak mampu menggapainya.


"Sampai anak kita," ucapku sebelum dia bertanya sampai di mana ucapan kami.


"Intinya, kalau tidak ingin dipanggil Ibu, maka jangan panggil saya bapak. Merasa masih muda? Sama saya juga masih muda."


"Itu doang masalahnya? Kenapa harus sampai nyasar ke ibu bapak, dan anak kita segala coba? Bilang aja gak mau dipanggil Bapak."


"Saya panggil kamu apa?"


"Iksia aja udah. Tapi saya ini kan bawahan, masa manggil nama?"


"Saya juga gak suka dipanggil memakai nama sendiri kecuali untuk Pak Indra."


"Kenapa? Apa karena Pak Indra pemilik perusahaan ini?"


"Karena saya menyukai Pak Indra."


"Terus saya panggi anda apa?"


"Terserah, gimana enaknya aja."


"Enaknya dicocol pake saos."


"Itu juga boleh. Panggil saja saya 'dicocol pake saos'."


Papa, help me! Bisa gila aku berurusan sama dia.


Seseorang membuka mengetuk pintu, dia masuk setelah Ahtar mempersilakannya. Wanita dengan memakai pakaian khas perkantoran. Rambut rapi disanggul kecil. Tinggi dan putih. Mungkin umurnya jauh lebih dari Arzhan.


"Maria, ini pegawai baru di sini. Kamu tolong ajarin dia, ya."


"Baik, Pak."


"Silakan ikut saya." Maria memintaku dengan sopan.


"Saya permisi ...."


Duh, aku manggil dia apa dong.


"Saos."


Dia mengangkat kedua alisnya. Maria pun terlihat heran saat aku menyebutkan kata saos.


Aku tersenyum pada Maria.


Dia membawaku ke sebuah ruangan. Di mana banyak sekali para karyawan lain yang sedang bekerja. Mereka tampak sibuk di depan layar komputer.


"Ini ruang kerja kita. Mereka sedang bekerja sesuai bidangnya. Ada yang sedang merancang bentuk makanan yang akan dibuat, ada yang sedang merancang design kemasan, ada juga yang sedang merangkai kata untuk tulisan di depan kemasan."


"Saya pikir tim produksi itu membuat makanan."


"Itu tugas Pak Ahtar dan chef yang membuat resep makanan. Kita di sini yang mendukung kerja mereka."


"Sekarang saya harus mengerjakan apa?"


"Sementara ini, cukup beri cap pada selembaran kertas ini. Kita akan menyebarkannya untuk promosi nanti."


Buseeet kerjanya ngecap doang? Gak ada kerjaan elit lainnya apa gimana?


Mau tidak mau aku mengerjakan apa yang diperintahkan Maria. Dia bilang semua orang melewati proses tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya datang dengan pakaian yang lebih santai. Mengecap selebaran itu enaknya sambil selonjoran di lantai."


Ceileee, udah kaya kerja ngebungkus keripik aja selojoran di lantai.


Terbiasa hidup susah, membuat aku merasa santai dan enjoy menjalani pekerjaan ini. Meski di perusahaan sendiri, tidak ada bedanya. Aku tetaplah karyawan biasa seperti yang lainnya. Gaji pun mengikuti aturan perusahaan.


Terlihat sepele, tapi aku merasakan lelah saat melakukan pekerjaan yang sama. Selain lelah, aku pun merasa jenuh. Duduk di kursi membuat pinggang terasa pegal. Kaki pun sering kesemutan.


Benar apa yang maria katakan, seperti selonjoran di bawah lebih nyaman dan lebih santai.


Dengan pakaian ini mana bisa aku selojoran atau duduk santai.


"Yang ini tolong di seteples. Mau dipake sebentar lagi." Seorang wanita membawa banyak kertas ke atas mejaku.


"Eh, itu selembaran punyaku masih dia kerjakan. Antri lah."


"Punyaku mau dipake duluan."


"Aku juga sama."


"Udah, pokoknya punyaku dulu." Wanita itu tampak keukeuh memaksa.


"Maaf, Mba. Saya kerjakan yang duluan ada di meja saya."


"Kamu ngebantah saya?"


"Maaf, tapi dalam kontrak kerja saya tidak ada aturan untuk menuruti kemauan Mba."


"Eh, kamu itu di sini baru sehari kerja, ya. Tolong jaga sikap. Karyawan baru udah belagu, berani menentang karyawan lama. Tugas kamu di sini itu mengurus ini." Dia menyimpan kertas-kertas itu ke atas meja dengan dilempar. Kertas itu berhamburan ke lantai sebagian.


Hupf! Sabar, Iksia.


"Kamu tau gak siapa saya?" Dia berbisik dengan nada penuh ancaman.


Aku menggelengkan kepala.


"Saya penanggung jawab bagian promosi, sekaligus tunangan Ahtar. Ayahku juga seorang petinggi di sini,"


"Oh."


"Jadi jangan bertingkah!" Dia membentak.


Lu tau gak siapa bokap gue? Jantungan lu kalau tau siapa bokap gue.


Aku hanya bisa mengelus dada mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Rapikan semuanya!"


"Tugas saya bukan merapikan kekacauan yang Mba buat. Maaf, Mba."


"Kamu berani sama saya? Akan saya laporkan kamu pada Ahtar."


Bodo amat!


"Ayo, kita laporkan kejadian ini pada Pak Ahtar."


"Apa?" Dia terkejut saat aku melangkah meninggalkan meja dan bejalan menuju ruangan Ahtar.


Aku mengetuk pintu sebelum masuk, namun wanita itu menerobos begitu saja sebelum Ahtar mempersilakan masuk.


"Sayang ...."


Cih! Benar-benar tidak profesional.

__ADS_1


"Eh, Pak." Sikap manja wanita itu langsung berubah saat melihat ....


Aduh, ngapain papa di sini?


__ADS_2