Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Kecewa


__ADS_3

"Hari ini aku gak bisa antar Iksia sekolah, minta sopir aja yang anter. Ada pekerjaan di galeri."


Inilah permulaan dia menghindar dariku. Menjaga jarak seperti yang aku minta.


"Pah, aku berangkat duluan, ya. Mobilnya udah datang 'kan?"


"Udah. Hati-hati di jalan, Nak."


Aku pergi setelah mencium tangan Mama dan Papa.


"Ini." Arzhan memberiku dua lembar uang berwarna merah. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada mereka, mau tidak mau aku menerimanya.


"Makasih, Kakak." Aku berusaha terlihat ceria.


Sesampainya di sekolah, Hilda menyambutku di kelas. Dia bilang buku kami hilang.


"Loh, kok, bisa? biasanya aman-aman aja 'kan?"


"Iya. Mana tugas akuntansi belum dikerjakan."


"Mampus! Aku juga malah lupa."


"Iksia, tangan kamu kenapa anget?" tanya Hilda saat dia menggenggam tanganku.


"Masa?"


Hilda mengangguk.


"Lupakan. Sekarang kita harus mengerjakan tugas dulu."


"Gimana caranya? Orang buku kita hilang."


"Bener juga. Ya ampun, sial banget hari ini."


Aku dan Hilda masih panik karena guru akuntansi kami terkenal galak, bel sekolah berbunyi. Tandanya kami harus segera masuk.


"Keluar kalian! Lari keliling lapangan upacara sebanyak 15 kali." Ibu Siska berteriak begitu lantang saat dia tahu aku, Hilda dan tiga orang lainnya tidak mengerjakan tugas.


Pagi ini matahari bersinar begitu cerah. Rasanya hangat meski lama kelamaan terasa panas. Tiga, empat, hingga lima kali putaran aku masih merasa semua baik-baik saja. Namun, saat baru setengah dari putaran ke tujuh aku merasa sangat pusing.


Dunia seperti berputar, dan mata berkunang-kunang. Hingga aku merasa semua menjadi gelap.


Aku mencium sesuatu yang tidak biasa. Rasanya menyengat. Namun, masih bisa diterima oleh hidung. Ada rasa nyeri di bagian kepala sebelah kanan. Rasanya perih dan nyut-nyutan.


Aku mencoba membuka mata, tapi kembali terpejam karena silau dari cahaya lampu.


"Ma ... Pah ...." Semoga ada yang mendengar suaraku.


"Sayang."


Itu Papah.


"Pah ... silau," ucapku.


"Buka matanya. Cahaya lampu sudah papa halangi."


Meski belum membuka mata, aku merasakan redup dari yang semula terasa terang. Benar saja, Papah Indra sudah menghalangi cahaya lampu dengan tangannya.


"Papah." Suaraku lirih.


"Iya, Sayang." Dia mengusap kepala dan pipiku. Matanya terlihat penuh kekhawatiran.


Ya Tuhan. Dia begitu mencintaiku dan tentunya mama. Apakah aku tega mengkhianati cintanya dengan mencintai anak kandungnya sendiri?


"Jangan menangis, ada papa di sini." Dia memelukku dengan penuh kelembutan.


"Sakit, Pah." Semakin dia mencintaiku, semakin ingin aku menunjukkan rasa manja yang belum pernah aku lakukan pada siapapun. Termasuk Mama. Bagaimana aku bisa bermanja-manja saat Mama sibuk mencari nafkah untuk hidup kami berdua waktu itu.

__ADS_1


"Sakit, Pah." Aku merengek.


"Sebentar, Papa panggil dokternya dulu."


"Jangan." Aku menekan punggung Papa Indra agar tidak melepaskan pelukannya. "Jangan pergi, Pah."


Papa terdengar seperti tertawa kecil. "Kenapa?" tanyanya.


"Takut. Ini di rumah sakit 'kan? Iksia takut ada suster ngesot."


Tawa Papa Indra menggelegar. Dia melepaskan pelukannya karena tidak ingin membuat aku tidak nyaman dengan suaranya.


"Itu hanya film, Nak. Mana ada di dunia nyata suster ngesot. Nanti papa kasih dia kurs roda biar gak capek ngesot di lantai."


Kali ini giliran aku yang tertawa. Namun, aku segera meredamnya karena setiap kali tertawa, nyut-nyutan kepalaku.


"Ini ada apa, sih? Ribut bener berdua."


"Mah."


"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak. Gimana perasaan kamu sekarang? ada yang sakit?"


"Aku bahagia, Mah."


"Bahagia? Gimana bisa bahagia, orang kamu pingsan di sekolah. Kenapa bisa sampai pingsan, sih? Kamu 'kan sarapan tadi pagi. Kalau ada yang dirasa, kamu segera kasih tau kami. Jangan maksain sekolah. Gini, nih, jadinya. Bikin Mama dan Papa ketakutan."


"Mah, Mah. Udah, dong. Anaknya baru sadar udah dimarahin gitu. Kalau pingsan lagi, gimana?"


Mendengar ucapan Papa Indra, aku pun kembali memejamkan mata dan pura-pura pingsan.


"Tuh 'kan bener. Iksia pingsan lagi," ucap Papa menggoda Mama.


"Biarin. Yuk, Pah. Kita tinggal pulang aja."


"Jangan!" Aku segera membuka mata. Mama dan Papa Indra tertawa. Diikuti aku yang tertawa bahagia melihat Papa Indra dan Mama tertawa sambil sesekali memukul Papa Indra dengan manja.


Dua hari aku dirawat di rumah sakit. Banyak teman dan sodaraku yang menjenguk, termasuk pacar Fateeh.


Benarkah? Apa itu hanya alasan agar dia tidak bertemu denganku? Apa harus sejauh ini menghindarnya?


Hari-hari berikutnya aku bahkan hampir tidak pernah bertemu dengannya. Saat pagi, dia sudah pergi mendahului kami semua. Saat malam, dia pulang paling akhir.


Sudah lebih dari dua Minggu aku tidak bertemu dengannya dalam jarak yang dekat. Aku hanya melihat punggung dia saat aku turun dari tangga di pagi hari. Aku hanya mendengar suara kakinya saat dia melewati kamarku dan pergi menuju kamarnya.


Ada rasa sedih dan gelisah yang luar biasa. Rasa takut karena terlalu lama tidak berjumpa, melebihi rasa takut jika orang tuaku mengetahui perasaan kami berdua.


Keadaan ini membuat aku kehilangan fokus dalam berbagai hal, termasuk saat kami makan. Aku yang tidak suka bawang putih, tapa sengaja memakannya dan membuat aku muntah-muntah.


"Kamu ini kenapa, sih? Sudah berapa lama mama perhatikan, kamu seperti orang linglung tau gak? Kamu sedang ada masalah?" tanya Mama saat kami berada di kamarku.


"Enggak, Mah."


"Terus kenapa? Tadi kamu makan garlic. Kemarin berangkat sekolah salah kostum. Jangan kamu pikir mama tidak memantau kamu di sekolah. Wali kelas kamu bilang kalau kamu sering di hukum akhir-akhir ini. Ada apa? Kenapa, Iksia? jawab Mama!"


"Tapi beneran, Mah. Aku gak ada apa-apa. Aku hanya ... hanya ...."


"Hanya apa? Apa yang kurang dari kami, Iksia? Papa Indra sudah memberikan semuanya untuk kamu. Terus? Kenapa kamu sampai membuat kesalahan yang sama dan berulang di sekolah." Suara Mama meninggi.


Wajar. Aku sudah beberapa kali dihukum karena tidak mengerjakan tugas. Nilai ulang harianku pun anjlok.


"Sudah, Mah." Papa Indra dan Fateeh datang ke kamar. Mereka pasti takut setelah mendengar suara Mama yang keras.


"Sudah apanya, Pah? Dia, nilai dia anjlok. Bukan hanya itu, dia juga dihukum dan aku dipanggil ke sekolah gara-gara itu."


"Apa?"


"Kenapa? Kamu kaget? Iya, mama dipanggil wali kelas kamu dua hari lalu. Papa yang melarang mama untuk memberitahu kamu."

__ADS_1


"Aku minta maaf, Mah." Aku mulai menitikkan air mata.


"Apa karena kamu merasa sudah memiliki segalanya, makanya sekarang kamu jadi ngelunjak. Kamu merasa jadi tuan putri, begitu? Jika tahu kamu seperti ini, mama lebih memilih kita hidup tetap berdua. Mama lebih baik hidup banting tulang sendiri meskipun dihina banyak orang. Apa itu juga yang kamu mau?!"


"Enggak, Mah." Aku segera bersimpuh di kaki Mama yang sedang berdiri berkacak pinggang.


"Maaf, Mama. Aku benar-benar minta maaf. Iksia gak mau mama kembali kerja kayak dulu. Iksia mau mama bahagia dengan Papa Indra. Iksia janji gak akan melakukan kesalahan lagi, Ma. Maaf, Mama."


"Mama kecewa sama kamu." Mama menghempaskan tubuhku dari kakinya dan dia segera pergi keluar kamar. Aku mengejar dengan merangkak sambil menangis.


"Mama ...." Aku segera berdiri untuk mengejar langkahnya yang semakin cepat.


"Mama, tunggu."


Bruk!


Aku bertabrakan dengan seseorang.


"Si, ada apa?"


Tidak perduli itu Arzhan, segera aku singkirkan tangannya dari tubuhku untuk pergi mengejar Mama.


"Ma, buka. Mama!" Tangisanku semakin histeris. Berkali-kali aku menggedor pintu kamarnya, tetap saja tidak membuahkan hasil apapun.


"Sayang, bukan pintunya." Papa ikut membujuk.


"Ma ... Iksia minta maaf. Sungguh, Iksia mau berubah. Iksia janji, Ma. Tolong maafin Iksia. Mama, Iksia capek nangis. Tolong, Ma."


Sudah hampir setengah jam aku duduk di depan pintu kamar Mama, tapi pintu itu sepertinya enggan terbuka.


"Mama, kalau memang Iksia menjadi beban bagi Mama, Iksia minta maaf."


"Jangan duduk di lantai, dingin." Arzhan merangkul pundakku. Bau itu, tangan itu.


Aku rindu, Kak.


Tangisanku kembali pecah.


"Sssst, sudah. Jangan menangis lagi. Biarkan mama tenang dulu. Besok kita bujuk lagi, oke?''


Aku menganggukkan kepala.


"Tidur, ya, Nak." Papa mengusap kepalaku. Pun dengan Fateeh.


"Temani adik kamu sampai dia tidur, Arzhan."


"Iya, Pah."


Sesampainya di depan kamar, aku meminta Arzhan agar tidak ikut masuk ke dalam.


"Aku temani sampai kamu benar-benar tidur."


"Tetaplah bersikap tidak perduli padaku, Kak."


"Maksudnya?"


Aku menyeka air mata yang masih saja menetes.


"Si, waktu itu aku benar-benar di luar kota karena sedang ada pameran."


"Aku tidak meminta penjelasan."


"Iksia ...."


"Tolong, tetaplah menganggap kalau aku tidak pernah ada di rumah ini."


"Ik--"

__ADS_1


Belum sempat dia mengatakan apapun, aku segera menutup pintu rapat-rapat.


Mungkin memang harus seperti ini. Entah demi kebaikan siapa.


__ADS_2