
"Ma, mau ke mana? Mama!" Mama menarik tanganku menuju garasi.
"Ma, tenang dulu."
"Ini ada apa, sih? Itu Iksia kesakitan, Ma."
Papa dan Fateeh tidak bisa menghentikan langkah mama. Dia masih tetap menyeretku dan membawaku menaiki mobil.
"Ma, kita mau ke mana. Tolong, Ma. Jangan cepet-cepet nyetirnya."
"Gugurkan anak itu."
"Mama?"
"Kamu tidak bisa melakukan ini pada mama terutama papa, Iksia. Pokoknya kamu gugurkan kandungan kamu mumpung masih kecil."
"Aku gak mau, Ma."
"Iksia, kamu itu masih kecil. Kamu tau apa soal mengurus bayi. Lagi pula bayi itu hadir di luar pernikahan. Dia hanya akan membawa aib untuk keluar kita, sadar itu, Iksia!"
"Aib? Dia tidak tahu apa-apa tentang aib. Aku yang salah kenapa harus dia yang dikorbankan."
"Kalau begitu, ini resiko yang harus kamu tanggung. Kamu menghadirkan dia maka kamu juga uang harus menyingkirkan dia."
"Baik, Ma. Tapi Mama juga akan kehilangan aku di detik yang sama."
Aku mencoba membuka pintu mobil dan berniat untuk melompat dari sana.
"Iksia!" Mama membanting stir dan langsung memberhentikan mobilnya di samping jalan.
"Kenapa, Ma? Kenapa mama tidak membiarkan aku loncat dan mati? Bukankah aku membawa aib untuk mama dan papa? Aku mati dengan membawa aib dan dosa ini. Maka mama dan papa tidak akan merasa malu."
"Anak bodoh! Apa-apaan kamu ini?" Mama menjambak rambutku. Tidak ada perlawanan. Biarkan saja dia melampiaskan kemarahannya.
"Itu karen mama menyayangiku bukan? Aku juga sama, Ma. Entah kenapa tapi aku tidak ingin membuang-buang janin ini." Aku menangis sesenggukan.
"Kata siapa? Kamu mau mati, ayo!" Mama keluar dari mobil. Dia membuka pintu mobil yang ada di sampingku, menyeretku keluar dan membanting ku ke tanah. Saat sadar perutku yang akan mendarat, segera aku melindunginya dan membiarkan kepalaku sebagai pengganti.
Alhasil, darah dari keningku menetes cukup banyak. Hidungku perih karena mencium tanah.
"Iksia." Mama menghampiriku. Dia terlihat cemas melihatku berdarah.
"Mama, kesalahan yang aku perbuat memang gak bisa dimaafkan, tapi bayi ini tidak berdosa, Mama. Bagaimana pun juga di cucu mama. Aku mohon, biarkan dia tetep hidup, Ma. Dia sekarang sedang tumbuh di rahim aku, Mama."
"Iksia ..." Mama terlihat frustasi. Aku tahu dia marah, tapi sebenarnya dia pun tidak tega jika harus menggugurkan kandunganku.
"Kenapa, Si? Kenapa kamu tega melakukan ini sama Mama?" Mama kembali menangis sambil memukul-mukul tanah.
"Apa yang harus Mama katakan pada papa? Dia begitu mencintai kita. Memperlakukan kita begitu hormat, tapi ... Tapi kamu ...."
"Aku minta maaf, Mama. Maafin Iksia mama."
"Kenapa harus seperti ini, Iksia. Kenapa? Apa salah mama sampai kamu melakukan ini semua?"
__ADS_1
"Mama. Iksia minta maaf, tapi aku benar-benar ingin bayi ini hidup apa pun yang tejadi. Iksia mohon, biarkan dia hidup, Ma."
"Ma, Iksia."
Papa datang.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Malu dilihat banyak orang. Sayang, kepala kamu kenapa? Ini da ...."
Melihat banyaknya darah yang menetes dari kening, hingga membasahi bajuku, papa syok. Papa mengangkat tubuhku dan segera dibawa ke klinik terdekat.
Aku mendapatkan beberapa jahitan karena luka robek terkena batu. Setelah selesai, kami pun segera pulang.
"Siapa?"
Aku menoleh.
"Siapa ayah dari janin itu?"
"Maaf, Pah. Aku gak bisa jawab."
"Papa tidak akan meminta kamu untuk menggugurkannya, papa akan mengakuinya sebagai cucu papa, tapi ... tapi tolong katakan siapa ayahnya?"
"Pa, dia kenalanku di medi sosial. Kami beberapa kali bertemu tapi sekarang dia menghilang setelah tahu aku hamil."
Papa memukul stir begitu keras dengan kepalan tangannya.
Maaf, Papa. Iksia berbohong. Iksia tidak bisa membayangkan jika papa tahu kalau arzhan adalah ayah dari janin ini.
"Pah, Iksia minta Kak Fateeh dan Kak Arzhan jangan diberitahu soal ini. Iksia mohon sama papa."
"Papa, Iksia minta maaf." Aku kembali menangis. Sakit rasanya melihat kekecewaan di raut wajah papa.
"Jika kamu tidak ingin kakak kamu tahu, lebih baik kamu keluar dari rumah. Papa akan siapkan rumah di kampung. Tenang saja, pelayan pribadi, sopir, body guard pun akan papa siapkan untuk kamu."
"Pah ...."
"Papa akan carikan guru privat agar kamu masih bisa belajar. Bagaimana pun juga pendidikan itu penting. Kamu akan menjadi seorang ibu, kamu harus pintar dalam segala hal karena sekolah pertama anak kamu adalah ibunya, yaitu kamu, Nak."
"Papa." Tangisanku semakin menjadi. Sebesar ini pun penghinaan yang aku berikan untuk Papa Indra, dia tetap peduli dan menyayangiku.
"Kamu harus kuat, harus siap dalam segala hal. Kehamilan itu tidaklah mudah. Tenaga, emosi dan semuanya akan terkuras. Kamu itu masih kecil, kamu masih anak papa yang ... yang ...."
Kesedihan papa tumpah. Dia menepikan mobilnya dan meraih tubuhku. Memeluk dengan badan yang bergetar hebat.
"Iksia, Nak."
"Maaf, Papa. Iksia benar-benar minta maaf."
Begitu sampai rumah, ternyata Fateeh dan Arzhan menunggu di teras. Mereka sangat terkejut melihat perban di kepalaku. Terutama Arzhan. Dia segera berlari menghampiri.
"Ada apa? Kenapa kepala kamu diperban?"
"Dia jatuh, keningnya robek."
__ADS_1
Arzhan menatap tidak percaya pada bajuku yang kotor karena darah.
"Mama mana, Kak?"
"Sejak tadi mama mengunci diri di kamar."
"Aku ke sana dulu, ya."
"Jangan." Papa menarik tanganku. "Biarkan mama sendiri dulu. Beri dia waktu."
"Benar. Sekarang lu ganti baju dulu. Bau amis."
"Arzhan, antar dia ke kamar. Pastikan obatnya diminum."
"Pah ...." Aku menatap papa. Memberikan tanda bahwa obat itu tidak boleh aku minum. Dokter memberikan resep obat biasa, bukan untuk wanita hamil.
"Oh, iya. Kamu hanya perlu mengganti perban sehari dua kali. Obat itu tidak harus dikonsumsi. Sini." Papa mengambil plastik obat dari tanganku.
"Mau aku gendong?"
"Gak usah, Kak." Aku menggelengkan kepala pada Arzhan.
Sesampainya di kamar, Arzhan menyiapkan air hangat untukku berendam.
"Kakak, temenin aku."
"Hh?"
Aku menarik Arzhan ke kamar mandi. Aku tidak benar-benar melepaskan pakaiannku. Hanya menggantinya dengan tangtop dan kolor.
"Kenapa manja banget mau dimandiin segala?" tanya Arzhan sambil memberikan sampo pada kepalaku.
"Tangan aku sakit habis jatuh tadi. Makanya minta kakak yang sampoin."
"Sabun juga?" tanyanya menggoda.
"Gak bisa di sini, nanti aja di apartemen."
"Tapi lama. Mungkin tiga hari kemudian."
"Kenapa?"
"Aku harus pergi pameran ke Jawa timur."
Aku langsung membalikkan badan dan memeluk Arzhan. Tangisanku kembali pecah.
"Eh, ini kenapa?" Arzhan ikut masuk ke bath tub.
"Hei, baby. What's wrong?"
Aku menatapnya cukup lama. Menarik tengkuknya untuk bisa meraih bibirnya.
Arzhan begitu menikmatinya tapi tidak denganku. Bukan hasrat yang aku rasakan tapi kesedihan.
__ADS_1
Ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Memeluk dan menciumnya tidak akan pernah kami lakukan lagi entah sampai kapan.
Kita akan kalah, Arzhan. Karena takdir lah yang sedang kita lawan.