Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Hilangnya Sakya dan Chana


__ADS_3

Setidaknya kini aku bisa tinggal bersama anak-anak setiap hari. Itulah satu-satunya alasan untuk menghibur diri sendiri.


Aktifitas baru. Kehidupan baru. Aku akan menjalani peran sebagai ibu yang sesungguhnya.


"Sudah malam, ayo kita tidur, Kids."


"Horeee, mulai malam ini kita akan selalu tidur dengan Mommy, iya 'kan?"


Aku menggelengkan kepala pada si bungsu Chana. Dia cemberut.


"Kalian harus tidur di kamar masing-masing. Mom, di kamar sendiri, Sakya juga bobo sendiri, Chana juga bobo sendiri. Nanti ada suster yang akan menemani sampai kalian tidur lelap."


"Kok, gitu, Mom?" Chana merengek.


"Nak," aku membelai kepalanya, " Kamu harus belajar mandiri. Kita harus menjadi manusia yang kuat. Harus bisa melakukan apa-apa sendiri selama tubuh kita masih mampu. Kamu harus jadi anak yang hebat. Mulailah dari tidur tanpa ditemani orang lain."


Chana menunduk. Aku tahu dia pasti keberatan.


"Nanti kita akan tidur bersama kalau akhir pekan. Mom akan membacakan buku dongeng untuk kalian. Gimana?"


Chana menatapi sambil tersenyum.


"Sekarang kalian bobo. Besok harus sekolah."


"Oke, Mom." Suster yang menjaga Chana mengantarkan gadis kecil itu ke kamarnya setelah aku peluk dan aku cium.


"Mom, are you oke?" tanya Sakya yang menatapku khawatir. Aku tersenyum tipis.


"I am oke."


Sakya mengangguk-angguk pelan. Dia memeluk lalu mencium pipi dan keningku sambil berkata, "Jangan takut, Mom. Aku akan menjaga Mom di sini."


Hampir saja aku menangis dibuatnya.


Di pagi hari, aku sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan. Aku ingin, memberikan yang terbaik untuk mereka.





Setelah selesai, aku segera membangunkan mereka. Chana terlebih dahulu karena dia agak sulit dan harus dibujuk cukup lama agar bisa bangun.


Dia harus aku gendong ke kamar mandi untuk memainkannya. Memakaikan dia baju meski dengan mata yang terkadang masih terpejam.


Kembali aku harus menggendong dia menuju meja makan. Kini, giliranku membangunkan Sakya. Saat aku masuk ke kamar, dia tengah berdiri di depan cermin sambil memasukkan kancing bajunya.


Sakya ....


Aku terharu karena dia lebih dewasa dari umurnya.

__ADS_1


"Sini Mom bantu." Aku berlutut dan membantunya memasukkan kancing. Tubuhnya begitu wangi, putih dan lembut.


"Selesai. Ayo, kita pergi sarapan."


Kami saking menggenggam sambil berjalan menuju meja makan. Langkahku terhenti saat melihat siapa yang duduk di sana bersama Chana. Gadis kecil itu hanya dia menatap.


"What are you doing, Dad?" tanya Sakya.


Arzhan tersenyum. Dia berdiri lalu berjalan menghampiri kami. Dia berlutut di depan Sakya.


"Mulai hari ini, Dad akan selalu menemani kalian sarapan dan makan malam. Dad juga akan menemani kalian sebelum tidur."


Sakya menatapku seolah bertanya 'Boleh gak, Mom?' Aku mengangguk pelan pada Sakya, baru setelah itu Sakya tersenyum pada Arzhan. Tangan yang semula menggenggam tanganku, dia lepaskan begitu saja dan berpindah pada tangan Arzhan.


Aku diabaikan? Hiksss ....


"Ini menu untuk anak-anak, aku siapkan sarapan untuk kakak sebentar, ya."


Arzhan yang sedang bersenda gurau dengan anak-anak hanya mengangguk.


"Ini, Kak. Sudah dulu bercandanya, kita semua akan telat kalau tidak segera sarapan."



"Ini terlalu banyak porsinya," ujar Arzhan.


"Kalian bisa makan berdua." Sakya berkomentar. Arzhan mencubit hidung Sakya.


Wow, sepertinya mereka bekerjasama dengan baik pagi ini.


Akhirnya aku dan Arzhan makan dari mangkuk yang sama. Chana sesekali melirik dengan seulas senyuman. Pun dengan Sakya.


"Kalian kenapa curi-curi pandang sambil senyum-senyum gitu?" tanyaku.


"Udah, ayo sarapan. Katanya kita akan telat." Arzhan berkomentar.


Ck!


Setelah selesai, aku dan Arzhan pamit pada anak-anak. Mereka mengantar kami sampai depan, bergantian memeluk dan mencium.


"Bye, Mom. Bye, Dad." Mereka melambaikan tangan sambil berjingkrak bahagia.


Melihat mereka seperti ini, bagiku sudah cukup. Aku tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini jika kebahagiaan sudah menjadi milik Sakya dan Chana.


Kami berangkat memakai mobil terpisah walaupun tadi Arzhan mengajakku untuk pergi bersama. Aku rasa, biarkan dia bertemu dengan anak-anaknya, tapi untuk hubungan kami? entah ... aku tidak ingin berbahagia di atas kecewanya Mama.


"Pah, bagaimana keadaan mama?" tanyaku saat berada di ruangan Papa.


"Baik," jawab Papa singkat. Dia pun masih marah sepertinya. Menjawab tanpa menatapku sedikitpun.


Berada satu kantor, bekerjasama dan sering bertemu dengan keadaan saling mendiamkan itu rasanya tidak enak sama sekali. Papa mendiamkan aku jelas karena dia kecewa, sementara aku diam karena tidak ingin membuat Papa Indra terganggu.

__ADS_1


Dengan berat hati aku berpamitan pada tim. Mereka terlihat sedih dan kecewa mengetahui aku keluar dari kantor ini.


"Kami tidak akan menemukan pemimpin sebaik Ibu. Apa yang harus kami lakukan?"


"Hidup dan berdirilah di atas kaki sendiri. Latih kaki kalian menjadi kuat, agar tidak ada yang bisa menjatuhkan. Jangan mengandalkan aku karena nanti akan merugikan diri kalian sendiri."


Surat pengunduran diri itu aku simpan di atas meja Papa saat dia sedang meeting di luar kantor.


Menjauh dan menjaga jarak sementara adalah jalan yang terbaik untuk semuanya.


Sekarang aku hanya harus berpikir bagaimana caranya menafkahi anak-anak. Ke mana aku harus mencari pekerjaan? tidak mungkin aku meminta pada Papa lagi sekarang.


Saat sedang berhenti karena lampu merah, aku tidak sengaja melihat sebuah toko bunga. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Mungkin ini yang harus aku lakukan.


Bisnis sendiri memang lebih menguntungkan dari segi waktu. Aku bisa mengatur jadwal sesuka hati.


Ya, aku sangat suka oads bunga terutama anggrek. Aku akan memulai usaha untuk mengembangkan anggrek, serta membuka usaha bunga yang lainnya.


Entah berhasil atau tidak, aku tidak akan tahu sebelum mencoba.


Ponselku berbunyi, aku tidak mengangkatnya karena sedang menyetir. Aku pun tidak melihat siapa yang menelpon karena sibuk dengan pikiranku tentang usaha bunga.


Sesampainya di rumah, aku merasa ada hal yang aneh. Pak Raga pun mengatakan hal demikian, kami berpikir sejenak lalu pak Raga segera keluar dengan berlari menuju rumah. Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya mengikuti dia dari belakang.


Pak Raga kembali dengan wajah pucat.


"Apa? Ada apa?"


"Suster dan guru privat anak-anak tidak sadarkan diri."


Aku segera berlari ke dalam, dan benar saja. Mereka bertiga pingsan. Buku pelajaran Sakya dan Chana masih tergelatak di sana, di dekat guru mereka.


"Sakya ... Chana ...."


Aku berlari menuju kamar mereka, kosong. Mencari ke semua sudut kamar akan tetapi mereka tidak ada.


Jantungku berdegup kencang, kepalaku terasa pusing. Memutar badan ke kanan dan ke kiri. Aku kembali mencari ke segala penjuru rumah, berharap mereka ada di suatu tempat.


"Non ...." Pak Raga memegang kedua lengan atas ku. Meski tidak bicara, tapi aku mengerti arti tatapan Pak Raga, bawa anak-anakku tidak baik-baik saja.


Pak Raga menelpon ambulan untuk membawa ketiga orang yang pingsan di rumah.


"Pak Raga, ke mana bodyguard anak-anak? Aku tidak melihat mereka di mana pun."


Pak Raga mengerutkan keningnya. Dia berlari keluar rumah dan tidak kembali untuk waktu yang lama. Aku memutuskan untuk ikut keluar dan aku sangat terkejut saat melihat sesuatu di belakang.


Bodyguard Sakya dan Chana dikubur hingga leher, mata dan mulut mereka ditutup oleh kain yang diikat.


Kepalaku pusing nyaris pingsan, tubuhku ambruk di atas tanah.

__ADS_1


Sakya ... Chana ... di mana kalian?


__ADS_2