
Pak Raga menyelamatkan dua bodyguard anak-anak seorang diri. Sementara aku hanya diam karena tenagaku sudah terkuras habis.
Ambulan datang, Pak Raga segera menghampiri mereka dan meminta untuk segera membawa orang-orang yang tidak sadarkan diri.
Tidak lama kemudian, Papa, Fateeh dan Arzhan datang di waktu yang nyaris bersamaan.
"Iksia."
"Papa ...." Aku menangis di dalam perlukan Papa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arzhan pada bodyguard baby twins.
"Ada sekitar empat atau lima orang datang ke sini. Mereka memakai tutup kepala. Saat itu anak-anak sedang belajar dan kami pun ada bersama mereka. Orang-orang itu datang menyerang tanpa ampun. Kami kalah jumlah, aku dan dia diikat lalu dikubur di belakang. Setelah itu kami tidak tahu apa yang terjadi."
"Pah, anak-anak aku di mana? Papah!" Aku menangis histeris.
"Sayang, dengar. Kamu harus tenang dulu. Aku berjanji akan menemukan anak-anak kita secepatnya."
"Kak, aku takut mereka kenapa-kenapa. Kalau sampai itu terjadi, aku bagaimana?"
Arzhan memelukku dengan erat. Pun dengan Papa, dia membelai punggung dan kepalaku.
"Apa rumah ini tida memiliki cctv?" tanya Fateeh.
"Tidak, Tuan." Bodyguard menjawab.
"Ini semua salah Papa karena memberi rumah yang buruk seperti ini."
"Kalian, pergilah ke rumah sakit. Obati luka-luka kalian. Pak Raga, bawa mereka ke rumah sakit. Pakai ini untuk biaya pengobatannya." Fateeh memberikan ATM nya.
"Untuk sementara waktu, kita pulang saja ke rumah."
"Tidak, Pah. Aku akan membawa Iksia ke apartemen. Meski kejadiannya seperti ini, bukan berarti mama akan menerima Iksia ke rumah."
"Aku akan ikut menjaga Iksia," ujar Fateeh.
Arzhan mengangguk.
Sepanjang perjalanan, aku tidak henti-hentinya menangis di dalam pelukan Arzhan. Sementara Fateeh menyetir di depan.
"Ayo, kita sudah sampai."
Saat turun dari mobil, aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terlalu lemah bahkan hanya untuk menopang tubuh sendiri pun tidak sanggup. Dengan cekatan Arzhan menggendongku. Kami masuk ke apartemen yang Arzhan hadiahkan untukku waktu itu.
"Minumlah ini." Fateeh memberikan teh jahe hangat padaku.
"Fateeh, tunggulah di sini. Aku akan mencari anak-anakku."
"Aku ikut."
"Sayang, dengar. Dengan kondisi kamu seperti sekarang, justru aku akan kesulitan mencari mereka. Pikiranku akan terbagi dua. Memikirkan anak-anak dan juga kondisi kamu. Tinggal lah di sini dengan Fateeh."
"Tapi, Kak."
"Iksia! Tolonglah, aku takut mereka tidak punya banyak waktu."
__ADS_1
Aku hanya bisa menangis, apa yang Arzhan katakan memang benar. Mereka harus segera ditemukan bagaimana pun caranya.
"Iya, Pah. Aku ngerti."
"Apa kata Papa?" tanyaku setelah Fateeh selesai berbicara di telepon dengan Papa. Mereka terus berkomunikasi sejak tadi.
"Papa sudah meminta bantuan polisi. Untuk saat ini polisi masih memeriksa TKP dan mereka yang saat itu ada di rumah. Mudah-mudahan ada titik terang."
Aku mengambil tas, merogoh ponsel yang ada di dalam. Aku ingin menelpon Arzhan.
Saat membuka kunci ponsel, aku melihat ada dua panggilan tidak terjawab. Ya, aku ingat. Saat di mobil ada orang yang mencoba menghubungiku.
Karena penasaran, aku mencoba menelpon kembali nomor tanpa nama itu.
"Halo, ini dengan siapa?" tanyaku.
"Maaf, apa ini dengan Bu Iksia?"
"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?"
"Syukurlah. Tunggu sebentar, Bu. Ada yang mau bicara dengan ibu."
Aku mengerutkan kening.
"Halo, Mom."
Sakya ... apa ini benar dia?
"Sakya? Nak, sayang."
Fateeh menghampiriku.
"Halo, Sakya. Berikan ponsel ini pada pemiliknya." Fateeh mengambil ponselku.
"Iya, Pak. Saya tahu. Baik, saya akan ke sana. Pak tolong saya titip keponakan saya, Pak. Saya mohon."
"Kak, mana anak-anak?"
"Ayo kita pergi." Fateeh berjalan cepat sambil menelpon Arzhan dan juga Papa.
Hampir satu jam lebih kami dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat kumuh yang sepertinya pemukiman para pemulung sampah.
"Kak?" Aku ragu.
"Tenang saja, Papa dan kakak sedang menuju kemari. Kalau kita dijebak, mereka akan menolong kita."
Aku bukan ragu, kalaupun dijebak asalkan mereka memang ada, aku tidak keberatan. Aku akan menolong mereka meski nyawa sebagai taruhannya.
Fateeh kembali menelpon dan menanyakan letak rumahnya.
Aku dan Fateeh kembali berjalan, dari kami memarkirkan mobil hingga menuju rumahnya sangatlah jauh. Melewati rumah yang terbuat dari barang-barang bekas seperti : kardus, lempengan kayu bekas, triplek dan masih banyak lagi.
Tumpukan sampah yang sepertinya sudah disortir menghiasi sebagian halaman rumah-rumah di sini. Baunya luar biasa membuat aku ingin muntah.
"Permisi."
__ADS_1
Tidak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya keluar. Tubuhnya kurus dan tentu saja kumal.
"Mana anak saya?" tanyaku dengan nada seperti menuduh.
"Dek." Fateeh menggelengkan kepala.
Pria itu tertawa. "Tidak apa-apa, Pak. Wajar namanya juga seorang ibu."
"Mom ...."
Aku mendengar suara Sakya dan Chana dari dalam. Tidak lama kemudian mereka muncul dari belakang pria itu.
"Sakya, Chana." Aku berlari memeluk mereka berdua. Tangisanku kembali pecah. Tangisan kebahagiaan dan rasa lega.
"Dad" ujar Sakya saat melihat Arzhan dan Papa datang dari belakang tubuhku. Arzhan menghampiri dan memeluk kami dari belakang.
Terimakasih Tuhan, karena masih memberikan aku kesempatan bertemu degan mereka.
"Saya tidak tahu mereka sedang dikejar penculik. Waktu itu saya sedang memulung sampah dengan gerobak. Melihat wajah mereka ketakutan, saya pikir mereka sedang dikejar anjing liar. Untuk itulah saya memasukkan mereka ke dalam gerobak sampah. Tidak lama kemudian, saya melihat beberapa orang laki-laki datang dengan berlari. Mereka bertanya pada saya, tapi saya berpura-pura tuli dan bisu. Beruntung mereka tidak mengobrak-abrik gerobak saya."
"Kami sangat berterima kasih, Pak."
"Anaknya meminta saya memotret dan mengirimkannya pada ibu, tapi ponsel saya jadul. Ha ha ha."
Kami duduk di dalam rumah pria itu. Rumah yang hanya beralaskan kardus dan dinding dari seng bekas. Terlihat karat dan robekan di beberapa bagian. Baju yang terlihat seperti kain lap menggantung di beberapa tempat. Kasur yang dia pakai pun sudah sangat tipis. Pengap rasanya.
Aku menggendong Sakya, sementara Chana duduk di pangkuan Arzhan. Lengan Arzhan yang satunya memeluk tubuhku. Masih berusaha menenangkan karena aku masih saja menangis.
"Ini hanya sedikit dari kami. Sebagai ucapan terimakasih karena telah membantu cucu saya." Papa memberikan amplop yang cukup tebal.
"Tidak usah, Pak. Saya ikhlas menolong cucu bapak. Mereka menemani saya. Meski sebentar, tapi saya senang. Mereka bisa mengobati rindu saya pada cucu di kampung."
"Saya juga ikhlas, Pak. Ini hadiah berkat kebaikan bapak. Mohon diterima."
Dengan sedikit paksaan, orang itu akhirnya mau menerima uang dari Papa.
"Sakya, Chana, ucapakan terima kasih pada kakeknya," titah Papa saat kami berpamitan pulang.
Tanpa ragu, Sakya dan Chana menghampiri pria itu. Mereka mencium punggung tangannya dan memeluk tapa ada rasa jijik sedikitpun.
"Kami pulang dulu, ya, Kek. Nanti kami ke sini lagi buat denger dongeng sang kancil lagi."
"Ha ha ha. Iya, nanti sering-sering, ya, main ke sini."
"Kami pamit, Pak. Kalau ada waktu, kami akan berkunjung lagi ke sini."
"Pak, terimakasih karena telah menyelamatkan anak saya," ucap Arzhan.
Kini, aku yang berpamitan pada orang itu. Rasanya malu sekali karena sempat tidak sopan di awal pertemuan.
"Kamu hebat," ujar pria itu. Aku menatapnya heran.
"Mereka anak-anak yang cerdas dan pintar. Kamu berhasil mendidik mereka hingga mereka tumbuh dengan baik."
Aku tersenyum. Baru kali ini ada orang yang memujiku setelah selama ini hanya ketidaknyamanan yang aku terima.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk tinggal di apartemen milikku yang masih satu gedung dengan Arzhan. Tidak seluas rumah yang papa berikan memang, tapi apartemen ini cukup untuk menampung aku, anak-anak, dan suster.
Semoga ke depannya tidak ada lagi kemalangan yang menimpa si kembar.