
"Nggak lagi-lagi, deh. Pokoknya aku harus minta papa buat ganti mobil. Titik!"
Lutu seperti pindah entah ke bagian tubuh yang mana. Jantungku masih aman pada tempatnya meski mungkin sudah ada di ujung jurang dan bersiap untuk terjun.
Jalan seperti kakek usia di atas 90 tahun. Tremor.
"Maaf, punya ID nya?" tanya seseorang berbadan tinggi besar dengan pakaian seperti penjaga di rumah.
"Enggak."
"Kalau begitu, Ade gak boleh masuk. Khusus karyawan saja yang bisa masuk ke dalam itupun harus memakai ID card."
Aku melihat kanan kiri. Semuanya dijaga satpam dengan gerbang atau entah apa itu namanya. Hanya saja siapapun yang hendak masuk harus menempelkan kartu agar pembatas bisa terbuka.
"Aku mau bertemu Papa Indra."
"Papa?" tanya yang satunya. Sementara yang satunya lagi menahan tawa mengejek.
"Iya. Aku anak Papa Indra."
"Maaf, Dek. Pak Indra hanya memiliki dua anak laki-laki."
"Tapi aku ini anak Papa Indra. Kalian tidak tahu kalau Papa baru saja menikah dengan mama aku?"
"Ya iyalah. Papa kamu pasti menikah sama mama kamu. Masa sama mama saya?" kata satu orang lagi yang sejak awal memang sinis.
"Kalian gak percaya? coba aja telpon Papa Indra dan bilang Iksia Fazwana datang ke sini."
"Kenapa gak Ade aja yang nelpon. Itupun kalau Ade punya nomornya Pak Indra."
"Lah, iya. Kenapa Bapak baru ngomong."
Satpam itu tersenyum ramah. Aku segera mengambil ponsel dan menelpon Papa Indra. Sayangnya kembali tidak diangkat. Aku hendak menelpon ulang akan tetapi takut dia sedang meeting.
"Gak diangkat, Pak. Mungkin sedang meeting. Pak, saya gak mungkin berdiri di sini. Di mana saya bisa duduk?"
"Oh, itu, Dek. Ade duduk di sana saja. Nanti kalau Pak Indra keluar, akan saya beritahukan pada beliau."
"Baik, Pak. Terimakasih, ya."
"Sama-sama."
Baru saja aku sampai di kursi untuk duduk, ponselku berdering.
"Halo, Pah."
"Sayang ada di mana?"
"Di bawah, Pah. Kata satpam di sini aku gak boleh masuk karena bukan karyawan. Gak punya ID card."
"Oh, iya. Tunggu papa di sana, ya. Jangan ke mana-mana. Tunggu pokoknya."
"Iya, Pah. Emangnya aku mau kabur ke mana coba."
"Oke."
Dasar Papa. Aku bukan anak TK kali, Pah.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Papa Indra. Dia turun dengan beberapa orang lainnya yang terlihat jauh lebih tinggi darinya.
Papa Indra berlari kecil sambil melambaikan tangan padaku. Dia terlihat begitu riang.
Sumpah! sebenarnya yang anaknya itu siapa, sih?
"Papah...." akupun ikut berlari padanya.
"Maaf, ya, Sayang. Aturan kantor Papa bikin kamu susah," ucapnya sambil memelukku erat. Aku menggelengkan kepala.
"Papa, boleh gak aku minta sesuatu?" tanyaku sambil kami berjalan.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku ganti mobil, ya. Mobil itu gak nyaman."
"Gak nyaman?"
"Aku hampir kehilangan jantung karena ketakutan. Mobil itu cepet banget. Aku takut," ujarku manja.
"Pak Sam, tolong cari mobil untuk putri saya."
Aku melihat salah seorang laki-laki yang ada di belakang Papa Indra.
"Itu siapa?"
"Sekertaris pribadi papa. Nanti dia yang akan nyari mobil buat kamu."
Tanpa pikir panjang, aku memutar badan dan mendekat pada Pak Sam.
"Pak, beli mobilnya yang bisa muat banyak orang. Bisa masukin Papa, Mama, aku, Kak Arzhan dan Kak Fateeh juga. Yang jok nya empuk dan ada televisinya."
"Siap, Non."
"Mobil keluarga udah ada di rumah, Nak."
"Oh. Ya udah lah terserah papa aja. Yang penting mobilnya jangan pendek kaya mobil aku yang sekarang."
"Oke, nanti papa beliin yang baru."
"Makasih, Papa." Aku memeluk Papa Indra erat.
"Pak Sam, tolong beritahu semua karyawan kalau Iksia ini adalah putri saya."
"Baik, Pak."
Kasian Pak Sam, dia pasti capek ngomong ke semua karyawan kalau aku ini anak Papa. Hmmm.
Ruang kerja yang sangat besar dan serba mewah. Rapi dan juga bersih.
"Betah lama-lama pun."
"Tetap saja lebih nyaman di rumah."
"Setidaknya Papa harus banyak bersyukur karena memiliki ruang kerja sebagus ini. Orang lain, sih, rumah pun jauh lebih kecil, Pah."
Rasa takjub pada semua benda yang ada di ruangan Papa Indra tidak kunjung usai. Menelisik satu per satu hingga aku puas.
"Pah, ini aku bawa sesuatu buat Papa." Aku teringat pada tujuanku datang ke kantor ini. Membawakan bekal makan siang untuk Papa Indra.
"Taraaaa ...."
"Wah, apa ini? Keliatannya enak banget. Papa jadi gak sabar mau makan."
Aku merasa senang dengan ucapan Papa. Tidak sia-sia usahaku dan chef membuat ini semua.
"Papa cobain, ya." Aku mengambil sendok dan menyuapi Papa.
"Enak," ucapnya dengan mulut penuh makanan.
"Permisi, Pak." Seseorang masuk ke dalam ruangan Papa. Namun, papa menggerakkan tangannya dan membuat orang itu kembali keluar ruangan.
"Siapa yang masak?"
"Aku dan chef. Aku gak tau Papa suka apa. Makanya minta tolong chef di rumah. Eh, tapi ini aku berperan banyak loh bikin ini, Pah. Serius."
Papa tersenyum sambil mengacak-acak rambutku dan berkata, "Papa tau, Sayang."
__ADS_1
Dengan penuh senyuman dan candaan, Papa Indra menghabiskan makanan yang aku bawa. Hati ini kembali menghangat. Usahaku dihargai.
"Nah, makanannya sudah habis. Papa boleh kembali kerja? Kasian orang tadi nungguin di depan."
"He-em."
"Mau tunggu di sini? Nanti Papa suruh orang buat nemenin."
Tok tok tok ....
Aku dan Papa Indra menoleh berbarengan. Pintu terbuka setelah Papa Indra mempersilakan orang itu masuk.
"Pah...."
"Eh, Arzhan. Tumben sekali mampir ke kantor Papa."
"Kebetulan lewat. Ada meeting dengan klien di cafe dekat sini."
Ih, kenapa harus ketemu di sini, sih?
"Kebetulan. Iksia, kamu di sini ditemani Kakak kamu. Papa harus segera pergi meeting lagi."
"Tapi, Pah ...."
"Udah, ya. Arzhan jaga adek kamu."
"Iya, Pah."
Mati! Berusaha menghindar kenapa sekarang malah berduaan lagi coba.
"Itu makanya gak usah ditekuk gitu. Jeleknya makin keliatan."
"Bodo."
"Eh, mau ke mana?" tanyanya saat aku bangun dari sofa dan pergi menjauh. Tidak aku jawab. Aku hanya duduk di kursi Papa Indra yang ternyata bisa berputar-putar.
"Iksia." Arzhan menghentikan putaran kursi tempat aku duduk. Kedua tangannya menopang tubuhnya dan mengunci tubuhku. Wajahnya semakin mendekat.
"Sekuat apapun kamu menghindar, kita akan tetap bertemu."
"Siapa yang menghindar? Enggak, kok."
Arzhan semakin mendekatkan wajahnya, bahkan aku bisa merasakan nafas dari hidungnya.
"Apa karena ciuman tadi?"
Sialan! kenapa harus diungkit lagi, sih! Panas, panas!
"Bu-bukan. Ciuman apa? Itu 'kan gak sengaja."
"Mau yang disengajanya?"
Mataku membelalak mendengar pertanyaan konyol dari Arzhan.
"Apa, sih, Kak. Gak ngerti!" Aku mendorong tubuhnya agar menjauh, dan aku bisa keluar dari kurungannya.
Arzhan memang berhasil aku dorong, aku juga bisa berdiri dan tidak lagi berada di kurungan badannya. Namun, kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan. Dia menarik tanganku dari belakang.
"Jangan bergerak sebentar saja," ucapnya sambil memeluk tubuhku dari belakang.
"Kak, aku udah bilang jangan buat aku gak nyaman."
"Tapi ini bukan rumah, Iksia."
"Kak."
"Aku suka sama kamu."
What! barusan dia bilang apa? Dia bilang suka sama aku? Gila!
__ADS_1