Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Ayah baby twins.


__ADS_3

Dihadapkan pada dua pilihan sulit. Semua memiliki konsekuensi yang sama. Sebab akibat yang setimpal.


Jika memilih untuk jujur pada orang tua, aku sudah yakin mereka pasti akan sedih dan kecewa, dan itu untuk yang kedua kalinya. Juga karena status Arzhan sudah memiliki istri, itu akan membuat orang tuaku semakin kesulitan. Ditambah Alea yang kini tengah hamil, terlepas itu anak Arzhan atau bukan, tapi kenyataannya yang orang tahu Arzhan adalah suami Alea.


Anak-anak akan bahagia, mereka akan mendapatkan status di keluarga, dan tidak akan terus disembunyikan.


Hanya saja ....


Entahlah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Kalau memang mau jujur, kenapa tidak aku lakukan sejak dulu.


Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Aku bahkan lupa mengabari si kembar.


Ponselku berdering, saat aku lihat, ternyata itu anak-anak. Mereka bilang ingin pergi ke mall siang nanti. Aku mengizinkan karena dia pergi dengan dua suster dan dua bodyguard.


Setelah pekerjaan di kantor selesai, aku segera menyusul anak-anak yang masih berada di mall. Ini akhir pekan, sudah waktunya aku tidur dengan mereka di rumah.


Aku begitu terburu-buru saat memasuki mall, rasa rindu pada mereka sudah tidak bisa dibendung lagi.


Namun, langkah kakiku terhenti seketika. Aku segera bersembunyi di balik tiang, dan mengintip mereka.


"Maaf, Om. Adikku tidak sengaja menumpahkan es krimnya."


Arzhan duduk, memegang bahu anakku dan menatapnya.


"Siapa namamu?" tanya Arzhan pada baby boy.


"Parwez Sakya Payada."


Arzhan terdiam. Matanya bahkan tidak berkedip sedikitpun.


"Dia adikku, namanya --"


"Baseera Chana Gauhar."


Sakya terpaku sesaat. Kemudian dia tersenyum senang.


"Siapa nama ibumu?"


Jantungku serasa mau copot karena takut dia akan memberitahu namaku pada Arzhan.


"Om tidak tahu? Sungguh?"


"Kak, kenapa dia tahu namaku?"


"Karena di yang memberikan nama itu pada kita."


Deg!


Jantungku benar-benar akan lepas dari tempatnya.


"Nyonya."


Jantungku benar-benar tidak berfungsi saat mendengar suster yang merawat Sakya dan Chana memanggilku. Di saat yang bersamaan, Alea datang.

__ADS_1


"Sayang, ayo. Aku udah ke toiletnya. Ini siapa? Lucu-lucu banget. Apa nanti anak kita akan seperti mereka?"


Arzhan hanya diam menatapku.


"Apa wanita ini istri Om? She is pregnant?" tanya Sakya tidak percaya. Ada kecemasan dan ketakutan dari wajahnya. Air mataku menetes.


"Iya, anak manis. Tante istrinya om ganteng ini. Tante sedang mengandung anaknya. Mau pegang?" ucap Alea.


Sakya menggelengkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca. Sementara Chana hanya diam tidak mengerti apa yang terjadi pada kakaknya.


Tidak peduli akan apa pun, aku bergegas menghampiri Sakya. Aku ingin memeluknya dengan erat. Ingin menjadi tempat untuknya bersandar dan berlindung dari rasa sedih dan sakit yang dia terima.


Sakya akhirnya menangis dalam pelukanku setelah dia menahannya dengan sekuat tenaga.


"Iksia? Kamu kenal mereka?"


Tidak perduli dengan pertanyaan Alea, aku terus mendekap Sakya yang merasa sakit menerima kenyataan bahwa ayahnya memiliki wanita lain yang tengah hamil.


"Mom, kenapa kakak menangis?" tanya Chana. Aku menoleh lalu memeluknya juga yang ikut sedih melihat Sakya menangis.


"Mom?" Alea histeris.


"Ayo." Aku menggendong Sakya dan Chana sekaligus dengan tenaga yang aku miliki. Ke dua bodyguard langsung mengambil alih, dan kami pergi tanpa kata meninggalkan Arzhan dan Alea.


Di dalam mobil, Sakya masih terus menangis sementara Chana berusaha menenangkan. Dia memeluk kakaknya sambil terus mengoceh hal-hal lucu yang mereka lalui bersama.


"Kenapa daddy punya bayi baru? Kenapa dia punya istri lagi? Lalu siapa yang akan sayang padaku, Mom?"


"Pria tadi adalah daddy, Na. He is our father, Chana. He is my father." Sakya mencoba menjelaskan sambil menangis.


"Impossible. He has a wife with him. She is pregnant. You see it, right?"


Tangis Sakya semakin pecah. Anak sekecil ini tidak akan bisa mengerti keadaan orang dewasa, bagaimana bisa aku menjelaskannya nanti kalau ayahnya adalah kakak tiri ibunya. Apa yang harus aku katakan tentang kelahirannya yang di luar pernikahan.


Mungkin sudah waktunya Sakya dan Chana bertemu keluarga besarku. Aku akan bawa dia ke rumah Papa sebelum Alea mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya.


Malam ini, saat kelurgaku sedang makan malam. Aku datang dengan kedua anakku. Papa yang memang sayang pada mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat bertemu dengan anak-anakku.


Di saat yang bersamaan, Alea dan Arzhan datang.


"Dia, mereka adalah anak-anak--"


Aku mencengkram tangannya dengan keras agar dia diam.


"Omah, opah." Chana menyapa.


"Kalian sudah ...." Alea tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kak Fateeh, Kak Arzhan, Alea, kenalkan ... mereka adalah anak-anakku."


Fateeh yang sedang duduk langsung berdiri. Dia terlihat syok. Sementara Mama dan Papa hanya menunduk.


"Alasan aku menghilang waktu itu adalah karena aku hamil. Alasan Mama marah dan sampai keningku robek karena Mama marah aku hamil. Itulah kenyataannya."

__ADS_1


"Astaga ... jadi, kamu sudah memiliki anak, Iksia?" tanya Alea tidak percaya.


"Lalu siapa ayahnya, Iksia? Apa dia pergi dan tidak bertanggung jawab setelah kamu hamil? Siapa laki-laki kurang ajar itu? Kenap dia meninggalkan wanita yang sedang mengandung anaknya?" Cerocos Alea panjang lebar.


"Aku."


"Apa? Maksudnya... kamu ... kamu yang ...." Alea semakin terkejut mendengar pengakuan Arzhan.


Fateeh sempoyongan karena syok berat. Sementara papa hanya diam dengan wajahnya yang memerah. Dia terlihat murka.


"Tolong katakan kalau ini hanya sebuah candaan. Kalian sedang berbohong kan?" tanya Mama sambil gemetar.


"Aku dan Iksia saling mencintai sejak dulu. Aku mencintai dia bahkan sebelum kalian menikah."


"Arzhan!" Papa berteriak sambil mengepalkan tangan.


"Itu kenyataannya, Pah. Aku mencintai Iksia, dan Iksia pun sama. Kami minta maaf karena telah melakukan kesalahan waktu itu. Hingga Iksia hamil."


Mama merintih. Dia menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat. Tangisannya pecah.


"Kurang ajar!" Papa menggebrak meja.


"Maaf, Pah."


Mama mendekat lalu memukulku membabi-buta. Mengeluarkan kata-kata penyesalan karena telah membawaku, kami ke dalam rumah ini.


"Jika tahu akan seperti ini, mama lebih memilih kamu disiksa ayah kamu!"


Sakya dan Chana yang menangis histeris melihatku dipukul, langsung digendong Fateeh untuk menjauh.


"Kenapa kamu lakukan ini?" Mama masih terus memukulku.


"Hentikan, Ma. Stop!" Arzhan memelukku dan melindungiku dari tangan Mama.


"Kalian kenapa ...." Mama menangis sambil duduk lemas di lantai.


Arzhan memeriksa keadaanku.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas.


Aku mengangguk pelan.


"Mama tidak sanggup menahan semua ini, Iksia. Kenapa harus Arzhan! Kenapa harus dengan kakakmu sendiri?"


"Ma, jangan salahkan Iksia. Aku yang salah, Ma."


"Tentu saja! Kamu dan Iksia salah! Kain membalas kebaikan yang kami berikan dengan sebuah rasa sakit!"


"Ma ...."


"Jangan mendekat. Menjauhlah!" Mama berteriak histeris sebelum dia terjatuh tidak sadarkan diri.


"Mama!"

__ADS_1


__ADS_2