
Kenangan berputar kembali ke masa lalu. Saat itu, ayah yang gemar mabuk dan berjudi terus saja menjadikan Mama sebagai sapi perah. Dipaksa kerja hanya demi kesenangan dia sendiri.
Pernah saat malam dengan hujan begitu deras, ayah datang bersama seorang wanita. Mereka sama-sama mabuk. Istri mana yang kuat melihat semua itu, termasuk Mama. Saat itu dengan marahnya Mama mengusir wanita yang datang bersama ayah. Namun, apa yang tejadi membuat aku begitu takut. Ayah marah pada Mama. Memukul dan menginjak-injaknya seperti kain keset.
Aku tidak terima ibuku diperlukan kasar, membawa kayu lalu memukul tubuh ayah. ujungnya aku berada di dalam kardus dengan mulut dilakban, kaki tanganku diikat. Sementara Mama diusir keluar oleh ayah. Ayah tidak peduli di kiar hujan dan banyak petir.
Aku merasa sesak. Aku ketakutan. Membayangkan bagaimana Mama di luar saat hujan dan malam hari, membuat aku semakin sesak hingga tidak sadarkan diri.
Sampai saat ini aku sangat takut akan kegelapan dan ruangan yang sempit. Aku takut melihat lakban dan tali.
Namun, kini Mama sendirian di lubang sempit itu. Terbungkus kain putih dan berbaring dengan bantal yang terbuat dari tanah liat yang dibulatkan.
Mereka menguburnya dengan tanah yang mereka injak-injak, hingga membentuk sebuah gundukan kecil memanjang.
kami menangis sambil menaburkan bunga di atasnya. Para sodara dan kerabat jauh pun datang untuk mengantar mama ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Setelah selesai, dan semua teman atau rekan kerja Papa pulang, kami keluarga besar masih ada berkumpul di sini. Papa ingin memberikan pengumuman. Entah apa itu.
"Sebelumnya saya hendak menyampaikan rasa terimakasih kepada kalian yang sudah rela datang mengantar istri saya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saya di sini atas nama istri saya akan mengumumkan sesuatu, mungkin akan sedikit mengejutkan tapi inilah amanah terakhir dari mendiang dan akan saya kabulkan apa pun resikonya."
Kami semua terdiam sambil menyeka sisa air mata.
"Istri saya menginginkan agar putrinya yang berarti putri saya juga, menikah dengan anak sulung saya yaitu Arzhan."
Deg!
Riuh. Semua orang saking berbicara dengan pendapat mereka masing-masing. Sementara aku hanya bisa diam tidak percaya dengan apa yang Papa katakan.
"Kami tidak bisa mempercayakan putri kami kepada laki-laki lain. Itulah kenapa istri saya dan saya ingin dia dijaga oleh Arzhan."
__ADS_1
"Mungkin istri kamu ingin anaknya mendapatkan warisan yang lebih besar. Makanya dia menikahkan putrinya. Menjamin agar dia tidak kekurangan dan kembali menjadi miskin."
Dengan senyuman yang tenang Papa menjawab, "Tidak menikah dengan Arzhan pun, Iksia kan mewarisi perusahaan saya. Dia sangat kompeten dan bisa dipercaya menjalankan perusahaan. Lihatlah Arzhan, dia lebih suka seni. Sementara Fateeh dia lebih suka medis. Iksia, dia berhasil menaikan keuntungan perusahaan padahal baru bekerja saat itu."
"Indra, kamu lupa kalau dia hanya anak tiri. Masih banyak keponakan kamu yang lebih baik dari Iksia. Anakku lulusan luar negeri, kenapa kamu malah mempercayakan perusahaan pada wanita yang bahkan tidak pernah kuliah."
Dia kakak pertama Papa. Namanya Rastuti.
"Maksud kakak Adam? Dia memang keponakanku, tapi dia memiliki ayah. Jadi, kenapa harus aku yang bertanggung jawab atasnya?"
"Kurang ajar. Demi anak tiri kamu, kamu mengabaikan kakak? Ada apa dengan kamu sekarang, Indra?"
"Tiri atau bukan, dia tetap anakku. Sementara anak-anak kakak adalah anak ayahnya. Jelas, kewajibanku berbeda. Lagi pula, saat ini aku tidak sedang berdiskusi tapi sedang memberikan pengumuman."
Orang itu pergi dengan komat-kamit, diikuti tiga orang anaknya dan suaminya.
"Aku bisa mengerti, aku juga tidak peduli masalah warisan dan perusahaan. Tapi kenapa Kakak menikahkan Arzhan pada Iksia? Apa kata orang nanti?" tanya Paman Radit, adik bungsu Papa.
"Mereka saling mencintai jauh sebelum aku menikah dengan ibunya Iksia."
"Bagaimana dengan Alea? Apa dia setuju suaminya menikah lagi?"
"Saya gak apa-apa, Paman. Ini wasiat terakhir dari mama. Saya akan mengikuti dengan patuh."
Dari raut wajah mereka, terselip rasa tidak setuju atas apa yang Papa katakan. Hanya saja mereka tidak berani mengungkapkannya. Mereka membubarkan diri dengan berbagai ekspresi. Ada yang melirikku dengan sinis, ada yang menggerutu, dan ada yang membuat nafas berat.
"Pah, ada apa? Kenapa mengumumkan ini di sini? Kenapa gak bilang dulu sebelumnya?"
"Kapan papa harus bilang, papa tidak punya waktu karena sedih kehilangan Mama kalian. Papa sengaja mengumumkannya di depan makan mama agar Mama bisa melihat dan merasa tenang. Keinginannya sudah terpenuhi dan akan papa lindungi Iksia dengan cara apa pun."
__ADS_1
Kesedihanku bertambah, air mata yang sudah mulai mengering kini kembali membasahi pipi.
Setelah empat puluh hari kepergian mama, aku dan Arzhan menikah. Dilakukan secara sederhana dan hanya dihadiri kerabat dan teman dekat.
Sesekali aku melirik Alea, aku takut dia terakit hatinya. Meski tidak akan tersakiti karena cinta, aku takut harga dirinya yang tersakiti. Namun, mengejutkannya adalah dia berani membawa ayah biologis anaknya ke acara ini.
Mereka terlihat biasa aja, mungkin karena tidak ingin dilihat banyak orang. Hanya saja, saat semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Alea dan kekasihnya diam-diam pergi. Mereka kembali setelah lebih dari satu jam. Riasan Alea pun berubah dan tidak serapi sebelumnya.
"Jangan hiraukan. Fokus saja pada pernikahan kita. Setelah anak Alea lahir, kamu akan menjadi satu-satunya istriku."
Aku menoleh pada Arzhan. Dia tersenyum manis. Senyuman yang dulu sering aku lihat dan yang tidak pernah aku lihat setelah kembali dari bersembunyi waktu itu.
Aku mendapatkan Arzhan yang dulu, kehangatan, senyumannya, kelembutannya, dan semua yang selalu aku rindukan kini aku dapatkan kembali.
Dunia ini memang penuh dengan liku-liku. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Kadang, sesuatu kita bisa dapatkan setelah kehilangan hal lainnya.
Aku masih ingat bagaimana saat terjadi di rumah sakit waktu itu.
"Mama tidak pernah membenci kamu, Nak. Kecewa yang Mama terima tidak sebanding dengan cinta yang Mama miliki untuk kamu. Nak, jika sesuatu yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan itu artinya hal lain akan pergi meninggalkan kamu. Tidak perlu merasa bersalah, kamu harus bahagia apa pun yang terjadi nantinya. Jangan terus merasa bahwa dirimu kotor, semua manusia pernah melakukan dosa, tapi bukan itu poin utamanya. Yang harus kita lakukan hanya memperbaiki diri. Diampuni atau tidak, bukan urusan kita. Yang penting kita sudah berusaha. Mama berharap, kamu akan menjadi penolong mama di akhirat kelak."
Kini, aku sedang berusaha menjadi insan yang lebih baik. Semoga aku bisa bertahan dan tidak hanya sesaat karena ingin menjalani wasiat Mama. Aamiin.
"Sayang ...." Arzhan memelukku dari belakang saat aku berdiri di depan cermin besar.
"Apa aku terlihat cantik?"
"Hmm, tentu saja. Tanpa atau dengan pakai hijab, bagiku tidak ada wanita lain yang lebih cantik dari kamu."
Aku tersenyum mendengar gombalan dari suamiku.
__ADS_1