
"Ini produk baru kita."
Ahtar menunjukkan bentuk Snack dan juga kemasannya.
"Setelah ini, kita akan bertemu dengan pihak televisi untuk membicarakan kontrak iklan. Juga akan bertemu dengan model untuk iklan kita nanti."
"Bukannya kalau model itu biayanya mahal? Kenapa gak coba pakai orang-orang biasa aja. Maksudku, bisakah kita membuat iklan yang lebih real?"
"Contohnya?"
"Kita menyiapkan tester yang akan diberikan kepada masyarakat, kita minta pendapat mereka lalu kita jadikan itu sebagai iklan."
"Menarik, hanya saja itu akan sangat membutuhkan waktu."
"Setidaknya akan menghemat biaya. Untuk apa kita digaji kalau hanya ingin berleha-leha dan tidak mau bekerja lebih keras lagi?"
Ahtar terdiam.
"Siapkan saja tester dan tim yang akan terjun ke lapangan. Aku akan memimpin."
Ahtar menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Meeting kita hari ini cukup sekian, nanti akan ada pembahasan baru lagi. Terimakasih."
Orang terlalu nyaman bekerja di belakang meja. Memakai pakaian rapi, ruangan ber-AC, dan hanya mengandalkan otak serta mulut yang pandai merangkai kata. Mereka tidak pernah tau bagaimana dunia nyata di luar tembok pencakar langit ini.
Tidak semua, tapi hanya mereka yang punya jabatan tinggi. Sementara yang di bawah?
Aku sebagai anak Papa, ingin memberikan contoh bahwa sebagian pemimpin pun harus tau bagaimana anak buahnya bekerja. Bagaimana mereka menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Berhadapan dengan manusia, bukan alat seperti komputer dan yang lainnya.
Pengajuanku ternyata ditolak, alasannya iklan itu tidak akan menarik karena tidak ada daya jual dari visual model iklannya.
Aku tidak bisa memaksa karena aku hanyalah bawahan di tim ini. Mengeluarkan pendapat dan ide, tapi hanya dipikirkan semata.
Tidak ada jalan lain, aku hanya bisa menggunakan keistimewaanku sebagai anak pemilik perusahaan.
"Ayolah, Pah. Papa hanya harus membagi produksi menjadi dua. Biarkan mereka dengan konspnya, dan aku dengan konsepku sendiri."
"Dalam hal pekerjaan, Papa tidak bisa mengistimewakan kamu. Banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan, Iksia."
"Beri aku kesempatan sekali saja. Aku mohon."
Orang tua akan selalu mengalah pada anak-anak mereka.
"Jika kamu berhasil, keuntungan yang didapat semuanya milikmu," ucap Papa. Aku tahu, dia hanya memberiku semangat. Dia juga tidak ingin aku malu dan kalah dalam proyek ini.
Tim dibuat, hanya saja tidak terlalu banyak yang mau ikut bergabung denganku. Hanya mereka yang memang baik dan mungkin lebih menyukai tantangan baru.
Dalam hati aku berjanji, jika aku berhasil maka mereka yang mendukungku saat ini akan aku bagi rata keuntungannya.
__ADS_1
Hari ini setelah menyiapkan segala sesuatunya, aku lekas pulang ke rumah. Aku harus tidur lebih cepat karena besok adalah hari yang sibuk untukku.
"Selama malam, Non." Beberapa pelayan menyapa. Aku membalas mereka dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Jujur, aku sangat lelah saat ini.
"Non mau dibuatkan apa?" tanya Rere.
"Tidak perlu, kamu tidur saja. Suruh yang lain juga istirahat. Ini sudah malam, biar keamanan saja yang berjaga."
"Iya, Non."
Aku menaiki tinggi dengan sedikit berlari, berharap akan segera sampai ke kamar. Membersihkan diri lalu istirahat.
Setelah semuanya selesai. Aku segera membaringkan tubuh dan pergi tidur.
Dengan malas aku mengambil ponsel, mata masih mengantuk tapi aku merasa ada pergerakan di luar sana.
Sudah hampir tengah malam ternyata.
"Jangan makan ini!" Aku merampas mie instan yang baru saja akan Arzhan makan. Bunyi suara itu ternyata dari Arzhan yang sedang masak mie di dapur mini dekat kamarku.
"Berikan."
"Aku akan masak. Tunggu sebentar."
"Tidak usah, aku sudah kelewat lapar."
"Aku ingin makan sekarang. Kembalikan mie nya."
Aku melempar mie itu ke tong sampah, dan turun ke bawah menuju dapur utama. Banyak makanan yang bisa dimasak dengan cepat.
Beruntung chef selalu menyediakan bahan yang tinggal dipakai. Bawah merah, bawang putih, bawang bombai, dan semuanya sudah tersedia di dalam wadah tertutup dalam keadaan sudah diiris. Ada juga bumbu halus yang sudah siap pakai.
Aku mengiris brokoli, wortel, dan pokcoy. Masak capai tercepat. Hanya dengn bumbu irisan yang ditumis, lalu pakai penyedap dan sedikit gula.
Sebagai pendampingnya aku membuat beef teriyaki yang tidak kalah mudah dan cepat.
Done!
Setelah selesai aku membawanya ke atas. Aku pikir Arzhan sudah pergi, ternyata dia masih duduk di tempat yang sama.
"Ini. Gak lama 'kan? Lain kali kalau pulang malam, kasih tau. Kalau lapar minta aku buat masak. Maaf, tadi semua pelayan aku minta untuk istirahat soalnya."
"Bagaimana aku memberitahumu? Nomor ponsel saja aku tidak punya."
Ah, benar. Kami belum saling menukar nomor ponsel.
"Aku lupa nomor kakak. Berapa?"
__ADS_1
Arzhan memberikan ponselnya, "tulis nomor kamu di situ."
"Ini pake password, Kak."
"Password nya masih sama."
Hah? serius? Dia masih memakai tanggal lahirku sebagai password ponselnya.
"Udah."
Aku mengambil piring dan alat makan lainnya untuk Arzhan. Dia mulai memakan masakan yang aku buat suap demi suap. Saat dia makan, aku hanya bisa mantapnya secara diam-diam. Takut dia merasa tidak nyaman.
Dia terlihat berbeda dengan yang dulu. Aura kebahagiaan itu tidak aku dapatkan lagi. Semangatnya hilang entah ke mana. Arzhan seperti boneka hidup.
"Jika tidak bahagia, kenapa harus dilanjutkan? Putuskan hubungan pernikahan kalian."
"Oooh, jadi seperti ini dukungan dari sodara tiri kamu? Enteng banget nyuruh kita cerai. Siapa dia?"
Aku mengigit bibir bawahku sambil memejamkan mata.
Kenapa dia tiba-tiba muncul, sih?
Arzhan menyudahi makan malamnya.
"Iksia, tolong, ya. Kamu jangan beri doktrin buruk pada Arzhan. Harusnya keluarga itu memberikan nasihat atau wejangan supaya kehidupan rumah tangga kami langgeng."
"Jika wanita itu bukan kamu, aku sudah melakukan itu sejak lama."
"Lalu kenapa kalau itu aku?" Nada suaranya mulai tinggi.
"Pelankan suara kamu. Mama dan Papa bisa bangun."
"Biarin aja. Biarkan mereka tahu kelakuan anak tirinya yang tidak tahu malu ini. Kenapa? Kamu ingin kami cerai?"
"Alea, kamu sendiri sudah merasa jadi istri yang baik belum? Lihatlah suami kamu, dia makan mie padahal baru sembuh dari sakit. Lalu, ke mana saja kamu saat dia dirawat di rumah sakit?"
Raut wajah Alea berubah.
"Cukup. Aku ingin istirahat." Arzhan pergi meninggalkan kami berdua.
"Lihat, bahkan kamu tidak memberikan dia kesempatan untuk menghabiskan makanannya."
"Bye, Iksia. Kami akan bersenang-senang di kamar malam ini. Paling tidak, hasrat yang belum terlampiaskan di mobil waktu itu, bisa aku lakukan bersama suamiku tersayang."
"Apa?" Aku mengepalkan tangan.
Dasar wanita ******! Awas saja nanti.
__ADS_1