
"Ini mainan apa namanya, Mom?" tanya Sakya.
"Ini congklak, Nak. Kita ambil batu dari sini, terus masukin satu-satu ke setiap lubangnya. Jika Bayu terakhir berhenti di sini yang ada batunya kita ambil lagi, tapi kalau batu terkahir berhenti di lubang yang kosong, itu artinya kita berhenti, dan biarkan lawan kita yang main."
Sakya mendengarkan dengan seksama, lalu setelah itu dia bermain bersama temannya. Sementara Chana asik bermain lompat tali dengan anak wanita yang lain.
Permainan tradisional memang wajib diketahui anak-anak sekarang, agar mereka tidak hanya tau mainan modern terutama gajet. Sepertinya anak-anak di sekolah Sakya pun begitu menikmati permainan ini.
Mereka ada yang bermain kelereng, engklek, tumpuk sandal, ular tangga, dan ayam musang.
"Oke kids, setelah puas bermain, nanti kita akan berlomba memakai bakiak, ya. Nanti ajak orang tua masing-masing. Nanti akan ada hadiah untuk juara pertama, kedua, dan ketiga. Sekarang silakan bermain sepuasnya. Lima belas menit lagi ya, kids."
Anak-anak dan para orang tua bersorak-sorai.
"Mom, mana Daddy? Kenapa belum datang?" tanya Chana. Dia menarik-narik ujung jilbabku. Sesekali dia melirik teman-temannya yang sedang bercanda bersama ayah mereka. Nampaknya hanya aku yang tidak didamping suami di sini.
"Nanti Om Fateeh yang akan datang, Daddy sedang sibuk, Nak."
Chana terlihat kecewa, meski begitu dia tidak marah atau menangis. Mungkin hal seperti ini sudah biasa kami lewati. Bukankah sejak dulu kami memang hidup tanpa siapa pun.
"Chana, ada apa?" Sakya menghampiri lalu memeriksa wajah adiknya yang sendu.
"Daddy gak datang."
"Ada Kakak. Kamu tenang saja oke. Kita pasti menang. Believe me!"
Bahwa kita harus bersyukur di setiap cobaan dan kesedihan adalah benar adanya. Kecewa, sudah pasti. Sedih pun aku rasakan karena Arzhan tidak datang. Namun, Allah memberikan Sakya padaku dengan kedewasaan dan kebaikannya adalah obat dari segala luka yang ada.
Ponsel terus berdering sejak tadi. Beberapa panggilan dan chat masuk entah berapa banyak.
Fateeh dan Arzhan berganti mencoba menghubungi, aku abaikan.
Chana tidur, pun dengan Sakya. Mereka kelelahan setelah berusaha keras mendapatkan piala yang kini ikut pulang bersama kami.
Sakya menepati janjinya untuk memberikan kemenangan pada Chana.
"Memiliki anak hebat seperti Den Sakya adalah dambaan semua orang tua, Non."
Ucapan Pak Raga benar. Terlepas bagaimana cara dia hadir di dunia ini, tetap saja Sakya dan Chana adalah anugerah untukku.
Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Arzhan terparkir. Ada sedikit rasa lega dan bahagia datang bersama rasa kesal dalam hati.
Anak-anak turun dari mobil dengan mata yang masih ngantuk, akhirnya aku menggendong Chana dan Sakya digendong Pak Raga.
Aku akan marah pada Arzhan. Bagaimana pun juga dia membuat anak-anak kecewa. Meski begitu aku rindu dan ingin segera memeluknya.
Sungguh terkejut bukan main saat aku melihat Alea dengan tas belanjaannya. Sangat banyak. Dia juga di temani dua orang pria yang mungkin adalah bodyguard.
__ADS_1
Bodyguard? sejak kapan dia memakai bodyguard?
Alea sepertinya ingin bicara namun aku memberikan isyarat agar dia diam. Aku tidak ingin anak-anak yang masih tertidur, Bagun gara-gara suaranya.
Setelah menidurkan mereka, aku menuju kamarku di atas. Kamar Arzhan. Sementara anak-anak tidur di kamarku yang sudah dirubah menjadi kamar mereka.
"Sayang." Arzhan langsung menghampiri begitu aku masuk kamar. Aku menghindar saat dia akan memeluk.
"Aku minta maaf."
"Apa kalian pergi berbelanja?"
Arzhan diam.
"Aku bahkan tidak berani menghubungi kamu saat sedang bersama Alea, lalu apa sekarang? Dia bahkan mengambil satu hari waktuku. Belanja? Bagaimana wanita hamil yang sedang sakit bisa pergi belanja."
"Sayang dengarkan dulu."
"Kamu tahu betapa kecewanya Chana? Kamu tidak akan tahu bagaimana mata dia saat melihat teman-temannya sedang bersama ayah mereka."
"Aku tidak bisa apa-apa, Iksia. Ayah Alea memberikan kami bodyguard. Saat Alea bilang sakit, aku dipaksa untuk menemaninya."
Sejak awal orang tua Alea memang menentang keras pernikahan aku dan Arzhan. Sekarang dia pasti ingin suami anaknya tetap mendampingi Alea. Apa lagi Alea sebentar lagi melahirkan.
"Baiklah. Aku dan anak-anak sudah terbiasa hidup tanpa keluarga. Kami manusia mandiri yang bisa bertahan sendiri, tidak seperti tuan putri Alea yang manja. Kamu mau di sana sepanjang waktu pun aku tidak akan peduli."
"Sayang."
"Kamu mau Arzhan terus bersama kamu? Bawa dia pergi."
"Ikisa, ada apa?" tanya Alea. Sementara bodyguard nya seperti bersiap siaga melindunginya.
Pak Raga pun melakukan hal yang sama dan diikuti dua bodyguard anak-anak yang siaga melindungiku.
"Ini rumahku. Apa kalian tidak malu melakukan ini? Dengan hormat aku meminta kalian pergi dari sini."
"Kamu mengusirku?" tanya Alea.
"Jangan pernah menampakkan diri di hadapan anak-anakku, Alea. Urusanmu hanya dengan Arzhan. Kamu tidak punya hak di rumah ini. Silakan pergi."
"Ikisa, apa kamu marah karena aku menyita waktu Arzhan sehari doang?"
"Aku bahkan tidak menghubungi dia meski ingin!" Aku berteriak histeris.
"Kamu ingin Arzhan selalu bersama kamu, kan? Bawa! bawa dia pergi bersama kamu."
Aku mendorong tubuh Arzhan ke hadapan Alea.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun lagi, aku kembali ke kamar.
Aku menangis di dalam kamar, duduk di depan cermin rias sambil terus beristighfar.
Aku tahu kalau Alea juga istrinya, sejak awal aku tahu dia istrinya, tapi....
"Astagfirullah ya Allah ... maafkan hamba."
Cukup lama aku di dalam kamar dengan berharap Arzhan menyusul, namun dia tidak juga datang.
"Apa dia benar-benar ikut bersama Alea? Keterlaluan!"
Mengambil air wudhu dan segera menunaikan salat begitu azan berkumandang. Aku pun segera mandi dan bersiap untuk menyiapkan makan malam untuk anak-anak.
"Non, mau masak apa sekarang?" tanya chef.
"Sudah tanya suster belum chef anak-anak minta makan apa?"
"Den Sakya dan Non Chana pergi bersama Tuan Arzhan, Non."
"Apa?" tanyaku kaget.
"Mereka pergi bertiga, Non." Pak Raga menjelaskan. Dia sepertinya tahu kalau aku takut dia pergi bersama Alea.
Aku menghela nafas lega.
"Kalau begitu masak untuk orang rumah saja chef. Saya makan buah saja."
"Baik, Non."
Aku duduk di ruang tamu, menunggu anak-anak dan Arzhan pulang.
Pukul 21.30 mereka datang.
"Ini jam berapa, Mas? Kenapa malem banget perginya?"
"Mom, jangan marah. Aku yang gak mau pulang. Soalnya Daddy kan jarang pergi barengan kita," ucap Chana.
Benar, kami bahkan belum pernah pergi liburan bersama.
"Aku sudah memesan tiket kereta. Kita akan pergi ke batu Malang."
"Untuk kapan?"
"Besok, Mom. Daddy ngajak kita jalan-jalan besok. Kami izin dari sekolah. Sehari doang izinnya. Sabtu kan memang libur." Sakya menjelaskan dengan penuh kegembiraan.
"Tapi ada syaratnya, Mas."
__ADS_1
"Apa?"