
"Re, siapkan sarapan untukku. Aku mau ke kantor aja."
"Iya, Non."
"Tumben, kenapa Lu? Sibuk sekarang? Pake acara bawa bekel segala. Sarapan aja udah di sini."
"Takut terkontaminasi hal buruk, sementara hari ini aku harus mengerjakan projek pertama. Jadi sejak pagi harus mendapatkan aura positif dari orang-orang sekitar, terutama keluarga inti."
"Ngomong apaan, sih, Lu. Gak jelas banget."
Alea terlihat santai menikmati sarapannya meski aku menyindirnya barusan.
"Re, bekal makan siang kakak yang aku masak tadi udah disiapkan 'kan?"
"Udah, Non."
"Kak, nanti bekalnya dibawa ya. Sepertinya aku memang harus menjalani peran dobel. Sebagai adik juga sebagai istri yang taat."
Mama dan Papa hanya diam.
"Aku berangkat duluan, ya, semuanya."
"Kenapa gak kamu nikahin aja sekalian, kalian tidak ada ikatan darah bukan?" Tanya Alea menyindir saat aku berjalan di dekatnya.
"Kalau Papa dan Mama merestui, akan aku lakukan. Setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang memelihara benalu di rumah ini."
Alea menyimpan sendoknya dengan kasar hingga menimbulkan suara. Puas rasanya hati ini.
Aku terkejut saat Alea menghalangi langkahku. Dia terlihat marah. Wajah putihnya memerah dengan kepalan tangan yang sepertinya siap menghantam wajahku.
Benar saja. Alea melayangkan tangannya ke arahku. Namun, seseorang menahannya.
"Kakak?"
"Kamu sentuh dia sedikit saja, akan aku hancurkan seluruh tubuhmu dari ujung rambut hingga kaki. Mengerti!"
Alea ketakutan saat Fateeh membentaknya tepat di telinga dia.
"Cepat berangkat. Tunggu, ajak Pak Raga juga."
"Ngapain?"
"Mulai hari ini dia yang akan membantu kamu. Sekaligus menjaga kamu."
Pak Raga adalah asisten pribadi Fateeh. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan besar. Tidak hanya itu, Pak Raga juga sangat pintar dalam hal apa pun.
__ADS_1
Sesayang itukah Fateeh padaku.
Mulai saat ini, ke mana pun aku pergi, Pak Raga akan mengikuti. Termasuk saat aku promosi makanan terbaru perusahaan.
Aku dan tim berjalan menawarkan pada orang-orang untuk mencicipi Snack kami, meminta mereka memberikan komentar tentang rasanya.
Dari beberapa yang kami tawari, mereka bilang, enak. Hanya saja jika dijual dengan harga yang mahal, mereka tidak akan bisa membelinya apa lagi jika dijual di swalayan besar.
"Kami jarang ke supermarket, bisa dihitung pake jari, Mba."
Saat kami sedang istirahat, ada dua orang anak kecil yang entah dia pengemis sepertinya. Mereka berdua melihat bungkusan Snack yang ada di kardus.
"Mau?" tanyaku mendekat. Pak Raga ikut mendekat. Aku melirik padanya karena anak-anak itu seperti ketakutan. Pak Raga mundur beberapa langkah.
"Ini, kakak kasih gratis buat kalian."
Mereka saling melirik dengan senyuman malu-malu. Aku meraih tangannya, lalu menyimpan snack itu di atas telapak tangan mereka.
Anak-anak itu berlari dengan senyum gembira. Tidak lama kemudian ada anak-anak SD lewat. Aku memanggil mereka untuk mencobanya.
"Ada yang kecil gak, Kak? biar kami bisa beli."
"Yang kecil?"
Mereka menganggukkan sambil terus mengunyah.
Inspirasi memang tidak harus keluar dari kepala mereka yang memiliki IQ tinggi. Hal-hal kecil dari berbagai macam orang pun bis kita jadikan inspirasi.
Kini, aku sudah mendapatkan ide untuk produksiku sediri.
"Pak Raga mau makan? Aku traktir. Ayo, semuanya kita makan. Hari ini aku yang bayar."
"Kita belum selesai, Bu."
"Sudah. Aku sudah selesai. Sekarang kita istirahat dan makan enak. Ayo."
Aku berjalan loncat-loncat, seperti anak kecil yang sedang berbahagia. Diikut Pak Raga dan timku.
"Terimakasih, Bu."
"Kami pulang duluan. Ibu hati-hati di jalan."
"Sampai ketemu besok."
__ADS_1
Kami berpamitan setelah selesai makan. Kini, selain Pak Raga, ada sopir yang mengantarkan aku ke manapun aku pergi.
Nikmati saja, ini bukti kalau Fateeh dan Papa sayang padaku. Meski sebenarnya aku merasa tidak nyaman karena diikuti mereka berdua. Itu artinya mereka akan tahu apa saja yang aku lakukan setiap hari setiap waktu. Khususnya Pak Raga yang aku ke kantor pun dia selalu ikut, berdiri di belakang kursiku.
Yaaa, setidaknya tidak ada lagi yang berani macam-macam padaku termasuk Tania. Saat orang lain segan karena tahu aku anak Papa, dia tidak. Dia malah sering membully karena aku dituduh kerja hanya karena anak pemilik perusahaan, bukan karena kemampuan.
Setelah Meeting hasil lapangan kemarin, Papa dan anggota direksi lainnya menyetujui kalau aku akan produksi makanan yang bisa dijangkau anak sekolah.
Kami hanya harus menunggu hasil dari pihak penjualan. Akan seperti apa nantinya. Semoga saja laku dipasaran.
Satu bulan kemudian, Papa memanggilku ke ruangannya. Memberikan laporan tentang hasil penjualan produk yang aku kerjakan.
"Ini serius?" tanyaku tidak percaya.
"Selamat, Nak. Kamu berhasil."
Ingin berteriak tapi entah kenapa malah air mata yang keluar. Papa memelukku erat penuh kebanggaan.
"Sebenarnya saya memiliki janji dalam hati sendiri. Bahwa keuntungan di bulan pertama akan saya bagi rata untuk tim kita?"
Reaksi mereka sama. Menatap tidak percaya dengan mulut menganga. Untuk sesaat mereka terdiam, lalu masing-masing memiliki raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang menangis haru, ada juga yang tersenyum bahagia.
"Terimakasih, Bu." seseorang menghampiri dan memelukku, diikuti yang lainnya.
Tim kami ada 10 orang, masing-masing aku beri sekitar 70 juta rupiah. Belum termasuk aku dan Pak Raga. Dia juga aku beri bonus, tentunya nominal yang dia dapat tidak sama dengan yang lainnya karena Pak Raga tidak masuk sejak awal.
Keberhasilan dan bagi hasil yang aku berikan pada tim, membuat yang lainnya ingin kita bergabung. Namun, aku rasa itu tidak perlu. Mereka yang hanya ingin ikut bergabung saat kami berhasil, bukanlah orang yang benar-benar tulus mendukung projek yang aku tangani.
Tidak ingin ikut susah, tapi ingin menikmati. Vangke sekali!
Akhirnya aku resmi menjadi manager baru dengan usahaku sendiri, bukan karena aku anak Papa. Ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri di dalam hati.
Kebahagiaan itu dirasakan juga oleh anggota keluarga. Kami merayakan kenaikan jabatan degan makan malam bersama seluruh anggota keluarga.
Kami sangat berbahagia. Makan dengan selingan canda tawa.
Andai saja anak-anak bisa ikut bergabung juga. Kebahagiaan ini pasti akan sempurna.
"Sebenarnya aku juga ingin memberikan berita bahagia pada kalian."
Kami semua menatap Alea. Dia mengambil sesuatu dari tas nya, lalu menyimpannya di atas meja. Kami saling menatap.
Pak Raga mengambil kotak panjang kecil dengan pita berwarna merah.
__ADS_1
"Ini alat tes kehamilan dengan dua garis merah, Nona." Pak Raga menjelaskannya pada kami. Lalu dia memberikan tespek itu padaku.
What? Dia hamil? Yakin ini anak Arzhan? Aku, kok, ragu, ya!