
"Bagaimana hari ini? Apa pelajarannya sulit?" tanya Arzhan saat menjemput ke sekolah. Dia menggenggam tanganku dengan erat saat tangan yang satunya sigap di kemudi.
"Lumayan, ada dua ulang harian."
"Mau makan apa?"
"Aku haus, Kak. Makan es krim, ya."
"Nanti Papa marah, kemarin gigi kamu sakit 'kan?"
"Udah sembuh, kok. Makan es krim, ya, Kak. Please." Aku merengek. Bergelayut manja di tangan Arzhan yang kekar. Namun, dia tetap saja tidak mengiyakan apa yang aku minta.
Kesal, aku memilih diam tanpa kata saat berada di dalam mobil. Berharap dia akan bertanya atau membujukku agar tidak marah, nyatanya nihil. Dia malah ikut berdiam diri.
"Sayang, senyum, dong."
"Males!"
"Nanti gak aku beliin es krim loh kalau masih cemberut aja."
Aku menoleh. Dia tersenyum manis padaku.
"Jadi kita beli es krim?" tanyaku antusias dan penuh harap.
"Ada syaratnya."
"Apa?"
Arzhan menunjuk pipinya. Sejak kami resmi berpacaran, dia memang lebih manja ketimbang aku. Mungkin itu juga.
Cup!
Sebuah kecupan yang hendak aku berikan di pipinya, mendarat di bibirnya. Dia menoleh dengan cepat saat aku hendak mencium pipinya.
"Iiih, kakak! curang tauuu."
Arzhan menarik tangan dan mencium punggung tanganku berkali-kali sambil tertawa.
Meski dia sering melakukan ini, tetap saja, perasaanku seperti orang yang baru pertama kali melakukannya. Jantung berdegup kencang. Wajahku memanas.
Setelah membeli es krim, kami pergi nonton. Belanja beberapa pakaian dan aksesoris, setelah itu kami pergi makan sebelum pulang ke rumah. Rutinitas di hari terakhir sekolah, yaitu hari Sabtu.
"Dek, Lu kenapa, sih, belakang ini terlihat bahagia banget? Suka senyum-senyum sendiri, di rumah pun pake bajunya rapi, wangi, itu muka pake di warna-warni segala," ucap Fateeh saat kami sedang menikmati teh di sore hari. Hari Minggu adalah hari yang kamu semua tunggu. Kami akan berkumpul bersama di taman belakang. Melihat Mama dan Papa merawat tanaman mereka.
"Terus, aku harus gimana? Buluk, bau, kucel, jelek, gitu?" Aku segera mengangkat kepala dari pahanya.
"Ya enggak, kenapa gak dari dulu aja kaya gini. Jadi mata gue gak tercemar liat adek satu-satunya buruk rupa."
"Kakak!" Aku mengigit lengan Fateeh. Dia berteriak mengadu pada Mama dan Papa. Tida sampai di situ, aku naik ke atas badannya dan memukul dia beberapa kali. Tentu saja tidak memakai tenaga yang berarti.
"Udaaah, heh!" Arzhan menghampiri kami yang sedang berduel. Dia mengangkat tubuhku dan menjauh dari Fateeh.
"Awas lu, ya. Ketampanan gue ilang 000,01 persen gara-gara dicakar dan dipukul elu."
"Bodo amat! Biar gak laku sekalian." Aku masih berontak dari pelukan Arzhan. Rasanya masih belum puas memukul si bawel dan tidak punya perasaan itu.
"Sssst. Jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang." Arzhan merapikan rambutku yang berantakan. Dia masih memeluk tubuhku dari belakang saat kami duduk di sofa.
"Biarin, mending peluk Kak Arzhan aja. Udah mah wangi, badannya gede, ganteng lagi." Aku memeluk Arzhan dengan erat. Mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Gue juga ganteng."
"Iya, tapi peot, weeee!"
__ADS_1
"Kalian kapan dewasanya, sih. Tiap bertemu selalu saja bertengkar."
"Aku manis, loh, Pah. Aku tadi udah mau berdamai. Aku bobo di pangkuan kakak, eh dianya malah nyulut api permusuhan. Ya aku siram aja pake bensin."
"Itu kamu ngapain peluk-peluk Arzhan. Dia gak bisa gerak mau minum teh." Mama datang.
"Biarin aja. Dia kakak aku pokoknya. Dia mah bukan." Aku menunjuk Fateeh.
"Awas aja, Lu!"
"Udah dong, ribut mulu. Pusing kepala mama."
Aku tersenyum dalam hati. Memeluk Arzhan bukan sebagai kakak, tapi sebagai kekasih. Ternyata apa yang aku takutkan selama ini, salah. Buktinya aku masih bisa bermesraan meski ada Mama dan Papa Indra.
Manja pada kekasih berkedok sodara. Lumayan ampuh.
"Nanti Senin, Mama dan Papa akan pergi ke luar kota. Mungkin sekitar dua atau tiga hari."
"Ikuuut."
"Kamu 'kan sekolah, Si."
"Tapi Mama, aku takut patah tulang di sini sama dia, tuh." Aku menunjuk Fateeh lagi.
"Kan ada Kak Arzhan yang jagain kamu."
"Kak Arzhan kadang pulangnya malem. Aku sendirian di rumah."
"Enggak, aku janji selama Mama gak ada, gak akan pulang malem."
"Janji?"
Arzhan mengangguk.
Hari Senin pun tiba. Setelah sarapan, Mama dan Papa pergi membawa dua koper berisi barang-barang keperluan mereka.
Sedih rasanya melihat mereka melambaikan tangan dari dalam mobil.
"Hahaha. Siap-siap aja lu, Dek."
"Fateeh, stop!"
Aku bersembunyi di belakang tubuh Arzhan.
"Gue duluan, ya, Kak. O, iya. Hari ini aku pulang larut malem kayaknya. Mau ada tugas kuliah. Bisa jadi gue gak pulang."
"Kasih kabar kalau nginep. Di mana dan di rumah siapa?"
"Iya, Kak."
Aku masih bersembunyi di belakang tubuh Arzhan. Sambil mengintip dari celah antara tangan dan tubuh Arzhan.
"Kita juga berangkat, yuk. Nanti kamu kesiangan."
"Iya, Kak."
Hari berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja sampai di sekolah, kini aku sudah berada di dalam mobil menuju rumah.
Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain berganti pakaian, makan, dan juga rebahan hingga aku tertidur dan bangun saat langit sudah berubah warna menjadi hitam.
Trashh!
Lampu tiba-tiba mati.
__ADS_1
"Kakak!" Aku berteriak. Namun, tidak ada balasan.
Di mana Arzhan.
Gelap adalah hal yang paling menakutkan bagiku. Bayangan tentang apa yang dulu ayah lakukan, kembali melintas di kepala. Seperti film yang sedang di putar.
Tenggorokanku kering, dadaku seperti terhimpit gada besar. Sesak. Untuk berteriak pun aku tidak sanggup.
Papah ... tolong, Pah.
Hanya itu yang aku ingat saat ini. Berharap Papa Indra datang dari balik pintu kamar.
Brak!
"Iksia ...."
Arzhan. Untunglah.
"Sayang, kamu baik-baik aja?" tanyanya sambil memelukku erat. Dari detak jantungnya aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku.
"Ayo kita keluar." Dia menggendong tubuhku dan membawaku ke atas. Ke kamarnya.
"Cepat perbaiki sekarang juga!" perintahnya pada beberapa pelayan yang mengikuti kami.
"Tunggu di luar." Dia kembali memerintah saat kami sampai di depan pintu kamarnya. Setelah membaringkan aku di tempat tidur, Arzhan kembali keluar membawa alat penerangan. Akhirnya aku bisa bernafas.
"Maaf aku telat."
Aku menggelengkan kepala pelan.
"Kenapa listriknya mati?"
"Entahlah. Sialnya generator pun mati. Ngapain aja para pelayan itu di rumah. Sampai bisa seperti ini."
"Jangan marah-marah, Kak."
"Masih sesak? Mau minum?"
"Enggak. Kakak peluk aku aja. Aku kasih takut."
Arzhan naik dan berbaring di sampingku.
"Tidurlah di sini." Dia menunjuk tangannya. Aku pun tidur dengan tangannya yang kekar sebagai bantal.
Pada awalnya aku hanya tidur untuk menghilangkan ketakutan. Namun, lama semakin lama, ada yang tidak beres dengan jantungku. Aku merasa seperti orang habis lari maraton.
"Kak, aku kembali ke kamar aja, ya."
"Masih gelap."
Kegelapan enjadi penghalang untukku saat ini.
"Tidurlah, aku akan menjagamu."
Aku menengadahkan wajah agar bisa melihat Arzhan. Dia pun ikut menoleh dan kami saling menatap.
Ada yang ingin aku bicarakan hanya saja semuanya menghilang saat melihat wajahnya.
Arzhan membelai wajahku degan lembut. Tangannya begitu dingin dan sedikit gemetar.
"Kenapa tangan kakak gemetar."
"Iksia." Dia berbisik pelan.
__ADS_1
Apakah kegelapan malam ini akan membuat hidupku gelap ke depannya. Apa boleh buat, nyatanya sentuhan-sentuhan lembut Arzhan membuat aku melupakan segalanya.