Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Happy Day Iksia


__ADS_3

Kami masih saling diam saat dalam perjalanan. Dia masih terlihat sangat marah padaku.


"Kenapa kita kembali ke sini?" tanyaku saat menyadari kami berjalan menuju apartemen


Dia tidak menjawab.


Apa kali ini aku akan diperkosa? Astaga! Haruskah aku berteriak minta tolong?


Panik, takut, dan juga bingung harus berbuat apa. Pikiran buruk sesudah memenuhi isi otakku.


"Ayo." Arzhan menyeret tanganku. Aku berusaha melepas tapi apa daya, tenaga dia lebih kuat. Jantungku berdetak begitu cepat. Keringat dingin mulai timbul di tengkuk dan wajahku.


"Loh, ini? Kok bukan apartemen kakak, sih?"


Dia tidak mengindahkan perkataanku. Apartemen dibuka, jantungku semakin kencang berdetak tidak karuan saat Arzhan membawaku ke sebuah kamar, dan ....



"Loh, ini apa?"


"Selamat ulang tahun, Baby. Wish you all the best." Arzhan memelukku dari belakang. Mencium pipi dan belakang kepalaku.


"Aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun."


"Apartemen ini hadiah dariku."


"Apartemen?"


"Hmm, semoga kamu suka."


"Kakak ...." Aku berbalik badan lalu memeluknya erat.


Arzhan mengangkat tubuhku, membawaku ke tempat tidur untuk membuka hadiah lainnya. Banyak sekali hadiah yang Arzhan berikan.





"Waaaah, bagus semua."


"Suka?"


Aku mengangguk cepat. Meski tidak tahu berapa harga dari barang-barang ini, tapi aku tau kalau ini mahal. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mendapat hadiah semahal dan semewah sekarang. Itupun dari orang yang aku cintai. Bukankah pantas jika aku bersyukur memiliki dia.


"Aku ambil minum dulu. Kamu buka hadiah lainnya."


"Nanti aku nyusul."


Arzhan pergi sementara aku masih menikmati semua pemberi darinya.


Balon dan kue, kamar ini benar-benar membuat aku sangat bahagia. Rasanya seperti mimpi, tapi ini sungguh kenyataan. Hidup memang berputar, aku yang sering mendapatkan kekerasan dari Ayah, sekarang mendapatkan cinta dari tiga laki-laki sekaligus.


"Itu belepotan." Arzhan datang membawa dua botol air mineral dingin.


"Cake-nya enak, Kak."


"Iya, tapi makannya hati-hati."


Aku tersenyum. Arzhan membersihkan krim yang ada di sekitar mulutku. Namun, aku sengaja mengotorinya lagi. Dengan sabar dia kembali membersihkannya. Aku kemudian melakukannya lagi.


Kali ini Arzhan tidak membersihkannya dengan tangan tapi dengan mulutnya. Tidak hanya membersihkan mulut, tapi Arzhan melanjutkannya dengan hal lain.


Aku yang terbawa suasana dan sentuhan Arzhan yang tidak bisa ditolak, membuat aku ikut larut dan hanyut dalam permainan yang dia buat.


Hingga akhirnya ....

__ADS_1


Ini bukan kesalahan Arzhan, aku pun ikut andil karena tidak menolak dan hanya pasrah menerima bahkan menikmati segalanya.


Aku marah pada diriku, menyesal pun sudah tidak ada artinya lagi.


Membersihkan diri pun hanya dari keringat, tidak dengan noda yang ada dalam tubuh dan jiwaku bukan?


Mahkota itu telah retak. Retak untuk yang kedua kalinya.


Aku dan Arzhan hanya bisa saling menggenggam tangan tanpa kata. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kesalahan yang seharusnya tidak terjadi sejak awal, malah dilakukan kembali.


Saat di depan rumah, Fateeh sedang berdiri di samping mobilnya. Dia seolah sedang menunggu kedatangan kami.


"Lama banget, dari mana aja?"


"Habis nonton. Kenapa?"


"Sini." Dia menarik tanganku dan memintaku membuka pintu mobilnya. Dan ....



"Selamat ulang tahun, Jelek!"


Hangat dalam hati membuat air mataku menetes cukup banyak.


"Lah, kenapa Lu malah nangis. Gak suka sama hadiahnya?"


Tanpa menjawab pertanyaan Fateeh, aku memeluknya dengan erat. Dia pun membalasnya dengan lembut.


"Selamat ulang tahun, Dek. Semoga Lu sehat, bahagia, dan ... ya pokoknya apa pun yang Lu mau, semoga tercapai."


Aku mengangguk dalam pelukannya. Tangisanku tidak juga reda. Ya, aku menangis karena bahagia memiliki dia yang menyayangiku meski kami tidak terikat darah. Namun, yang membuat aku sedih adalah sikapku yang jika mereka tahu, maka aku akan melukainya.


Aku minta maaf, Kakak.


Kejutan bukan hanya dari Fateeh dan Arzhan. Mama dan Papa pun memberikan hadiah yang tidak kalah mahal. Papa bilang dia membelikan aku sebuah rumah. Itu bisa aku tempati saat menikah nanti.


"O, iya. Papa juga ngajak kita liburan loh."


"Beneran? Kapan?" Fateeh antusias.


"Minggu depan."


"Yah, Mama. Minggu depan aku gak bisa ikut karena ada praktik di rumah sakit."


"Ye ye ye ye. Kakak gak diajak, weeee!"


"Dek, Lu mah gitu. Gue udah kasih boneka sama cokelat juga. Itu tuh simbolis perdamaian tau."


"Ogah, berdamainya tar tar aja."


"Beuhh, adek laknat Lu!"


"Gimana, Pah? Gak mungkin juga kalau kita pergi tanpa satu anak. Mama gak mau, ah!"


"Bodo amat, gue ada Mama. Bleeee!" Fateeh mengejekku sambil memeluk dan mencium Mama.


"Biarin, gue juga punya Kak Arzhan." Aku memeluk Arzhan, tapi berhubung dia tinggi, aku tidak bisa menggapai pipinya untuk dicium.


"Kakak!" Arzhan tertawa, lalu dia mencium kepalaku.


"Sedih, ya, gak ada yang berpihak sama Papa."


Kami saling melirik lalu memeluk Papa bersamaan.


"Aku sayang Papa."


"Papa juga, Nak. Selamat ulang tahun, putriku. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu."

__ADS_1


"Pah, aku nikah sama Kak Arzhan boleh gak?"


Hening.


Perlahan pelukan kami terlepas.


"Lu kenapa milih dia, mendingan juga gue. Dokter gitu lohhhh."


"Ogah! Aku kayaknya gak rela kalau nanti Kak Arzhan nikah sama cewek lain. Masalahnya, kakak aku yang satunya lagi agak-agak gimana gitu ...."


"Maksud, Lu?"


"Agak miring."


"Sialan!" Fateeh mengejarku. Aku berteriak dan berusaha berlindung di belakang Papa.


"Pusing kepala Papa lihat mereka." Papa memijat kepalanya sambil tersenyum.


Kini, bukan hanya Fateeh yang mengejar, tapi Papa ikut-ikutan mengejar ku. Kami bertiga seperti anak TK yang asik bermain saat istirahat tiba. Saat mereka berhasil menangkap ku, habis sudah aku dikelitiknya.


"Stop, Pah. Stop dulu."


"Alasan itu, Pah."


"Bener, Kak. Aku pusing."


Papa perlahan berhenti, diikuti Fateeh. Mereka berdua menatapku cemas.


"Kamu kenapa tiba-tiba pucet, Dek."


"Aku pusing. Sejak tadi perut aku juga kram."


"Mau datang bulan mungkin, Si." Mama menghampiri. Pun dengan Arzhan.


"Udah bercandanya. Ayo aku antar kamu ke kamar."


"Nanti dulu, Kak. Kepalaku tambah berat."


"Gendong aja, Arzhan. Bawa dia ke kamar."


"Cieee, pengantin baru." Fateeh meledek saat Arzhan menggendong tubuhku.


"Fateeh, hentikan."


"Kan Iksia bilang di mau nikah sama Kak Arzhan. Lagian kita bukan sodara kandung, jadi masih boleh kan, Pah?"


"Aturan lain boleh, tapi tidak aturan Papa. Kalian tidak ada yang boleh menikahi satu sama lain. Kalian semua anak Papa."


Aku tersenyum getir mendengar percakapannya Fateeh dan Papa. Aku rasa Arzhan pun mendengar meski dia terlihat tenang.


"Istirahat, ya. Kalau butuh apa-apa segera telpon aku."


"Hmm."


"Kenapa, kenapa? Itu wajah pacarku kenapa murung?"


"Kakak denger ucapan Papa tadi?"


Arzhan tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya padaku.


"Selain takdir, aku akan melawan semuanya demi kamu, Sayang. Jadi, jangan pikirkan apa pun. Istirahat yang cukup saja."


"Aku mulai khawatir."


"Percaya padaku."


Aku tidak percaya pada diri sendiri, Kak.

__ADS_1


__ADS_2