Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Maaf


__ADS_3

Rasa cinta untuk Arzhan tidak pudar sedikitpun meski setelah malam itu aku enggan bertemu dengannya. Ada rasa takut, malu, dan juga segan jika aku bertemu dengan Arzhan.


Sebisa mungkin aku menghindar agar tidak terlalu dekat dengannya. Tentu saja itu membuat dia kesal.


"Katakan ada apa lagi sekarang? Apa masalah wanita? Yang mana? Siapa? Katakan padaku jika ada yang berani mengganggumu lagi."


Aku tahu, dia begitu menjaga agar diriku tidak disakiti siapapun juga. Rasa sayang dan ketulusan cintanya bisa aku rasakan. Aku pun memiliki hal yang sama untuknya.


"Apa ini sebuah balas dendam karena waktu itu melakukan hal yang sama? Bukankah itu atas kemauan kamu sendiri. Kenapa Sekar aku yang menjadi sasaran balas dendam mu?"


"Bukan, Kak. Tidak ada hal yang membuatku marah. Tidak ada wanita yang menggangguku juga."


"Lantas?"


"Aku hanya ingin sedikit menjauh. Aku ingin merasakan apa itu rindu yang sebenarnya. Kita bertemu setiap hari. Rasanya jenuh, Kak."


"Jenuh? Kamu bosan dengan hubungan kita?"


"Bu-bukan. Bukan begitu maksudnya, Kak."


"Selama ini aku selalu ikut maunya kamu. Kamu minta aku menjauh, aku lakukan. Kamu tidak ingin duduk di jok mobil bekas wanita lain, aku ganti mobilnya. Semuanya! Kamu sendiri pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Tidak 'kan? Atau memang tidak perduli?"


Tidak ada kata yang mampu aku ucapkan untuk menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini, apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.


"Terserah kamu, Si. Aku lelah."


Air mataku menetes saat dia pergi begitu saja. Tidak ada belaian lembut, kecupan mesra ataupun hanya sekedar tersenyum hangat seperti yang dia lakukan saat kami akan berpisah.


Biarkan dia dengan apa yang ingin dilakukannya. Marah pun wajar. Lelah pun manusiawi. Aku memang terlalu kekanakan dan sering memaksakan kehendak tanpa berpikir bagaimana perasaannya.


Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Cukup hanya satu kali, Kak. Dosanya pun entah bisa diampuni atau tidak.


"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Papa sambil menatapku dan Arzhan secara bergantian.


"Mereka mah emang kayak kucing dan anjing."


"Bukankah persamaan itu cocoknya sama kamu, Fateeh?"


"Papa gak tau aja."


"Jika ada masalah, selesaikan secara baik-baik. Terutama kamu Arzhan, kamu itu sudah lebih dewasa, harusnya kamu bisa memaklumi sikap adik kamu yang masih kecil."


"Orang dewasa pun terkadang lelah, Pah. Jangan selalu menuntut kami untuk mengerti semua sikap anak-anak."


Reaksi semua orang yang ada di meja makan sama. Heran dengan apa yang dikatakan Arzhan.


"Si, kamu ngapain sama bikin Arzhan marah?" tanya Mama. Meski tidak ikut bertanya, tatapan Papa cukup mewakili. Dia pun penasaran dengan jawabanku.


"Itu, Mah. Iksia--"


"Dia mengaku jadi pacar aku, Pah."


Uhuk!


Mama segera mengambilkan Papa Indra minum.


"Alea marah," lanjut Arzhan.


Alea? siapa dia?


"Alea? Maksudnya kamu masih menjalin hubungan dengannya?"


Menjalin hubungan? Maksudnya apa ini? Kenapa papa mengenalnya juga?


"Hubungan kami masih baik."

__ADS_1


"Apa kalian ...."


"Masih tahap pendekatan. Mungkin kalau cocok, kami akan kembali menjalin hubungan secara resmi."


"Uhuuuuy! Kalau kakak cepet nikah, itu artinya aku tidak harus menunggu lama."


"Kamu tetap harus menjadi dokter dulu, Fateeh!"


Ini maksudnya apa?


"Pah, aku berangkat duluan, ya."


"Kenapa cepet banget? Ini masih pagi loh. Bareng Arzhan?"


"Aku mau ke rumah Hilda dulu. Aku diantar sopir, Pah. Kakak juga sudah ada mobil penggantinya kan. Jadi gak perlu pake mobil aku lagi."


"Ya sudah, hati-hati di jalan, Sayang."


"Iya, Ma."


Saat aku sudah diambang pintu, aku mendengar Arzhan pun berpamitan pada Mama dan Papa.


"Pak, ayo berangkat." Aku melambaikan tangan pada sopir yang sedang mengelap kaca mobilku.


"Ayo, Pak." Aku berlari dan meminta sopir agar secepatnya menyalakan mobil.


Aku seperti sedang dikejar-kejar hantu, padahal belum tentu Arzhan ingin menyusulku bukan? Siapa tau dia memang harus berangkat pagi.


Kenapa aku berharap dia menyusul coba?


Ckiiiiittttt


"Awww, Pak. Kenapa rem mendadak, sih?"


"Maaf, Non. Itu, anu."


Arzhan? Astaga, dia mau ngapain?


Arzhan menghampiri pintu sopir, mengetuk jendela dan meminta sopir turun dari mobil. Tidak ada yang bisa dilakukan sopirku selain manut pada tuannya.


"Kakak apa-apaan, sih!"


Arzhan tidak memperdulikan ucapanku, dia menginjak pedal gas begitu dalam hingga laju kendaraan kami berjalan begitu cepat.


Apa dia marah?


"Kakak, jangan cepet-cepet!"


Arzhan tidak mengindahkan ucapanku. Meski aku berteriak-teriak bahkan memukulnya, dia tidak menggubris sama sekali.


"Nyebelin tau!" Aku menangis saat mobil berhenti di depan sekolah.


Aku menangis pun dia tidak peduli sama sekali.


Saat pulang sekolah nanti, mungkin Arzhan akan kembali menjemputku dengan paksa. Untuk itulah aku meminta Papa dan juga Mama yang menjemput. Arzhan tidak akan berani jika berhadapan dengan Papa terutama Mama.


"Ada apa, Sayang? Tumben."


Aku menangis sesenggukan.


"Loh, kenapa malah nangis? Ada apa? Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Papa Indra cemas.


"Aku gak mau dijemput Kak Arzhan, dia nakal. Pokoknya Papa sama Mama harus jemput aku hari ini."


"Arzhan kenapa lagi? Biar nanti Papa yang marahin dia."

__ADS_1


"Gak perlu, pokoknya aku mau Papa jemput. Titik."


"Ya udah, iya. Papa akan jemput kamu ke sekolah. Jam berapa kamu pulang?"


"Jam satu. Pokoknya jangan telat."


"Iya, siap!"


Aku berharap waktu berjalan sangat lambat, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika Arzhan yang menjemputku.


Saat bel sekolah berbunyi, aku segera menelepon Papa Indra. Berharap dia sudah sampai di depan sekolah.


"Papa di mana?"


"Sebentar lagi sampai."


"Papa gimana, sih. Kan aku udah bilang jangan telat."


"Maaf, Sayang. Tadi papa ketemu klien dulu. Sebentar lagi sampai kok."


"Cepet, ya, Pah."


Rasa cemas semakin melanda saat aku berjalan menuju luar sekolah. Melihat ke sana kemari memastikan tidak ada mobilku di sana.


Alhamdulillah aman.


"Iksia, aku duluan, ya."


"Jangan ...." Aku merengek pada Hilda.


"Kamu kenapa, sih? Tadi pagi nangis, sekarang mau nangis lagi. Sensitif banget kamu hari ini."


"Papa aku mau jemput, nanti kita bisa belanja lagi, ya? Aku mohon tunggu sebentar lagi."


"Gak bisa, Iksia. Hari ini aku harus pulang cepet karena adikku sakit."


Tidak ada alasan lagi untukku menahan Hilda lebih lama.


"Ya sudah. O, iya. Ini, Hil. Buat tambah-tambah biaya berobat adik kamu."


"Sebenarnya aku gak enak karena terlalu sering menerima uang dari kamu, tapi Iksia jujur, aku memang sangat membutuhkan uang ini."


"Besok. Besok aku akan tambah lagi. Kamu jangan cemas. Aku juga akan membawa makanan untuk kamu dan adik kamu."


"Iksia ...."


"Jangan nangis, itu angkotnya datang. Gih, pulang."


"Makasih, ya. Kamu memang teman terbaik aku."


Hilda melambaikan tangan saat akan memasuki angkot. Jauh di belakang angkot, aku melihat mobilku melaju dengan cepat.


"Itu Kakak. Aduh, aku harus gimana sekarang? Aku ngapain ini, duhhhh."


Saat Arzhan berhenti di depanku, di waktu yang bersamaan mobil Papa Indra di sebrang jalan tiba.


"Iksia, tunggu." Arzhan menghadang langkahku.


"Aku pulang bareng Papa sama Mama, Kak."


"Sayang, tunggu sebentar. Aku minta maaf kalau aku salah. Sayang, tunggu sebentar saja."


"Sayang ...." Papa berteriak sambil melambaikan tangan.


"Papa udah nunggu, Kak. Maaf."

__ADS_1


Arzhan terlihat kecewa saat aku pergi bersama Papa dan Mama.


Maaf, Kak. Untuk sementara aku ingin kita berjauhan dulu.


__ADS_2