Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Bukan rahasia


__ADS_3

"Nak, dady kalian sudah menemukan wanita pengganti Mom. Kita doakan semoga mereka bahagia." Aku mengelus perutku yang begitu besar.


"Awww." Aku merintih saat kedua janinku menendang. Sakit dan linu tapi aku bahagia. Perutku semakin besar, banyak sekali garis-garis yang muncul. Mereka bilang itu normal. Wajahku semakin bulat, kaki pun bengkak hingga aku kesulitan untuk jongkok.


Rasa sedih itu sering menghampiri, apa lagi saat mengingat masa-masa sekolah dulu. Teman-teman saat ini sedang belajar, mereka pasti sedang asik jajan di kantin sambil tertawa membahas masalah receh. Sementara aku?


Aku kini berdiri di depan cermin, melihat postur tubuh yang semuanya sudah membengkak. Baju-baju kesayanganku sudah tidak ada lagi yang muat. Hanya daster dan baju khusus wanita hamil yang menjadi fashion andalah saat ini.


Aku membuka akun media sosial Facebook untuk pertama kalinya karena merasa jenuh. Hanya ingin melihat-lihat postingan dulu.


Tidak ada apa-apa karena temanku memang sedikit dan tidak berteman dengan orang-orang di dunia nyata. Rindu padanya, aku membuka album foto yang sengaja di private. Hanya aku yang bisa melihat.


Arzhan. Wajah itu kembali membuat aku tersenyum tapi juga menangis. Rasa rindu itu semakin menggebu, rasa cinta itu tidak pernah sirna, dan kini aku hanya bisa melihatnya lewat gambar. Sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain.


"Non."


"Masuk Mbok."


Mbok Darmi datang dengan nampan yang di atasnya terdapat handuk kecil, baskom, dan juga air hangat. Dia selalu memijat kakiku yang bengkak jika pekerjaannya sudah selesai.


"Lagi liat apa? Ayahnya toh?"


"Maksudnya? Aku cuma liat ponsel aja. Bingung mau ngapain."


Mbok Darmi tersenyum sinis. Dia meraih kakiku dengan hati-hati, meletakkannya di atas pangkuannya. Dia mulai memijat lembut kakiku menggunakan minyak kelapa yang dia buat sendiri.


"Manusia memang tempatnya salah dan dosa, beruntung karena Tuhan kita maha pengampun. Beda dengan manusia. Mereka sering membuat salah tapi sulit memaafkan kesalahan sesama."


Aku hanya diam mendengarkan petuah-petuah darinya di setiap memijat kakiku.


"Itulah kenapa kita harus sangat berhati-hati bersikap jika menyangkut manusia. Terutama orang tua. Mereka memaafkan kita, tapi luka yang mereka terima entah siapa yang jamin akan sembuh atau tidak."

__ADS_1


Mataku mulai panas.


"Kenapa tidak jujur saja, Non. Katakan pada tuan dan nyonya siapa ayahnya anak Non. Mbok rasa itu akan mengurangi beban Tuan Indra."


"Aku berpikir sebaliknya, Mbok. Jika tahu siapa ayahnya, Papa pasti akan kecewa."


"Tuan Arzhan itu baik, kenapa harus kecewa?"


Deg!


Aku merespon ucapan Mbok Darmi dengan menarik sedikit kakiku dari pangkuannya. Dia menatap sambil tersenyum.


"Rasanya aneh jika tinggal satu rumah tapi Mbok gak tau hubungan kalian. Cara Tuan Arzhan memperlakukan Non, tidak seperti kakak pada adiknya. Pun sebaliknya."


Mataku benar-benar basah saat ini.


"Mbok sudah wanti-wanti, jangan kecewakan Tuan Indra yang begitu baik memperlakukan Non. Mbok baru kali ini melihat ayah tiri menyayangi anak sambungnya seperti itu."


"Jika bisa mengulang waktu, aku akan menghindari Arzhan. Aku tidak ingin ini semua terjadi, Mbok."


"Tapi Mbok juga tidak tega pada Tuan Arzhan. Dia sudah lama mencintai Non, jauh sebelum kalian menjadi sodara."


Siapa sebenarnya Mbok Darmi ini, kenapa dia tahu semua tentang Arzhan.


"Mbok pernah melihat Tuan Arzhan sedang menatap foto seorang wanita di belakang rumah. Saat Mbok lewat, dia memanggil dan memberikan foto itu. Dia bertanya apakah wanita itu cantik, Mbok jawab sangat cantik. Dia tersenyum bahagia mendengar jawaban Mbok. Untuk pertama kalinya Tuan Arzhan bersikap manis pada pelayan di rumah, biasanya dia tidak pernah bicara sama sekali. Itulah kenapa Mbok sangat terkejut saat bertemu Non dan mengetahui kalau Non anak dari Nyonya. Tuan Arzhan sangat frustasi waktu itu."


"Tapi sekarang dia akan bertunangan, Mbok. Semoga dia bisa bahagia."


"Menurut Non, apa dia akan bahagia sementara hatinya berada di sini?"


Aku menatap Mbok Darmi.

__ADS_1


"Berpisah dengan orang yang kita cintai sangatlah menyakitkan, tapi hidup bersama orang lain sementara hati kita ada di tempat lain jauh lebih menyakitkan. Rindu itu terhalang tanggung jawab pada pasangan sah kita."


"Lalu kenapa Arzhan mau bertunangan dengan orang lain, Mbok?"


"Pasti Tuan Indra yang memaksanya."


Wajar, Arzhan sudah sangat cukup umur untuk segera memiliki sebuah keluarga.


"Tapi, Non. Non jangan memikirkan masalah pertunangan Tuan Arzhan, si kembar jauh lebih penting saat ini."


"Iya, Mbok."


"Karena kehamilan Non sudah besar, Pak Sam bilang belajarnya dihentikan dulu. Fokus saja persiapan kelahiran nanti. Siapakah mental dan fisik, banyak berdoa."


"Iya, Mbok."


Banyak cara Tuhan memberikan kemudahan juga kebaikan pada hambanya. Meski aku seorang pendosa, tapi sebuah takdir dan nasib sudah dituliskan sejak aku dalam kandungan.


Tidak ada Mama, ada Mbok Darmi yang memperlakukan aku dengan baik.


Malam pun tiba, aku pergi ke dapur untuk mengisi botol minum. Aku sering haus dan lapar saat malam hari.


Saat berjalan, aku tidak sengaja mendengar obrolan para pelayan yang ada di sini termasuk Pak Sam dan Mbok Darmi.


"Kapan?" tanya Mbok Darmi.


"Tuan Indra bilang besok. Mereka akan melamar Non Alea untuk Tuan Arzhan. Sekalian menentukan tanggal pernikahan mereka juga."


Aku tahu kalau Arzhan bertunangan dengan Alea, tapi kenapa lamarannya dipercepat. Berusaha ikhlas tapi nyatanya tidak. Hatiku tetap saja sakit mendengar dia akan menikah dengan wanita lain.


Aduuuh, perutku kenapa sakit?

__ADS_1


"Awwwww! Aduuuuh, Pak Sam!"


__ADS_2