
"Apa-apaan ini?"
"Tanya saja pada nona kalian!"
Telapak tanganku terasa panas, bagaimana dengan pipi Alea yang sekali tampar saja langsung merah merona.
"Sayang?"
Arzhan yang baru saja pulang kerja datang menghampiri. Dia langsung mendekati Alea yang masih ada di lantai sambil menangis dan memegang pipinya.
Bodyguard yang menjaganya sudah diam di cengkraman Pak Raga dan pengawalku yang lainnya.
Arzhan membantu Alea untuk berdiri. Sambil sesekali melihat sekeliling.
"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu datang dan membuat keributan di sini."
"Jauhkan tangan kamu dari wanita menjijikan ini, Mas!"
"Sayang?"
Arzhan yang masih bingung hanya diam saat aku memberikan perintah. Aku menarik tangannya agar menjauh dari Alea.
"Ada apa Alea? Katakan yang sebenarnya padaku sekarang. Apa kamu tidak takut kalau aku memberitahu orang tuamu siapa ayah dari janin yang kamu kandung sekarang! Beraninya kamu mengatakan hal buruk pada Chana! Kamu sadar gak sih kalau anak kamu juga anak haram!"
"Apa?" tanya Arzhan.
"Iya, Mas. Wanita ini bilang pada Chana kalau dia anak haram! Chana bertanya padaku apa itu anak haram. Dia juga bilang kalau Alea yang mengatakan Chana itu anak haram, Mas. Mas, selama ini aku sabar, dia yang membuat keributan di perjamuan tamu malam itu, dia sengaja meminta sodara Khadijah untuk memojokkan aku agar dia bisa memperkenalkan diri bahwa dia istri kamu dan mempermalukan aku di hadapan tamu. Dia juga yang sudah menghapus semua data perusahaan Papa. Aku masih sabar, Mas. Tapi jika dia mengganggu anak-anak, aku tidak akan tinggal diam!"
Arzhan terlihat syok mendengar semua penuturan dariku. Dia menoleh pada Alea dengan tatapan penuh amarah.
"Selama ini aku bahkan diam menutupi aib kamu. Aku berusaha sebaik mungkin menjadi suami untuk kamu. Aku memenuhi semua kewajiban aku bahkan untuk urusan ranjang sekalipun! Lalu apa ini balasan kamu, Alea? Jawab!"
Alea menggigil ketakutan di dalam dekapan pelayan pribadinya.
"Mulai detik ini juga aku ceraikan kamu!"
"Arzhan ... aku mohon jangan!" Alea menarik tangan Arzhan.
"Kalau anak ini lahir, dia tidak akan memiliki seorang ayah. Kasian anakku Arzhan, aku mohon jangan ceraikan aku."
"Lepaskan!"
"Enggak! Aku tidak akan melepaskan kamu Arzhan. Kamu suamiku, kamu harus menjadi ayah dari anakku. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi hanya demi adik tiri kamu itu."
__ADS_1
"Dia istriku! Kekasih hatiku!"
"Aaarghhh!" Alea menjerit histeris sambil mengacak-acak rambutnya.
Arzhan memelukku berusaha melindungi dari amukan Alea yang tidak terkendali.
Alea menjerit seperti orang kerasukan. Pak Raga melepaskan bodyguard Alea agar bisa menenangkan majikannya.
Dua orang pria tinggi itu tidak bisa memegang Alea, lebih tepatnya mereka berhati-hati karena Alea sedang mengandung.
Brukkk! Alea terjatuh. Dia mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.
"Mas ...."
"Bawa dia ke rumah sakit, cepat!" Pak Raga memberikan perintah. Dengan digotong dua bodyguard nya, Alea dibawa ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Aku dan Arzhan mengikuti di mobil terpisah.
Sesampainya di rumah sakit, Alea segera diperiksa. Setelah cukup lama menunggu, dokter memutuskan untuk melakukan operasi karena ketuban Alea pecah, pun dengan rahimnya.
Mendengar kabar itu, Arzhan segera menghubungi orang tua Alea.
Lampu yang berada di atas pintu kamar operasi masih menyala merah. Kami yang ikut masih berada dalam perasaan yang sama, cemas.
"Ada apa ini? Arzhan?" tanya ayah Alea begitu dia datang. Pelayan Alea langsung menghampiri dan menceritakan detail kejadiannya dengan sangat provokatif.
"Kurang ajar!"
Arzhan babak belur di lantai. Wajahnya lebam dan darah keluar dari hidung dan bibirnya yang sobek.
"Mas ...." Aku memeriksa wajah Arzhan. Mengusap darah yang mengotori wajahnya dengan jilbab yang aku kenakan.
"Jangan menangis." Dia mengusap air mataku.
"Benar-benar pasangan yang serasi. Munafik!" ibunya Alea memaki.
"Jadi orang tua yang melahirkan anak haram saja sok mesra! Kasian sekali anak kalian. Heh, ikisa apa kamu tidak punya hati nurani sebagai sesama perempuan? Alea sedang mengandung, dia berbaik hati mengizinkan kalian menikah, sekarang apa? Kalian membuat dia berada dalam bahaya! Apa kalian tidak takut karma akan menimpa anak kalian!"
"Hei, Nyonya!"
Aku berdiri dengan tegap.
"Hati-hati sebelum mengatakan hal buruk pada orang lain. Sebaiknya anda pastikan saja bahwa anak anda benar-benar wanita baik-baik."
"Kurang ajar! Kamu penzinah yang berlindung dibalik kerudung ini, jangan berlagak sok alim. Saya tau kamu berpakaian seperti ini hanya untuk menutupi dosa saja!"
__ADS_1
"Bukan menutupi, Nyonya. Saya memperbaiki dosa saya dan anda pun seharusnya meminta anak anda melakukan hal yang sama."
"Kalau bukan karena Indra, saya tidak akan sedikitpun menghargai kamu, ngerti kamu!" ayah Alea begitu menekan kata-katanya sambil menunjuk wajahku.
Arzhan menyingkir tangan mertuanya dari hadapanku.
"Papi, maaf. Tapi sejak saya berpisah dengan Iksia, saya sudah melakukan operasi dan tidak bisa memiliki anak. Itu saya lakukan jauh sebelum saya menikah dengan putri kalian."
"Apa maksudnya, Arzhan?" tanya ibu Alea.
"Sebaiknya minta penjelasan saja pada Alea saat dia sudah melahirkan nanti. Kami permisi."
Arzhan merangkulku dan membawaku menjauh dari ruang operasi. Sebelum pergi, aku mengajak Arzhan mengobati lukanya mumpung masih berada di rumah sakit.
"Nyari apa, Pak?" tanyaku pada Pak Raga saat terlihat bingung sambil merogoh setiap saku yang ada.
"Kunci mobil. Tadi dititip ke saya pas supir mau ke mushola."
"Coba cari lagi, Pak."
Pak Raga membalik badan dan berjalan menjauhi aku dan Arzhan yang sedang diobati.
"Itu apa lagi yang jatuh?" Aku mengambil sesuatu yang jatuh saat Pak Raga pergi.
"Oh, dompetnya."
Saat aku mengambil dompet Pak Raga, dompet itu kembali jatuh. Kali ini dengan posisi terbuka.
Aku tidak sengaja melihat tanda pengenal miliknya. Aku mengerutkan dahi saat membaca namanya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Arzhan.
"Eh, ini. Ini dompetnya jatuh, Mas."
"Oh, dijaga saja nanti dia pasti ke sini lagi."
"Waduh, untung kunci mobilnya ada di satpam. Tas jatuh katanya pas saya lagi jalan ke sini."
"Syukurlah. O, iya. Dompet Pak Raga tadi jatuh. Itu ada di istri saya."
Pak Raga menghampiriku untuk mengambil dompetnya. Tangannya terulur.
"Kenapa nama bapak seperti tidak asing, ya?" tanyaku.
__ADS_1
Senyum Pak Raga hilang seketika mendengar pertanyaan dariku.
Tolong jelaskan, Pak. Apa ada hubungannya atau hanya kebetulan saja? tapi ... foto itu?