Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Pelukan terakhir


__ADS_3

Chana dan Sakya sangat bahagia saat sedang dalam perjalanan menuju kakeknya. Janji akan berkunjung selalu tertunda karena banyaknya hal yang terjadi.


Hari ini kami semua termasuk Fateeh pergi berkunjung. Bukan sekedar berkunjung akan tetapi kami akan menjemput Papa pulang untuk mengurus pernikahan Fateeh.


Sesampainya di sana, kami disambut oleh pemilik panti. Ngobrol basa-basi, setelah itu menuju kamar Papa.


"Saya hanya sebentar karena akan mengurus pernikahan putra bungsu saya. Setelah selesai saya akan segera ke sini."


"Siap, Bro! Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai ke sini lagi."


Sementara teman yang satunya asik bercengkerama dengan Sakya dan Chana.


"Ayo, Pah." Aku menggandeng tangan Papa Indra.


Tangan yang dulu kokoh itu kini terasa berbeda. Terasa sekali tenaga kuat itu memudar. Kulit yang dulu halus dan mulus kini terasa kendur dan berkeriput.


Aku sadar akan satu hal, bahwa Papa sudah menua. Aku menoleh dan melihat uban sudah memenuhi kepalanya. Wajah yang selalu terlihat tegas itu kini terlihat lebih teduh.


Langkahnya pun tidak lagi tegap seperti dulu. Langkahnya pelan dan sangat hati-hati.


Sesuatu yang pasti bahwa aku pun semakin menua sekarang. Memiliki dua anak yang sudah besar, cara berpikir yang tidak lagi manja dan merengek pada seseorang.


Kita semua memang sedang berjalan pada garis finish kehidupan. Semakin dekat, maka tubuh kita akan terasa lelah dan kehabisan tenaga.


"Ada apa?" tanya Papa yang menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya.


"Apa papa sudah tua?"


"Tapi masih terlihat ganteng." Aku menyandarkan kepala pada lengan Papa.


"Cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya. Apa itu berlaku padamu?"


"Tentu saja. Jika Papa tidak menikah dengan Mama, aku yang akan jadi istri Papa."


"Ngaco aja kamu." Papa menoyor kepalaku lembut. Kami pun tertawa.


Siapa yang tidak jatuh hati pada Papa Indra? Laki-laki mapan yang memiliki kepribadian tegas namun sangat lembut dan perhatian.


Hari ini kami akan melakukan feating baju, kemudian menemui pihak hotel sekaligus mencicipi makanan yang akan dijadikan hidangan di acara nanti.


"Bagaimana keadaan kantor?" tanya Papa saat aku dan dia sedang mengambil dessert untuk diicip.


"Masih dalam proses pemulihan, Pah. Maaf, ya, kantor jadi rugi karena kena finalty."

__ADS_1


"Bukan salah kamu. Lalu bagaimana dengan Alea? Kenapa kamu tidak menghukum atau melaporkan dia ke polisi?"


"Arzhan menjadi milikku seutuhnya pun sudah cukup, Pah."


Papa Indra mengangguk mantap.


"Papa akan memberi sedikit pelajaran pada mereka, tapi kamu tenang saja, hanya sedikit kok."


"Pah ... jangan balas dendam, ah. Gak baik."


"Bukan balas dendam, memberikan hukuman agar orang itu berubah dan mau menyadari kesalahannya adalah wajib, Iksia. Papa kalau niat balas dendam, mungkin sudah sejak lama. Papa hanya ingin mereka kapok dan tidak berbuat jahat lagi."


"Caranya?"


"Nanti kamu tahu sendiri. Sekarang kamu icip saja ini."


"Mas, yang ini tolong jangan terlalu manis. Kalau bisa hiasan cokelat atasnya yang agak pahit, biar gak terlalu enek."


"Oh, iya. Nanti kita akan perbaiki."


"Sama ini, pastanya agak terlalu lembek."


"Iya, Pak."


"Terimakasih ibu dan bapak, semoga semuanya berjalan dengan lancar sampai hari H nanti."


"Aamiin."


Seminggu menjelang hari H adalah hari


yang paling menguras tenaga. Bukan karena mempersiapkan acara karena sudah diserahkan pada WO, tapi karena menghadapi keluarga Papa.


Mereka merasa diabaikan karena dianggap bahwa kami merencanakan pernikahan ini tanpa berdiskusi dengan mereka.


"Memangnya kalau hal ini di diskusikan, apa yang akan om dan Tante sekalian rubah? Apa gedungnya? Makanannya? atau apanya? Apakah ada yang tidak sesuai dengan selera kalian? Tapi bukankah ini pernikahan Fateeh dan Khadijah, mereka sendiri yang punya andil besar untuk pernikahan mereka sendiri."


"Kami ini keluarga inti, beda sama kamu. Lagi pula kami ini tetua masa gak dianggap sama sekali?"


"Iksia sudah menelpon berkali-kali, bahkan sudah mengirimkan bahan untuk membuat baju keluarga. Apa tanggapan kalian semua?" tanya Papa.


Mereka diam.


"Berhentilah memojokkan istriku. Kesalahan kalian adalah terlalu busuk hati pada Iksia, sekarang semua kesalahan kalian dilimpahkan begitu saja pada Iksia? Yang benar saja. Mengaku tetua tapi hanya umurnya saja."

__ADS_1


Tidak ada yang berkomentar lagi. Arzhan dan Papa benar. Berkali-kali aku dan yang lainnya menghubungi untuk diajak berdiskusi, mereka bilang tidak akan datang jika aku ada di sana.


Bahan pakaian yang paling bagus pun mereka anggap bahan murahan. Mereka bahkan tidak menjahitnya, dan sekarang saat pesta sudah mau tiba mereka menyalahkan aku karena tidak memberikan pakaian seragam.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat, silakan kalian datang ke acara pernikahan Fateeh, jika tidak pun itu hal kalian. Bagaimana pun juga keputusanku tidak akan berubah. Iksia tetap anakku dan tidak bisa terbantahkan oleh apa pun oleh siapapun."


Tidak banyak bicara lagi, Papa Indra segera pergi meninggalkan kami semua. Diikuti Fateeh dan Arzhan yang merangkulku ke kamar.


Hari H tiba. Kami sekeluarga yang akhirnya menghadiri pernikahan Fateeh, keluar dari kamar hotel setelah didandani. Sebanyak 100 kamar yang disewa untuk menampung tamu dari jauh.






"Saya terima nikahnya Khadijah Salamah bin Muhammad Alaydrus dengan mas kawin sebesar 150 juta dan satu set berlian dibayar kontan."


"Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah ...."


Dari semua rangkaian pernikahan, kini giliran sungkeman. Fateeh menangis bersimpuh di kaki Papa, dan aku duduk di samping menggantikan Mama.


Tidak etis rasanya jika aku yang duduk di kursi sementara Fateeh berlutut padaku. Untuk itulah aku membalik posisi, Fateeh yang duduk di kursi.


Aku menatap matanya cukup lama. Setelah ini dia akan menjadi milik Khadijah seutuhnya dan aku, aku dan Fateeh akan memiliki jarak yang cukup jauh setelah ini.


"Kak ... terimakasih untuk segalanya. Untuk kasih sayang dan semua kebaikan yang kakak beri padaku. Meski tidak ada ikatan darah di antara kita, tapi kakak bersikap melebihi kakak kandung di dunia ini. Jika setelah ini akan banyak perubahan yang terjadi, maka itu hanya batas fisik, tidak dengan hati kita bukan?" Aku berkata dengan terbata-bata karena menahan tangisan itu sangatlah sulit, aku bahkan sesak karenanya.


Fateeh mengangguk dengan air mata bercucuran. Kami saling menggenggam erat. Saling menguatkan satu sama lain.


Dia yang sudah tidak bisa lagi menahan tangisan tanpa suara akhirnya luruh ke lantai. Dia duduk di hadapanku sambil menangis sesenggukan.


"Kakak minta maaf jika belum bisa menjagamu dengan baik, Dek."


Aku mengangguk.


Untuk terakhir kalinya aku biarkan Fateeh memelukku meski tatapan Khadijah sudah memberikan isyarat agar kami tidak melakukannya.

__ADS_1


Sekali ini saja, biarkan aku memeluk kakakku. Jika ini sebuah dosa, aku mohon ampun ya Allah.


__ADS_2