
"Iksia, mulai saat ini papa resmi mengundurkan diri dari perusahaan. Papa sudah melimpahkan semuanya atas nama kamu."
Aku menghentikan tangan yang sedang mengaduk makanan di piring.
"Kenapa dadakan banget, Pah?"
"Bukankah Papa sudah dari dulu minta kamu segera ambil alih? Nak, Papa sudah tua. Papa sudah lelah mengurus urusan dunia. Papa ingin istirahat. Di umur papa yang sekarang, sudah waktunya Papa menyiapkan bekal untuk kematian. Papa ... sudah sangat ingin bertemu dengan mama," ucapnya sendu.
"Lalu apa yang akan Papa lakukan sekarang? Tidak mungkin papa hanya diam diri di rumah bukan?" tanya Fateeh.
Papa tersenyum.
"Ada sebuah panti jompo di pinggiran kota. Mereka di sana melakukan banyak hal yang menarik. Ada pengajian juga. Papa ingin tinggal di sana."
Aku dan Fateeh sama-sama terkejut. Kami hanya bisa menganga mendengar ucapan Papa.
Panti jompo? Apa selama ini papa merasa kesepian? Apa kami tidak bisa mengurusnya?
"Aku tidak setuju. Kami masih bisa merawat papa. Aku keberatan."
Papa mengehla nafas panjang.
"Suatu saat, kamu akan menikah, Fateeh. Kamu akan sibuk dengan keluarga kamu sendiri. Kewajiban kamu akan bertambah. Papa hanya ingin tinggal di lingkungan yang di mana banyak orang bisa diajak ngobrol. Melakukan aktifitas yang menyenangkan bersama teman-teman. Papa mohon kalian mengerti."
"Iksia setuju, Pah. Lakukan apa saja yang Papa inginkan. Meski berat, Iksia setuju jika itu membuat Papa bahagia."
Ingin menangis tapi aku tahan. Bagaimana juga nyaman nya papa di sana, itu artinya kamu akan terpisah jauh. Sekali lagi aku akan kehilangan sosok orang tua.
"Dek?"
"Kak. Papa butuh tempat yang menurutnya nyaman. Bukan nyaman menurut kita. Lagi pula aku tidak akan membiarkan Papa tinggal di sana jika tempat itu tidak layak."
"Tempat itu layak," ucap Papa penuh semangat.
"Panti itu terletak di pinggir pesawahan. Kamarnya juga tidak bareng penuh sesak. Kami akan tinggal tiga orang dalam satu kamar. Ada toilet, dapur mini, ruang televisi juga. Fasilitasnya komplit. Bayarnya juga lumayan mahal dan papa sudah menyiapkan tabungan untuk biayanya."
Apa? Bahkan papa sudah menyiapkan biaya sendiri?
"Baiklah. Kita akan antar Papa ke sana. Kapan papa akan berangkat?''
"Besok sore."
Secepat itu?
Aku tidak bisa mematahkan semangat dan kebahagiaannya. Mata papa berbinar saat menceritakan bagaimana asiknya tempat itu. Aku tidak akan menghilangkan binar bahagia yang sudah lama hilang sejak Mama pergi.
__ADS_1
Fateeh masih terlihat tidak ikhlas mengantar papa pergi. Aku tahu dia sedih, aku pun sama. Tapi sebagai anak, kami hanya bisa menuruti apa yang Papa inginkan. Ini semua demi kebahagiaan papa sendiri.
Saat aku dan Fateeh mengantar Papa masuk ke kamarnya, dia sudah disambut hangat oleh kedua temannya. Mereka saling merangkul dalam gelak tawa bahagia.
Papa langsung bercengkerama dengan mereka. Membicarakan banyak hal sampai aku dan Fateeh diabaikan.
Ada sedikit rasa lega dalam dada. Melihat bagaimana mereka bahagia dengan dunianya, aku akhirnya sadar bahwa tidak semua kebahagiaan itu bisa didapatkan di rumah sendiri. Di usia Papa, dia lebih suka berada di dalam lingkungan yang memang seumuran dengannya. Melakukan hal yang benar-benar mereka inginkan.
"Aku bisa pulang dengan tenang sekarang, Pah."
Papa tersenyum.
"Aku akan sering berkunjung ke sini."
"Jaga diri baik-baik, Nak." Pesan papa saat kami berpelukan.
Berat rasanya aku melepaskan pelukan Papa.
"Fateeh, jaga Iksia baik-baik. Bagaimanapun juga dia tetap adik kamu. Tidak semua ikatan persaudaraan itu harus terikat karena darah. Dia amanah papa dan mama untuk kamu. Papa akan sangat berterimakasih jika kamu mau menjaganya."
Pesan Papa tidak hanya sekedar pesan biasa, ada pesan mendalam dari ucapannya. Orang tua memang tidak akan bisa dibohongi, tahu Khadijah meminta Fateeh jaga jarak denganku, pasti Papa tidak ikhlas.
"Memangnya Kak Arzhan tidak bisa izin sebentar dan ikut mengantar Papa?"
"Ini jadwal dia di rumah Alea, Kak. Tidak ada alasan apa pun untuk membuat dia meninggalkan istrinya."
"Hmm. Aku sudah sangat bersyukur karena Alea mau berbagi suami."
"Kapan bayi itu lahir? gue ingin dia cepat diceraikan oleh Kak Arzhan."
Aku melirik Fateeh.
"Bagaimana dengan Khadijah? Apa dia masih melarang kita berjaga jarak? Sepertinya Papa tau hal itu."
"Sejauh ini kita hanya dilarang saling bersentuhan."
"Dia memang benar, Kak."
"Tapi rasanya aneh. Gue bahkan kangen kita berantem seperti dulu. Rindu saat weekend tiba, berkumpul di sore hari sambil minum teh atau makan bersama di belakang."
"Saat sosok ibu tidak ada lagi di rumah, maka kehangatan di sana akan ikut pergi. Sebaik apa pun aku berusaha menggantikan perannya, tetap saja tidak akan bisa."
"Ya, gue tau. Gue dua kali kehilangan ibu, Dek."
"Setidaknya kakak punya papa dan Kak Arzhan. Aku?"
__ADS_1
Fateeh menoleh. Mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu namun dia urungkan.
Memiliki suami dana anak-anak rasanya tetap saja beda saat kita sudah tidak memiliki orang tua. Sandaran utaman sudah tidak ada. Tidak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah. Tidak ada lagi tempat untuk bermanja saat masalah datang menghantam secara bertubi-tubi.
Hari ini adalah hari pertama aku kerja di kantor Papa. Ditemani Pak Sam dan pak Raga.
Menjadi pemilik perusahaan ternyata tidak lah mudah. Beban tanggung jawab di pundak begitu berat.
Sehari belajar bersama Pak Sam membuat aku mengerti kenapa papa selalu ingin cepat menyerahkan perusahaannya padaku.
Sudah sekian lama Papa bekerja, di umurnya yang sekarang memang sudah sangat melelahkan.
Aku harus membaca semua laporan. Meluruskan masalah yang ada, dan harus bisa bersikap bijak pada semua keputusan agar tidak merugikan salah satu pihak.
Ingin sekali rasanya aku menghubungi Arzhan. Meski hanya sekedar bertanya kabar, tapi itu akan melanggar perjanjianku dengan Alea. Kami membuat kesepakatan jika Arzhan sedang berada di rumah salah satu dari kami, maka kami tidak bisa mengganggu meski hanya menghubungi lewat ponsel.
"Bukankah sore ini Pak Arzhan pulang, Non?" tanya Pak Raga.
"Iya, Pak."
"Kenapa wajahnya masih kusut? Haruskah kita ke laundry terlebih dahulu?"
"Hmm?"
"Kita setrika dulu siapa tau jadi rapi."
Candaan receh Pak Raga cukup membuat aku tertawa untuk sesaat.
Baru saja aku menapakkan kaki di teras rumah, ponselku berdering. Sebuah chat masuk.
"Sayang, aku pulang besok pagi. Alea sedang sakit. Maaf, ya."
Aku seperti kehilangan tenaga untuk kembali melangkah. Untuk sejenak aku hanya diam di ambang pintu.
"Mom." anak-anak berlari padaku. Mereka terlihat bersemangat sambil tersenyum ceria.
"Apa, Sayang? Bagaimana hari kalian? Apa menyenangkan? Bagaimana dengan sekolah kalian?" Aku berlutut sambil mencium dan memeluk mereka.
"Mom, besok harus datang ke sekolah. Di sekolah ada acara game. Kami akan bermain permainan tradisional. Mom and Dad wajib datang."
"Oh, begitukah?"
"Dad pulang kan malam ini? Kenapa keluar kotanya lama sekali?"
Aku selalu bilang jika ayah mereka kerja keluar kota setiap tiga hari dalam seminggu. Mereka belum cukup mengerti untuk tahu hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Aku segera mengirim pesan pada Arzhan.
"Besok orang tua harus datang ke sekolah anak-anak. Mas pasti datang bukan?"