
"Wah, apa hari Minggu ini kita akan rujakan?" tanya Fateeh saat melihat Mama sedang mengiris jambu air. Ada sambal di samping wadah jambu air.
Tidak hanya jambu, ada juga buah-buahan lainnya.
"Pedes, gak, tuh?"
"Enggak, mama sengaja banyakin gula sama kacangnya."
"Harusnya kita itu bikin liwet, Ma. Enak kali, ya."
"Bener juga, Si. Gimana kalau Minggu depan kita bikin acara liwetan, makannya pake daun pisang. Seru itu. Nanti Fateeh dan Arzhan bawa pacar kalian ke sini, pasti lebih seru."
Uhuk!
Aku tersedak.
"Hati-hati, Nak. Makan jambu air memang suka kesedak."
Uhuk! Uhuk!
"Ini minum." Fateeh memberikan aku segelas air putih.
"Aduh, panas hidung aku."
"Udah, makan rujaknya jangan banyak-banyak, Nak."
"Iya, Pah."
"Mama juga. Udahan makan rujaknya. Jangan kebanyakan nanti sakit perut. Udah kayak orang hamil aja."
"Hamil? Wah, aku seneng banget kalau mama hamil lagi, itu artinya aku akan punya adik baru. Bosen soalnya sama adik yang lama."
"Kakak!" Aku naik ke atas tubuh Fateeh dan melakukan pergulatan seperti dulu.
"Udah, stop!" Arzhan marah. Aku dan Fateeh langsung menghentikan pergulatan yang sedang sengit-sengitnya.
"Bisa gak, sih, kalian jangan bertingkah seperti itu. Malu sama umur."
"Ya biasa aja kali gak usah pake teriak segala. Kayak emak-emak Lu, Kak."
"Udah, udah, kenapa malah bertengkar sih. Kalian itu ya, udah kayak anak TK aja. Yang becanda berdua, satunya terasingkan dan marah. Mungkin mama benar-benar harus punya anak satu lagi."
"Iya, Ma. Setuju! Biar Iksia buat Kak Arzhan aja."
Aku bersiap untuk kembali memukul Fateeh. Namun, melihat tatapan Arzhan yang tajam padaku segera aku urungkan niat.
Suasana kembali tenang setelahnya. Papa dan Arzhan berbicara tentang masalah pekerjaan. Sementara Mama pergi mengambil beberapa sayuran. Fateeh sibuk dengan ponselnya sambil cengar-cengir.
Sesekali aku curi-curi pandang menatap Arzhan. Ada kerinduan yang tiba-tiba menyerang dalam hati.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? ah, benar. Aku kan sedang marahan sama dia. Mungkin ini akan berhasil ....
Aku bangun dan berjalan menghampirinya. Duduk di sampingnya lalu memeluk tubuhnya Arzhan. Papa yang sedang bicara langsung berhenti, pun Fateeh yang fokusnya langsung beralih padaku.
__ADS_1
"Cih! pasti ada maunya. Lu takut ya habis dibentak tadi." Fateeh berkomentar.
"Maaf, ya, Kak."
Papa tersenyum melihatku merengek.
"Kalian itu sangat dekat, tapi kenapa sering berantem?"
"Nah, kan, Pah. Aku pernah bilang kalau mereka itu kayak kucing dan anjing."
Aku menendang kaki Fateeh.
"Kakak jangan diem aja, sih. Aku beneran minta maaf."
"Tau gak, aku meninggalkan pekerjaan hanya karena takut telat jemput kamu sekolah. Kamu malah pergi sama Papa dan Mama."
"Habisnya kakak nakal!"
Arzhan mengabaikan aku, dia bahkan tidak membalas pelukan dariku.
"Ya udah lah kalau gak mau di maafin!" Aku merasa sangat kesal diabaikan begitu saja. Mati-matian membuang harga diri untuk meminta maaf di depan semua orang tapi nyatanya aku tidak direspon sama sekali.
"Males!"
Aku akhirnya pergi meninggalkan mereka.
"Nah, kan. Marah lagi dia. Kakak, sih, susah banget tinggal bilang iya." Fateeh bersuara.
"Iksia, mau ke mana?" Mama berteriak.
Benar-benar menyebalkan!
Masuk ke rumah, menaiki tangga menuju kamarku. Kaget bukan kepalang begitu aku membalikan badan hendak menutup pintu kamar. Arzhan sudah berdiri di sana.
Dia hanya diam berdiri sambil menatapku. Kubiarkan pintu terbuka tanpa mempersilakan atau menyuruh dia pergi.
Dia mengikuti masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Kami masih saling diam sambil duduk di kursi. Bingung harus mengatakan apa.
"Kenapa kamu begitu ketakutan saat melihatku waktu itu?"
"Aku gak suka kakak bawa mobil kenceng banget. Kakak bahkan mengabaikan aku yang ketakutan. Aku nangis pun sampai diabaikan."
"Sebelum ke sekolah. Kamu lari ke mobil seolah penjahat sedang mengejar kamu."
"Aku gak tau, tapi aku beneran males dan gak mau aja ketemu kakak."
Arzhan berdiri. "Kalau begitu aku pergi."
Aku berlari mengejar Arzhan hingga di depan pintu, tangannya sudah siap di handel pintu untuk membukanya.
"Jangan pergi." Aku memeluk Arzhan dari belakang.
__ADS_1
Aku rindu tubuh ini. Aku rindu bau tubuhnya. Aku rindu semua yang melekat pada dirinya.
Arzhan berbalik dan melepaskan pelukanku.
"Kalau kesal, kalau marah, kalau benci, katakan. Jangan pergi menghindar karena itu membuat aku merasa tidak berguna. Hmmm?"
Aku mengangguk.
"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu." Arzhan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Aku juga kangen sama kakak." Aku membalas pelukannya.
Hubunganku dan Arzhan kembali membaik, diapun kembali menjadi sopir pribadiku. Kami membuat kesepakatan untuk menjalani hubungan asmara yang wajar. Tidak lagi melakukan 'kesalahan' seperti waktu itu.
"Mau pergi nonton? Oh, iya. Sudah lama kita gak pernah liburan. Mau pergi?"
"Ke mana? berdua?"
"Kalau berdua, nanti bisa terjadi sesuatu yang diinginkan," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Maksudnya?"
"Bukan apa-apa." Arzhan mengacak-acak rambutku.
"Kita liburan bareng keluarga aja, gimana? Kira-kira Papa ada waktu gak, ya?"
"Pasti akan ada kalau buat kamu. Kadang aku heran sama Papa, dia lebih menyayangi kamu ketimbang aku. Berasa aku yang jadi anak sambungnya."
"Aku benar-benar istimewa bukan? Papa begitu mencintai aku, aku juga punya dua orang kakak yang baik. Yaaa meski kak Fateeh suka nyebelin, tapi dia perhatian."
"Dua orang kakak? Apa aku salah satunya?"
"Iyalah, siapa lagi?"
"Oooh, jadi sebatas kakak doang selama ini?"
"Idih, idih. Kakak ngambek. Gumusshnya ...." Aku mencubit pipi Arzhan sebelum menciumnya gemas.
Semua berjalan seperti semula, kami akrab seperti adik kakak di rumah, dan mesra saat di luar rumah. Berusaha menghindar momen yang membuat hasrat itu muncul dan kembali melakukan kesalahan.
Jika momen itu ada, sebisa mungkin aku akan mengalihkannya dengan hal lain. Aku tahu, Arzhan mungkin kecewa, beberapa kali dia terlihat meremas kepalanya dengan kasar. Namun, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak jatuh di lubang yang sama.
"Kita ke cafe aja, ya." Aku mengajak Arzhan keluar dari apartemennya. Mencari ruang yang lebih terbuka.
"Sayang ...."
"Kita sudah sepakat, Kak. Kakak harus menepati janji kakak."
Arzhan meninggalkanku untuk mengambil kunci mobil, dia juga berjalan lebih dulu keluar dengan wajah kesalnya.
Tidak cukup sampai di situ, saat di cafe pun dia masih terlihat marah dan enggan bicara denganku. Dia hanya fokus pada layar ponsel. Entah apa yang sedang dia lihat.
"Kalau begitu, tetaplah di sini dengan ponselnya. Aku pulang jika sudah tidak dibutuhkan."
__ADS_1
"Ayo kita pulang."
Lagi-lagi dia berjalan mendahuluiku.