Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Di balik tirai


__ADS_3

Aku dan Arzhan mengantarkan Alea ke rumahnya. Bukan rumah orangtuanya, lebih tepatnya ke rumah Alea yang diberikan oleh Arzhan.



Rumahnya tidak terlalu besar, Alea bilang dia takut jika rumahnya terlalu luas.


"Kalian mau minum?" tanyanya saat kami masuk ke rumahnya.


"Enggak, kami harus segera pergi karena harus menjemput anak-anak," ujar Arzhan.


Ya, Sakya dan Chana tidak lagi home schooling, mereka kini bersekolah di institusi pendidikan resmi, dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.


"Nanti aku akan menginap di sini setiap Senin-Rabu. Sisanya aku menginap di rumah Iksia."


"Oke, itu cukup adil. Lagi pula setiap akhir pekan aku harus pergi dengan ayah janinku."


"Itu juga jadi alasanku."


"Kalian hati-hati di jalan."


Alea mencium tangan Arzhan, dan Arzhan memeluknya lalu mencium kening Alea.


Sadar se sadar-sadarnya kalau Arzhan juga suami Alea, akan tetapi hatiku pun tidak bisa berbohong kalau aku ... cemburu.


Kami segera berpamitan, aku berjalan keluar mendahului Arzhan. Menunggu di samping mobil. Berdiri dengan memainkan kaki. Menginjak-injak gak jelas.


"Ayo, sayang."


"Kalau masih butuh waktu, gak apa-apa. Aku masih bisa menunggu," ujarku kesal. Arzhan keluar agak lama sejak aku menunggu di sini.


"Tadi ada sedikit obrolan dulu."


"Rahasia?"


Arzhan mengerutkan keningnya. Setelah cukup lama dia akhirnya tertawa.


"Ada yang lucu?"


Arzhan mendekat. Dia membelai kedua pipiku sambil tersenyum manis.


"Kamu lucu kalau sedang cemburu."


"Lucu? Tapi bagiku sangat menjengkelkan tauuu."


"Aku minta maaf." Arzhan memelukku. Saat kami sedang berpelukan, aku melihat seseorang mengintip dari balik tirai.l9


Apa itu Alea?


Aku merasa seperti mengenang masa lalu. Rasa itu masih sama. Menggenggam erat tangan saat dia menyetir, sesekali mengusap kepala yang kini tertutup hijab saat di lampu merah.


Senyum Arzhan tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia bahkan terlihat tertawa kecil. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku tidak akan bertanya, biarkan dia berbahagia dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Setelah menjemput anak-anak, mereka merengek-rengek minta dibelikan es krim. Arzhan bilang dia seperti mengasuhku dulu.


"Apa Mom juga sering menangis minta es krim?" tanya Chana.


Arzhan tertawa. Dengan semangatnya dia menceritakan bagaimana manjanya dan nakalnya aku waktu itu. Dia bahkan sedikit menambahkan cerita agar anak-anak semakin senang.


Saat mereka sedang asik membicarakan aku di masa lalu, aku kembali teringat pada sosok yang mengintip di tirai rumah Alea tadi.


Jika itu Alea, kenapa dia mengintip seperti itu? Bukankah seharusnya dia ikut saja keluar mengantar kami pulang.


"Sayang, ada apa? Tadi saat kita menjemput anak-anak, kamu sepertinya memikirkan sesuatu," tanya Arzhan saat kami hendak tidur.


Aku tidur dengan tangan Arzhan sebagai bantalnya. Sementara tangan Arzhan yang satunya mengelus-elus pipiku, kadang memainkan alis, kadang juga dia mengacak-acak rambutku.


Menatapnya seperti ini adalah sebuah mimpi yang aku pikir tidak akan menjadi kenyataan. Kini, laki-laki ini bhlisa dengan bebas, dengan sepuas hati aku peluk dan aku pandang, tanpa takut ketahuan siapapun lagi.


"Kenapa? Apa aku begitu tampan sampai kamu terus saja menatapku."


Aku mengangguk pelan. Dia tertawa.


"Dari sini," dia menunjuk rambu, "sampai ke sini," di menunjuk kaki. "Milik kamu semua."


Aku menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Milikku dan juga Alea. Bagaimana pun juga kalian tetap suami istri. Ada hak dia atas tubuhmu, hatimu, dan juga hartamu."


"Meski kamu bukan ayah biologis dari janinnya, tapi kewajiban kamu sebagai suami pada Alea tetap sama seperti kewajiban kamu padaku."


Arzhan menarik tangannya yang menjadi bantalku tidur. Dia membelakangiku.


"Itulah kenapa aku takut." Aku memeluk Arzhan. Beberapa menit kemudian dia kembali berbaik dan membalas pelukanku.


"Haruskah aku ceraikan dia sekarang? Toh sudah jelas dia mengandung anak orang lain. Itu bisa menjadi alasan aku menceraikan dia."


"Jangan. Tunggu sampai dia melahirkan."


"Apa kamu akan baik-baik saja selama itu? Aku tidak ingin membuat kamu menderita, Sayang."


"Insya Allah aku bisa, Mas."


Arzhan merenggangkan pelukan kami, dia menatapku heran. Aku tersenyum.


"Aku ingin manggil kamu Mas. Boleh?"


"Apa pun, Sayang."


Untuk waktu yang lama, kami sering menatap dalam kebahagiaan.


Dengan sinar lampu yang redup, kini aku memberikan apa yang seharusnya tidak aku berikan dulu padanya. Melakukan dosa yang kini berubah menjadi ladang pahala.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim ....


"Iksia, kapan kamu mulai masuk kerja? Papa sudah ingin pensiun," tanya Papa saat kami sarapan.


Aku melirik Arzhan.


"Mungkin nanti, Pah. Aku masih belum bisa meninggalkan anak-anak. Aku juga masih harus menggantikan mama di rumah ini."


Papa hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban dariku yang selalu sama. Sejak lama setelah Mama pergi, Papa sering memintaku agar segera bekerja lagi. Papa ingin aku belajar memegang perusahaan besar yang dia pimpin saat ini.


"Pah, besok aku akan membawa pacarku ke sini," ucap Fateeh. Tentu saja aku sangat senang. Seluruh keluarga senang.


Lama sejak dia putus dengan kekasihnya yang dulu, Fateeh seperti tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita lain. Namun, pagi ini dia memberikan pengumuman yang membuat kami terkejut dan bahagia.


"Aku akan masak makanan yang enak nanti malam. Jam berapa kalian akan ke sini?" tanyaku.


"Jam tujuh malam. Aku harap kalian semua ada di rumah saat itu."


"Tentu saja. Bukan begitu, Pah? Mas?"


Fateeh mengerutkan kening mendengar aku memanggil Arzhan dengan sebutan Mas.


Aku tersenyum malu-malu. Dia menggelengkan kepala sambil membuang nafas.


"Om, pacarnya cantik gak?" tanya Chana.


"Tentu saja."


"Cantik mana sama aku?"


Fateeh tertawa, "Tentu saja cantik kamu, Sayang." Fateeh mencubit hidung Chana.


"Kalau begitu, sama aku aja pacarannya."


"No!" ucap Arzhan.


"Tuh, daddy cemburu." Fateeh berbisik pada Chana.


Mereka tertawa.


Kebahagiaan ini begitu sempurna. Aku kini menjadi istri dari laki-laki yang selama ini aku cintai. Anak-anak bisa hidup normal dan tidak harus bersembunyi lagi dari dunia. Akhirnya Fateeh akan membawa kekasihnya ke rumah.


Namun, meski tersenyum, wajah papa menyiratkan kesedihan yang mendalam. Rasa kehilangan itu tidak bisa diganti meski oleh beberapa anggota keluarga lainnya.


Rasa cinta Papa, bisa aku lihat dari seringnya dia mengaji Yaasin setiap selepas magrib. Meski dengan terbata-bata, Papa tidak pernah lelah berusaha memberikan 'hadiah' pada Mama.


Sebelum dan sesudah ke kantor, Papa selalu membawa bunga dan air yang telah dia bacakan Yassin malamnya.


Dia selalu berbicara sendiri, seolah sedang berbincang dengan mama.


Tangan Papa selalu bergetar saat akan pulang meninggalkan makan mama. Dia selalu bilang padaku, kalau dia ingin segera tidur di samping kekasihnya.

__ADS_1


Ma ... lihatlah, begitu besar rasa cinta Papa untuk mama. Semoga, Arzhan pun memiliki rasa sedalam itu untukku. Aamiin ....


__ADS_2