Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Kenangan manis seperti es krim


__ADS_3

Sungguh, manusia itu terkadang sangat menakutkan melebihi binatang. Setidaknya hewan itu memang tidak memiliki akal, lain hal nya dengan manusia. Namun, sayang sungguh sayang akal mereka digunakan untuk bertindak seperti binatang.


"Wanita kalau memang sudah cemburu sangat mengejutkan. Bisa melakukan segala sesuatu di luar kendali."


"Kenapa harus cemburu? Bukankah mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain. Atau hanya Arzhan yang tidak memiliki perasaan itu? Atau jangan-jangan mereka berdua berbohong dan memang saling mencintai?"


Pak Raga tidak bisa menjawab apa-apa atas beberapa pertanyaan yang aku ajukan.


"Jika bukan karena dia istri Arzhan, dan atau bukan karena dia sedang hamil, mungkin dia sudah meringkuk di jeruji besi."


Selalu saja ada sisi belas kasih dalam setiap hari manusia yang memang punya perasaan. Meski kesal, aku masih mau memaafkan karena kondisinya yang sedang mengandung.


"Coba lihat ini dulu." Pak Raga memberiku sebuah video.


"Apa yang dikatakan supir waktu itu ya inilah."


"Dari mana Pak Raga mendapatkan video ini?"


"Aku punya beberapa keahlian dalam hal menakuti orang."


Dalam video itu terlihat wanita yang menjadi tamu malam itu. Dia mengaku bahwa dia diminta Alea untuk mencari gara-gara.


"Aku diminta untuk memojokkan Iksia tentang kehamilannya dan statusnya di rumah itu. Itu semua karena Alea ingin semua orang tau bahwa dialah istri Arzhan yang sesungguhnya. Dia bilang kalau dia adalah nyonya di rumah itu, bukan Iksia yang cuma anak tiri Pak Indra."


Begitulah ucapan wanita yang ada di dalam video.


"Aku masih penasaran kenapa Alea melakukan semua ini. Dia lupa kalau aku memegang kartu as dia? Apa dia tidak takut jika aku memberitahu keluarganya tentang siapa ayah anak yang sedang dia kandung."


"Tenangkan dulu dirimu. Minum ini." Pak Raga menyodorkan segelas es teh manis.


"Pak Raga, bapak tau? Saya merasa kalau bapak ini bukan hanya sekedar bodyguard bagiku. Setiap ada masalah, saat orang-orang jauh, dan saat saya butuh, bapak yang pertama selalu ada."


Pak Raga tersenyum.


"Andai saja ayah saya baik seperti Bapak, mungkin hidup saya akan lain lagi ceritanya. Mungkin saya tidak akan berada dalam kesulitan seperti sekarang. Mama mungkin tidak akan meninggal karena ulah saya."


Akan ada cerita berbeda dengan orang dan waktu yang berbeda. Kadang aku berpikir jika saja ayah masih ada dan tidak sejahat dulu, aku pasti akan menjadi anak tunggal yang bahagia.


"Tapi itu berarti Sakya dan Chana tidak akan pernah ada. Dan mungkin kita berdua tidak akan pernah bertemu."


Benar, akan ada yang hilang dari sebuah cerita di tempat dan waktu yang lain.


Dari semua jalan hidup yang aku sesali, keberadaan mereka lah yang tidak ingin aku hilangkan jika pun aku hidup di cerita yang berbeda. Aku ingin Sakya dan Chana tetap menjadi bagian dari hidupku meski aku hidup di sisi yang lain.


"Jangan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Tugas kita hanya memperbaiki hidup selanjutnya."


Aku dan pak Raga kembali dalam diam. Sesekali aku melihatnya. Semakin sering melihat semakin aku merindukan sosok orang tua. Untuk pertama kalinya aku merindukan sosok ayah. Meski dia begitu jahat, ada sisi manis yang pernah aku rasakan saat bersamanya.


"Besok kita akan pergi ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Makam ayah."


Pak Raga terlihat terkejut mendengar tempat yang akan aku tuju.


Sudah buka rahasia lagi bagaimana ayahku bersikap pada kami, aku dan mama. Mungkin Pak Raga heran karena aku mau berkunjung.


"Mom, bacain dongeng, ya." Chana merengek saat aku berusaha menina bobokannya.

__ADS_1


"Sekali lagi, oke. Setelah itu kamu bobo karena besok harus sekolah."


Gadis kecil itu mengangguk.


Aku membacakan dongen untuk Chana, sementara Sakya sudah tertidur sejak tadi.


"Mom, boleh aku bertanya?"


"Yups."


"Anak haram itu apa, sih?"


Jantungku hampir copot mendengar pertanyaan dari Chana.


"Why?"


"Katanya aku ini anak haram soalnya. Apakah aku seekor babi?"


"No! tentu saja bukan."


"Lalu kenapa mereka bilang kalau aku ini anak haram."


What the ....


"Siapa yang bilang?"


"Tante yang waktu itu marah-marah. Yang di perutnya ada baby."


Alea? Kurang ajar!


"Lupakan ucapan orang itu ya. Sekarang kamu bobo, besok mom antar kamu ke sekolah. Nanti kita ketemu opah, mau?"


"Sssttt. Jangan berisik, nanti kakak bangun."


Chana menutup mulutnya. Di balik tangan mungilnya dia terlihat tersenyum bahagia. Bagaimana pun juga, Chana sangat dekat dengan Papa. Dia pasti merindukan kakeknya.


Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, aku pergi menuju makan ayah.


"Kenapa tiba-tiba ingin berkunjung ke makam ayah, Non? Kita masih ada pekerjaan dan jaraknya cukup jauh dari sini."


"Hanya ingin meminta maaf."


"Untuk?"


"Karena tidak pernah berkunjung meski hanya sekali."


Pepohonan, sawah yang sedang menguning menjadi pemandangan perjalanan kali ini. Ayah meninggal di daerah pesisian di tempat istri barunya waktu itu.


Semakin dekat, aku merasa tidak karuan. Bingung haru mengatakan apa nanti di sana. Haruskah aku menyalahkan dia atas semua yang terjadi? Ataukah aku akan meminta maaf karena menjadi anak durhaka yang tidak pernah mendoakannya.


Mobil berjalan menuju jalanan terjal. Jalan bebatuan yang membuat mobil dan penumpangnya bergoyang. Bahkan beberapa kali kepalaku terbentur kaca. Beberapa kali pula Pak Raga mengingatkan aku untuk menjauh dari jendela mobil.


Saat aku membuka pintu mobil untuk turun, jalannya masih tanah. Aku bingung karena memakai high heels.


"Ayo." Pak Raga berjongkok di depanku.


"Apa?"


"Naiklah. Akan saya gendong."

__ADS_1


"Yang benar saja."


Meski aku menolaknya, Pak Raga masih saja berada di posisi yang sama.


"Ayo naik."


"Enggak. Ya malu kali, Pak."


"Malunya kenapa? Anggap saja saya ini kakak, emmm bukan, ayah deh."


"Ngarang aja."


"Daripada pake high heels, yang ada nyangkut itu sandal. Lagi pula, tau mau ke makam malah pake sendal buat ke pesta."


"Ya kan dikira makam nya kayak makam di kota-kota."


"Kan tau makamnya ada di pinggiran kota."


"Ya udah lah. Nyeker aja."


Pak Raga berdiri lalu melepaskan sepatunya.


"Pakai ini saja." Dia memberikan sepatutnya padaku.


"Tap--"


"Jangan membantah atau kita akan pulang besok pagi karena kelamaan berdebat."


Melihat bagaimana tinggi dan besarnya Pak Raga, sudah bisa dipastikan seberapa besar ukuran sepatunya. Mungkin tiga telapak kakiku masuk ke dalam satu sepatu miliknya.


Aku kesulitan berjalan karena harus menyeret kaki yang keberatan alas.


Bahkan Pak supir tidak ragu lagi untuk tertawa keras melihat bagaimana konyolnya keadaanku saat ini.


Big foot. Itulah nama yang pas untukku saat ini.


Pak Raga menunjukkan satu kuburan yang terlihat terawat dibandingkan dengan kuburan yang lainnya. Mungkin istri baru ayah sering berkunjung ke sini.


"Untung ya punya bodyguard yang super hebat, kita bisa tahu yang mana makamnya ayah Non Iksia."


Aku tersenyum pada Pak supir yang begitu puasa mentertawakan aku tadi.


Aku duduk di samping kuburan itu, melihat nama yang terukir di pusara. Hamdan Nugraha Bahama.


"Yah ... ini Iksia. Ayah masih ingat? Tentu saja ayah ingat kan? Kita pernah pergi membeli es krim saat hujan deras dan dimarahi mama saat ketahuan. Kita bahkan pernah mengambil mangga pak RT lalu tersengat tawon dan aku demam sehari semalam. Ayah bahkan harus dimarahi mama habis-habisan waktu itu."


Aku tersenyum meski mataku memanas.


"Ayah, mama sekarang sudah berada di alam yang sama dengan Papa. Aku sendirian sekarang, Yah."


Air mataku tumpah. Tangisanku pecah.


"Andai saja malam itu Papa tidak pergi dan pulang membawa wanita itu, apakah kita masih bisa hidup bahagia? Aku selalu ingin jadi anak tunggal yang tidak kekurangan kasih sayang meski hidup kita tidak bergelimang harta. Aku kadang membayangkan bagaimana jika saat itu ayah adalah sosok ayah yang diinginkan banyak anak di dunia. Mungkin, aku akan menjadi anak yang paling bahagia."


Pak Raga duduk di sampingku. Dia mengelus kepalaku pelan.


"Doakan saja agar ayahmu tenang."


Aku menoleh pada Pak Raga. Dia tersenyum padaku.

__ADS_1


Allahu magfirlahu, wa afihi wa fuanhu ... Al Fatihah.


__ADS_2