Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Pengkhianatan


__ADS_3

"Aku titip Arzhan dulu sebentar. Aku akan segera kembali," pinta Alea padaku dan Fateeh. Mama dan Papa sudah terlebih dahulu pulang setelah memastikan Arzhan mendapatkan ruangan.


"Mau ke mana?" tanyaku.


"Ambil pakaian ganti."


Aku mengangguk. Mungkin dia mengambil pakaian untuknya selama berjaga di sini.


"Dek, gue balik duluan, ya. Gue ada seminar soalnya. Andai gue punya rumah sakit, sayangnya cuma klinik kecil. Itupun jauh. Kalau deket 'kan bisa dirawat sama gue."


"Semua juga berawal dari bawah. Buktikan saja dulu kalau kakak mampu mengelola klinik, selanjutnya tinggal bikin rumah sakit."


"Iya, sih. Ya udah, gue duluan."


"Hati-hati."


Aku duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arzhan. Melihatnya yang tertidur dengan wajah yang pucat.


Dokter bilang dia terlalu lelah dan juga tidak teratur menjaga makannya. Mungkin jika dikatakan kelaparan, sih, terlalu kasar dan tidak mungkin.


"Kak, lekas sehat lagi." Aku mengusap punggung tangannya.


Arzhan masih tertidur, sementara Alea belum juga datang. Sudah satu jam lamanya aku menunggu. Namun, Alea tidak juga kembali.


"Udah bangun, Kak?"


Arzhan membuka matanya.


"Kakak mau apa? Minum? Atau butuh sesuatu?"


Arzhan menggelengkan kepalanya lemah. Dia bergerak seperti hendak duduk. Aku mendekat untuk membantunya.


"Terimakasih."


"Hmmm."


Dia duduk dan bersandar pada kasur yang aku naikkan. Sementara aku duduk di sampingnya. Memandang wajahnya dengan seksama. Dia agak kurusan.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"


"Kenapa kurus banget, sih, Kak? Lihat ini." Aku memegang pipinya. Dia langsung menangkap tanganku dan menggenggamnya erat.


"Apa aku masih boleh merindukanmu?" tanyanya lesu sambil menunduk.


"Aku juga merindukan kakak. Setiap hari sepanjang waktu. Perasaan itu tidak pernah berubah sama sekali. Hanya saja, sebagai manusia kita tidak bisa hanya mempedulikan perasaan kita sendiri. Terutama kakak, kakak sudah punya wanita yang seharusnya kakak jaga."


"Ya, aku tau. Aku sangat mengerti. Sekarang aku harus mementingkan dia juga meski itu membuat aku lelah dan muak."


"Aku tidak akan meminta kakak melupakan apa yang terjadi, silakan kakak ingat tapi hanya untuk diri sendiri dan di dalam hati. Jangan biarkan hal ini menyakiti orang lain."

__ADS_1


"Kamu bahagia?"


Jika kebahagiaan itu berkaitan denganmu, aku jelas tidak bahagia. Tapi aku punya anak kita, Kak.


"Aku bahagia. Setidaknya ada hal yang indah dari hubungan kita."


"Baiklah. Itu cukup untukku. Asal kamu bahagia, maka tidak ada yang perlu aku cemaskan lagi."


Arzhan melepaskan genggaman tangannya.


"Kakak mau minum?" dia menggelengkan kepalanya.


Kami hanya saling diam untuk waktu yang cukup lama, hingga dia kembali tertidur.


Aku kembali melihat jam tangan, waktu menunjukkan sudah malam hari. Sejak pagi diam menunggu Arzhan di rumah sakit membuat perutku terasa perih.


"Kak, aku masih di rumah sakit, Alea belum kembali."


Aku mengirimkan pesan pada Fateeh.


Ruangan ber AC dan aku pun merasa dingin, akan tetapi kening Arzhan berkeringat. Aku segera mendekat, menyeka keringatnya dengan tisu.


Aku bisa merasakan embusan nafasnya yang terasa panas. Dia juga tidur dengan gelisah. Aku berpindah tempat ke belakang tubuhnya lalu memeluknya dengan hati-hati.


Arzhan mulai tenang setelah cukup lama berada dalam dekapanku.


Fateeh datang, dia terlihat sedikit terkejut melihatku memeluk Arzhan. Aku segera turun.


"Entahlah, dia tadi tidurnya gelisah. Makanya aku peluk."


"Cepat makan. Jangan sampai kamu ikutan sakit juga."


Arzhan membawakan ayam krispi saos keju. Selesai makan, aku pamit pada Fateeh. Malam ini dia yang akan menjaga kakak tertua kami.


Malam semakin larut, dan kemacetan masih saja terjadi. Terutama saat berada di lampu merah. Sudah ada rambu-rambu pun mereka masih saja melanggar dan menyebabkan kemacetan panjang.


Mataku menyapu sekeliling, entah apa yang sedang aku cari.


Pandanganku terdiam pada seseorang. Seorang wanita dengan pria di dalam mobil yang sedang bercumbu.


"Sempat-sempatnya, ya, mereka." Aku bergumam. Namun, saat semakin mataku memerhatikan, aku terkejut melihat wanita yang ada di dalam mobil. Aku pun baru sadar tentang mobil itu.


"Itu kan mobil ...."


Tanpa pikir panjang aku turun dari mobil. Berdiri dengan kesal di depan mobil orang itu.


Melihat aku berdiri, mereka heran dan terkejut, terutama wanita yang ada di dalamnya. Aku melihat gerakan bibirnya yang meyebut namaku.


Tidak perlu melakukan sesuatu untuk membuat seseorang merasa takut. Cukup dengan kita tahu perbuatan buruk mereka dengan diam.

__ADS_1


Aku segera masuk ke mobil karena lampu sudah hijau. Tidak peduli Alea mengejar dan memintaku untuk berhenti.


Untuk apa? Apa dia akan memberikan penjelasan tetang apa yang dia lakukan tadi? Percuma!


Niat ingin pulang ke rumah aku urungkan. Aku kembali memutar arah untuk kembali ke rumah sakit. Aku ingin meminta penjelasan dari Arzhan. Aku yakin, ada semua yang tidak beres.


Namun, niat itu aku simpan dalam-dalam, dan memilih untuk kembali menuju rumah.


"Siapa yang menikahkan Kak Arzhan dengan Alea? Apa ini semua perintah Papa?" tanyaku saat kami sarapan.


"Nanti kita bicarakan setelah selesai makan. Gak baik."


"Ssssttt ... Mama gak usah membahasa baik dan buruk di depanku. Aku tahu dan aku pernah melakukan hal paling buruk di dunia ini. Sekarang katakan saja kenapa Kak Arzhan sampai menikah dengan Alea?"


"Papa hanya menyarankan dan Arzhan menyetujui."


"Saran dari papa adalah sebuah paksaan bukan?"


"Nak ...."


"Apa kalian tau wanita seperti apa dia?" Aku bangun dari tempat duduk.


"Kalian benar-benar tidak tahu kalau dia ... dia ...."


"Mama sudah minta Arzhan untuk mengakhiri pernikahannya, tapi dia tidak mau."


"Jadi kalian tau semuanya?"


Mama mulai menangis.


"Katakan ada apa sebenarnya!"


"Arzhan adalah laki-laki tidak beruntung. Kami menyesal karena memasukkan dia ke dalam lembah penderitaan. Alea, kami kira dia wanita baik-baik, ternyata dia bahkan tidak bisa bersikap sopan pada suaminya."


"Kenapa kak Arzhan bertahan? Dia bisa menikahi wanita yang lebih baik dari Alea!"


"Kami tidak tahu. Papa sudah sering membujuk dia untuk bercerai, tapi dia menolak."


"Bodoh!"


"Arzhan sakit karena dia jarang makan. Alea sering tinggal di rumah ini karena tidak ingin mengurus Arzhan."


"Mereka tidak punya pelayan? Di rumah ini sangat banyak pelayan, kenapa tidak ada yang dikirim ke sana?"


"Alea menolak."


"Menolak?"


Ini pasti karena dia tidak ingin keburukannya terbongkar.

__ADS_1


Arzhan seperti kehilangan kendali, dia menerima semua sikap buruk istrinya yang aku mendengarnya saja sudah muak, kenapa dia diam tanpa melakukan apa-apa.


Arzhan, apa kamu tahu istrimu selingkuh? Kenapa diam saja? Kenapa kamu membiarkan dirimu menderita seperti ini?


__ADS_2