Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Pregnant


__ADS_3

"Gimana Iksia, Ar?" tanya Mama. Beruntung kami mendengar langkahnya menuju kamar. Jika tidak, mungkin Mama akan pingsan melihat anak-anaknya sedang bermesraan.


"Hanya butuh istirahat, Mah. Nanti juga baikan."


"Apa kita harus membawa dia ke dokter?"


"Enggak mau! Iksia mau bobo aja, Ma. Tolong minta Rere buatkan air teh manis anget."


"Kamu yakin gak apa-apa, Nak?"


"Enggak, Ma."


"Ya sudah, mama keluar dulu mau nyari Rere."


Mama kembali keluar dan menutup pintunya. Aku mencubit pinggang Arzhan cukup kencang hingga dia mengaduh kesakitan.


"Yank, kamu kenapa? Sakit tau."


"Untung suara Mama kedengaran, kalau enggak?"


"Kalau ketahuan ya kita dinikahkan."


"Kakak!"


Arzhan tertawa kecil. Lalu dia kembali melakukan apa yang dilakukan sebelum Mama datang tadi.


"Udah, ah! Sesak nafas lama-lama." Aku mendorong tubuh Arzhan.


"Ya sudah, aku ke atas dulu. Kalau butuh sesuatu, kasih tau segera."


"Iya, Cayanggg, gumusshnya!" Aku mencubit kedua pipi Arzhan. Lalu dia keluar.


Kini tinggal aku sendiri di kamar, tidak berapa lama Remi datang membawa teh manis hangat. Rasanya menyegarkan.


"Kalian keluar saja. Aku mau istirahat."


"Non, kata Nyonya pembalut Nona masih ada atau tidak? Tadi Non bilang perut Nona kram, kata Nyonya itu mungkin tanda mau datang bulan."


"Aku udah...."


Tunggu, datang bulan?


Aku segera turun untuk melihat kalender yang selama ini aku tandai khusu untuk pengingat haid.


"Re, ambilkan pembalut yang buat malam, ya."


"Iya, Non."


Mereka berdua pun keluar dari kamarku. Tubuhku terasa lemas, aku ambruk di lantai sambil menangis ketakutan.


Bagaimana ini? Kenapa sudah dua bulan aku gak datang bulan?


Aku segera kembali ke kasur, menutup tubuh dengan selimut agar mereka berpikir kalau aku sedang tidur dan tidak ada yang mengganggu.


"Sayang, Nak." Samar-samar aku mendengar suara Papa. Benar saja, dia ada di sampingku. Rupanya aku ketiduran.


"Bangun, makan malam dulu."


"Malam?"


Papa membantuku bangun untuk duduk.


"Kenapa matamu sembap? Kamu habis nangis?"


"Tadi kepala aku pusing banget, aku gak kuat makanya aku nangis."


"Kenapa gak manggil Papa, Mama, atau Arzhan. Kenapa malah dirasakan sendirian? Kalau memang sakit banget, kita periksa ke dokter."


"Aku mau minta diantar ke apotik aja, Pah. Nanti biar Kak Fateeh yang nganter."


"Iya, tapi kamu makan dulu. Sini papa gendong."


"Enggak, Pah. Aku gak laper. Aku jajan aja nanti sama Kak Fateeh."

__ADS_1


"Ya sudah, papa panggil Fateeh dulu. Kamu tunggu di sini."


Sambil menunggu Fateeh, aku berganti pakaian dan merapikan diri.


"Ayo, Dek."


"Habis dari apotik, kita jajan ya."


"Jangan yang mahal-mahal tapi, kartu gue disita papa semua."


"Kenapa? Pasti tagihannya gede lagi ya. Beliin apa lagi emangnya buat cewek itu?"


"Vesmet sama iPhone terbaru."


"Kakak emang bener-bener miring. Ya udah, aku minta uangnya dulu ke Kak Arzhan."


"Jangan minta uang, minta black card dia aja. Unlimited punya dia, sih."


"Ogah! Masa jajan martabak aja harus bawa black card segala. Udah, ah, buruan."


Aku dan Fateeh menuruni tangga dan menghampiri keluarga yang sedang makan malam.


"Hati-hati di jalan, ya, Fateeh. Jagain adek kamu."


"Siap, Pah."


"Kakak, aku mau jajan. Minta uang." Aku menengadahkan tangan yang salinga0paa bertumpuk.


Arzhan merogoh saku celananya, dia memberikan dompetnya padaku.


"Bawa aja semua. Uang cash nya cuma sedikit, kamu bisa ambil di ATM."


"Emang dia tau pin ATM kakak?"


"Hmmm." Arzhan menjawab singkat. Dari raut wajahnya dia pasti marah karena aku memilih pergi dengan Fateeh.


"Papa udah kasih kamu ATM dan kredit card 'kan?"


"Kata Kak Arzhan uangku ditabung aja. Biaya hidup aku Kakak yang tanggung. Ya udah, aku berangkat dulu. Takut keburu malam. Dah semuanya."


"Kenapa harus dia?"


Sudah aku duga, Arzhan kesal karena aku pergi dengan Fateeh.


Aku tidak membalas meski dia berulang kali mengirimnya.


"Parkirannya penuh, Dek. Gimana ini?"


"Kakak tunggu di sini dulu, biar aku masuk sendiri. Takutnya nanti ada mobil mau lewat 'kan?"


"Ya udah, Lu bilang aja mau beli obat itu. Itu resep dari temen gue."


"Iya, udah di kirim kan ke WA aku?"


"Udah."


Inilah yang aku maksud. Jika pergi dengan Arzhan, dia tidak akan membiarkan aku turun sendiri. Itu artinya tujuanku ke apotik akan ketahuan juga.


Setelah membeli obat, aku dan Fateeh pergi membeli makanan. Karena kami berdua memang belum makan malam.


"Kak Arzhan mau ke sini katanya?" ucap Fateeh saat kami makan.



Aku terkejut, namun berusaha agar terlihat normal dan wajar.


"Pasti mau ngambil dompet. Dia takut kita ngabisin isinya. Dia itu pelit banget tau. Bukan pelit, sih, tapi perhitungan."


Kenapa tidak menurutku.


Saat makanan yang kami pesan sudah habis, Arzhan datang bersama seorang wanita. Dia menyapa kami sebentar lalu duduk di meja terpisah.


Bener kata Fateeh, dia hanya mengambil dompetnya saja.

__ADS_1


"Kak, makanan kita udah abis, balik duluan ya. Takut Iksia malah tambah sakit kelamaan di luar."


"Kalian adiknya Arzhan 'kan? Gabung aja di sini. Atau mau pindah tempat?"


"Gak apa, Kak Alea. Kita pulang aja soalnya Iksia sedang tidak enak badan."


"Oh, kamu sakit? Sakit apa?"


Wanita tersenyum, tapi aku bisa merasakan jika senyuman itu tidak ikhlas. Juga tatapannya padaku terlihat sinis.


Aku tidak menjawabnya, dan memilih untuk pergi.


Marah? Tidak, aku tidak marah pada siapapun. Hanya saja ....


Keesokan harinya, di pagi buta kamarku sudah digedor begitu keras. Ada yang memanggil namaku berkali-kali. Itu suara Mama.


"Ada apa, sih, Ma. Baru jam berpa--"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku yang baru saja membuka mata sontak terkejut bukan main.


Aku tersungkur. Rasanya perih di bagian sudut bibirku. Asin dan hangat. Aku bisa melihat di lantai bayangan wajahku sendiri. Bibirku berdarah. Sekeras itu Mama menamparku.


"Apa ini?" tanya Mama sambil menarik tubuhku dengan kasar. Ada benda di tangan Mama.


Astagaaa!


"Kenapa kamu beli ini? Jelaskan!" Mama berteriak histeris.


Kenapa bungkus tespek ada di tangan Mama?


"Jawab!"


"Da-dari mana mama dapat itu?"


"Tidak penting mama dapet dari mana, jawab saja Iksia! Kenapa kamu membeli alat test kehamilan? Jawab!"


"Ma ... A-aku."


Plak!


Kali ini Mama menampar pipi yang satunya Rasanya sama. Hanya saja rasa sakitnya ada di tulang pipi. Panas.


"Iksiaaa, kamu kenapa? Jawab Mama. Berikan alasan pada Mama." Kali ini Mama meraung-raung sambil menggoncang kuat tubuhku.


"Ma, hentikan, Ma. Tolong."


"Kenapa Iksia, katakan sama mama." Mama menangis sejadinya. Kami berdua duduk di lantai.


"Jangan goncang tubuhku terlalu kuat, Ma. Di perutku ada bayi."


Papa yang saat itu baru saja tiba di kamarku, terdiam seketika. Pun dengan Mama. Dia tidak lagi mengguncang tubuhku, tapi sekarang mama syok berat.


"Ada apa sih, pagi-pagi udah ribut. Kedengaran sampai atas tau." Fateeh datang sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Aku menggelengkan kepala pada Mama dan Papa agar tidak mengatakan apa-apa pada Fateeh.


"Kamu malu pada Fateeh? Lalu bagaimana dengan kami? Apa kamu pikir kami tidak malu, hah!"


"Ma ... Iksia minta maaf. Pa, Iksia minta maaf." Aku bersimpuh di kaki papa. Namun, papa tidak bergerak sama sekali.


"Ma ...."


"Jangan sentuh Mama lagi!"


"Ma?"


"Fateeh, turun ke bawah dan bilang pada sopir untuk menyiapkan mobil."


"Mama mau ke ma--"


"Cepaaat!" Mama berteriak pada Fateeh.

__ADS_1


Ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan. Mereka yang mencintaiku, menerima penghinaan dari anaknya yang selama ini mereka manjakan.


__ADS_2