
Aku memberikan kode dengan menggelengkan kepala pada Papa agar dia diam.
Ahtar melihat Papa dengan raut wajah serba salah. Papa mengangguk pada Ahtar.
"Ada apa?" tanya Ahtar.
"Ini, Pak. Karyawan baru ini sudah membuat ulah di hari pertama dia kerja."
Papa manatapku. Aku mengangkat kedua bahu.
"Kenapa dengan Iksia?"
"Dia sudah berani membantah dan menolak pekerjaan yang tim berikan. Bukannya menerima pekerjaan, dia malah membuat kertas berhamburan."
Uhuk!
Aku tersedak.
"Maaf, boleh saya bicara?"
"Silakan." Papa menjawab dengan cepat. Sepertinya dia ingin segera mendengar penjelasan dariku, atau tidak terima anaknya diperlukan seperti ini oleh karyawannya sendiri.
Aku menceritakan detail kejadiannya sampai tidak ada yang terlewat.
"Mba tunangannya Pak Ahtar bilang kalau--" Wanita itu menyenggol lenganku.
Ada apa dengan wanita ini?
Papa hanya diam mendengarkan ucapanku. Lalu dia memijat kepalanya. Pun dengan Ahtar. Dia terlihat sangat tidak enak pada Papa.
"Tania, meski dia karyawan baru, tolong kamu bekerja dengan profesional. Berikan contoh yang baik untuk pemula seperti dia. Kerjakan tugas kamu tanpa membebani orang lain."
"Ta--"
"Silakan keluar, saya sedang meeting dengan Pak Indra."
Wanita yang bernama Tania itu terlihat menahan amarah. Sebelum pergi dia melirik sinis padaku.
Rasain!
"Kamu diem aja?' tanya Papa.
"Ya enggak lah!"
Kami saling diam untuk beberapa saat.
"Maaf, ya, saos. Meski dia tunangan atau istri sekalipun, aku tidak segan melawan mereka yang menindasku. Permisi."
Aku memang menyembunyikan identitas diri meski aku yakin, banyak yang tahu siapa diriku karena kejadian waktu itu, di saat pertama kali aku masuk ke kantor ini.
"Papa sudah meminta mereka untuk diam," itu salah satu perjanjian kerja antara aku dan Papa.
Sejak saat itu, Tania tidak pernah menggangguku. Hanya saja dia terlihat begitu membenciku saat bertemu. Dia tidak pernah menyapa atau tersenyum sama sekali.
Bukan masalah, hal sekecil itu bukan penghalang untukku.
Aku menceritakan kembali pengalaman pertama aku kerja di kantor Papa. Mama dan Fateeh tertawa terbahak-bahak. Sementara Papa terlihat tertekan.
"Kalian bisa tertawa karena tidak ada di tempat kejadian. Sementara papa ada di sana, meski tidak menyaksikan kejadiannya, tapi papa sangat marah pada Tania."
"Papa jangan khawatir, aku anak yang kuat tidak akan kalah oleh kerikil kecil seperti itu."
"Jangankan ngelawan Tania yang sama-sama perempuan, aku aja selalu kalah."
__ADS_1
"Kamu sengaja kalah, Fateeh. Masa taekwondo sabuk hitam kalah sama Iksia," ucap Mama.
Fateeh nyengir kuda.
"Permisi tuan." Pelayan Fateeh menghampiri meja makan kami.
"Kenapa, Mas?" tanya Fateeh.
"Tuan Arzhan dan istrinya datang."
Deg!
"Oh, syukurlah. Biarkan mereka masuk agar kami bisa makan malam bersama."
Arzhan? Dia datang. Apa yang harus aku lakukan?
"Lu belum bertemu dengan Kakak 'kan?" tanya Fateeh membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepala.
"Kita liat bagaimana reaksi dia saat melihat adik kesayangan yang lama tidak berjumpa, ada di sini sekarang."
Jantungku seperti meloncat di atas trampolin. Keringat dingin membasahi telapak tanganku.
Dari jauh, aku dan Arzhan sudah bertemu mata. Dia terlihat begitu terkejut saat kami bertemu tatap. Namun, dia kembali berjalan dengan tenang dan santai.
Apa itu istrinya?
Seorang wanita membawa koper berjalan di depan Arzhan. Sangat cantik meski dengan dress bahan kaos tanpa motif.
"Selamat malam, Ma." Arzhan menyapa.
"Kenapa datang gak bilang-bilang? Ayo sekalian makan bareng."
"Eh, itu Iksia bukan?"
"Ya ampun, cantik banget." Alea menghampiri lalu mengajakku cipika cipiki.
"Akhirnya kita bertemu, ya. Arzhan sedih banget saat kami menikah kamu gak datang. Dia bilang kamu sedang pendidikan bisnis di luar kota."
Apa lagi ini?
"Iya, Kak Alea."
"Ayo, duduk. Kita makan malam bersama," ujar mama.
"Kenapa bawa koper, Kak?" tanya Fateeh.
"Oh, ini. Rencananya kami akan menginap beberapa hari ini di sini. Aku bosen di rumah sendirian terus. Gak apa-apa 'kan, Ma?"
"Ya gak apa-apa, dong. Justru Mama seneng ada temennya. Kita bisa melakukan banyak hal di sini."
Itu artinya aku akan sering bertemu dengan mereka.
"Iksia, kamu udah nemu orang yang buat merombak kamar kamu belum? Kalau belum, biar Pak Sam yang mencarikannya."
"Biarin aja, Pah. Aku masih ingin menikmati semua kenangan di dalamnya. Rombaknya nanti kalau udah bisa move on."
"Dia udah lama gak make kamar itu, pasti kangen Pah." Fateeh berujar.
"Ya sudah, terserah kamu aja."
"Aku ke kamar dulu." Arzhan meninggalkan kami.
"Dia pasti marah," ucap Fateeh.
__ADS_1
"Kenapa? Pada siapa?" tanya Alea.
"Pada adik kesayangannya. Iksia pergi tanpa pamit, dan pulang tanpa memberi kabar."
"Oooh."
"Nak, kamu susul kakak kamu, gih. Minta maaf sama dia."
"Nanti aja, Pah."
"Iksia, pergi dan minta maaf sama kakak kamu."
"Tapi, Ma."
"Gue aja kesel banget sama lu, Dek. Tapi gue gak semarah dia. Bayangin aja, di semua hari pentingnya dia, Lu gak hadir loh."
Dia marah bukan karena aku gak hadir, Fateeh.
"Ya udah, aku permisi sebentar. Kak Alea aku ke atas dulu, ya. Izin mau bertemu Kak Arzhan."
"Hmm. Redakan amarah dia, kalau tidak aku pun akan kena getahnya."
Aku mengangguk pelan.
Ada ketakutan saat aku menaiki tangga menuju kamar Arzhan. Bukan takut dia marah, aku takut tidak bisa mengendalikan perasaan.
Arzhan tengah duduk di sofa depan televisi, dia tidak masuk kamar karena mungkin tahu aku akan menghampirinya.
Dia hanya menundukkan kepala saat aku ikut duduk di sampingnya. Tidak menoleh sama sekali apalagi bicara. Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Bau rokok. Sejak kapan Arzhan merokok?
"Maaf, Kak."
"Kamu baik-baik saja?"
"Hmm. Aku baik."
Aku berpikir dia bertanya sekedar basa-basi. Namun ....
"Ya, setidaknya satu di antara kita memang harus baik-baik saja."
Ternyata pertanyaan Arzhan bukan hanya sekedar basa-basi biasa.
"Kak, aku--"
"Terimakasih telah membuat aku seperti ini."
Dia kembali menghisap asap dari batang rokoknya. Aku ingin bertanya, bahkan ingin marah padanya tentang hal ini, tapi apa hak aku sekarang?
Dia menoleh, dan kami saling menatap. Matanya merah dan berair. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis.
Arzhan .... Nak, itu daddy. Dia berubah karena Mom. Jangan salahkan dia, ya, Nak.
Hanya detak jam dinding yang menemani kami saat ini. Sesekali aku mendengar Arzhan membuang nafas kasar.
Semua sudah berubah. Sudah berubah. Kami sudah sedekat ini, akan tetap jarak itu semakin terasa jauh. Tanganku bisa menggapai tapi tidak dengan hatiku. Ada dinding penghalang yang begitu kuat di antara kami.
"Kak, aku kembali ke bawah, ya."
Arzhan diam saja. Aku beranjak untuk pergi, namun tangannya meraih tanganku.
Dia bergetar saat menggenggam tanganku. Ada keraguan dan kerinduan yang melebur jadi satu.
__ADS_1
Tahan, Iksia. Jangan menangis. Jangan juga berlari dalam pelukannya. Ingat! dia sudah menjadi milik orang lain.