
"Kakak!" Aku yang bangun agak telat langsung berlari menuju bawah. Aku baru ingat hari ini Arzhan berangkat untuk pergi pameran.
"Ada apa, Nak?" tanya Papa yang baru selesai sarapan. Fateeh heran melihatku.
"Kak Arzhan mana? Apa dia sudah berangkat? Aku belum bertemu sama dia, Pah."
"Aku di sini."
Suara itu berasal dari tangga. Dia turun sambil diikuti pelayan yang membawa koper. Takut. Itu yang aku rasakan.
"Aku belum berangkat. Ada apa?" Arzhan berjalan menuju meja makan. Aku mengikutinya dan duduk berhadapan.
"Mama masih marah, Pah?" tanyanya.
"Enggak, Mama kalian sedang beres-beres di kamar. Kami akan melakukan perjalanan nanti sore."
Mataku kini beralih pada Papa. Dia menatapku penuh makna.
"Aku pergi. Lalu, Iksia dengan siapa di rumah ini?" tanyanya cemas.
"Ada gue. Ya elah, apa gue gak dianggap di rumah ini?"
"Kamu sering pulang malam. Kalau begitu aku akan batalkan pameranku saja."
"Kami akan pergi bertiga. Iksia juga ikut. Mama kalian merasa bersalah dan ingin mengajak Iksia jalan-jalan."
"Sekolah dia gimana, Pah? Dia kan harus sekolah."
"Kepalanya masih sakit, jadi bisa dijadikan alasan untuk izin beberapa hari."
"Yang bener aja, Pah. Sekolah gak bisa karena alasan sakit kepala, kenapa jalan-jalan bisa?" keukeuh Fateeh.
"Kami hanya akan menginap di vila."
"Syukurlah." Arzhan berucap.
Bukan untuk jalan-jalan, Papa dan Mama akan menyembunyikan aku di suatu tempat, entah di mana itu.
"Dek, tar habis jalan-jalan gue mau bawa Lu ketemu sama seseorang."
"Wanita itu? Kenapa tidak video call dulu, Kak. Biar pas ketemu gak canggung."
"Wah, bener banget itu. Habis sarapan, ya."
"Hmm." Aku mengangguk.
Aku takut tidak akan bertemu dengannya, Kak.
"Udah waktunya aku pergi. Takut macet di jalan."
Jantungku seperti berhenti saat mendengar ucapan Arzhan. Dia bangun untuk berpamitan pada Papa, Fateeh, lalu menghampiriku. Dia jongkok agar bisa menatap wajahku.
"Hei, are you oke?" tanyanya sambil menggenggam tanganku. Sekuat mungkin aku menahan air mata.
"Jangan sedih, dong. Jelek jadinya." Dia mencubit kedua pipiku. Aku mendengar Papa menarik nafas lalu membuangnya dengan brat. Setelah itu dia pergi.
"Tunggu aku pulang, ya. Ada sesuatu yang ingin aku berikan."
"Kenapa tidak sekarang aja?"
"Nanti aja, ini kejutan."
__ADS_1
"Bisa gak sekarang aja, aku mohon."
Arzhan tertawa.
"Tunggu tiga hari lagi dan lihat apa yang akan aku berikan padamu."
"Kakak."
Arzhan mencium keningku, "Pamit, ya. Jaga diri baik-baik. Jangan nakal dan jangan buat Mama marah."
Aku menahan tangannya agar dia tidak pergi.
"Ada apa?"
"Peluk."
Dia tertawa, lalu menarik tubuhku dan memeluknya.
"Manja banget, sih, yang lagi sakit."
"Aduuuhh."
"Kenapa?" tanya Arzhan dan Fateeh hampir berbarengan.
"Perut aku sakit lagi."
"Kamu gak apa-apa?" tanya Arzhan. Spontan dia memegang perutku.
"Diusap, Kak. Aduuuuhh." Aku merintih.
Arzhan mengelusnya dengan lembut sambil berkata, "Perut, jangan nakal ya. Jangan biarkan Iksia kami kesakitan."
"Udah, cukup. Udah mendingan. Aku ke kamar dulu, ya. Kakak hati-hati di jalan. Jaga kesehatan dan makan dengan teratur. Jangan sampai kakak sakit dan diurus wanita lain seperti dulu."
Arzhan berbisik, "Apa kamu cemburu?"
"Sangat! Jadi jangan sampai bertingkah."
Arzhan mengacak-acak rambutku. "Aku pamit. Fateeh, kakak pamit dulu. Kuliah yang bener."
Arzhan pergi. Tubuhku lemas begitu melihat dia menghilang di pintu depan sana.
Nak, kita tidak akan bertemu ayah kamu lagi.
"Eh, ini. Dia video call."
Fateeh membuyarkan lamunanku.
"Taraaa." Fateeh menghadapkan ponselnya saat sudah terhubung.
"Iiiih, jelek! Aku belum mandi." Dia malu saat berhadapan denganku.
"Cantik, kok, Kak."
Dia tersenyum malu.
"Eh, itu kepalanya kenapa?" tanyanya kaget.
"Iya, aku belum cerita sama kamu. Adik aku jatuh dan keningnya robek."
"Aduuuh, tapi sekarang gak apa-apa kan? Nanti aku ajak kamu maen, deh. Mau gak? Biar gak sakit lagi."
__ADS_1
"Aku mau pergi sama mama dan papa, Kak. Gak tau kapan kita akan bertemu langsung. Tapi tolong jaga kakak aku, ya. Jadikan dia orang yang lebih baik lagi. Jadikan dia laki-laki dewasa yang tidak dimarahi papa terus."
"Kok sad, ya. Kamu ternyata dewasa banget."
"Aku mungkin geger otak makanya jadi dewasa."
Kami bertiga tertawa.
"Aku suka cemburu kadang-kadang. Dia sering banget bercerita tentang kamu. Aku iri karena kalian bukan sodara kandung tapi Fateeh begitu menyayangi kamu. Setiap bertemu dia selalu bercerita tentang kamu. Dia bahkan tertawa karena mendapat luka bakar dari kamu, Iksia."
Aku menoleh pada Fateeh yang ada persisi di sampingku. Dia mendorong wajahku menjauh.
"Lu jelek kalau dilihat dari dekat."
"Kakak juga harus ngaca." Aku mendorong balik wajahnya.
"Hey, kalian. Berhentilah bertengkar."
Kami kembali tertawa.
Terimakasih karena memberikan kenangan manis sebelum aku pergi, Kak.
Aku memeluk Fateeh sambil menangis. Dia terkejut dan juga heran. Dia bertanya tapi aku mengabaikan dia.
"Nanti aku telpon lagi, bye." Dia menutup pembicaraannya dengan kekasihnya.
"Ada apa? Kenapa pagi ini kamu terlihat sedih. Cerita sama aku, Dek."
"Udah diem, peluk aja apa susahnya sih."
"Iya, iya." Dia menepuk-nepuk punggungku. Aku menangis sepuasnya dalam pelukanku Fateeh.
"Nak, kamu baik-baik aja?" tanya Papa saat kami berada di pesawat.
"Aku rindu pada Kak Fateeh dan Kak Arzhan."
"Kamu sendiri yang membuat semua ini terjadi."
"Sudah, Ma."
Benar. Aku yang salah jadi ini resiko yang harus aku tangguh. Bukan, ini bukan risiko tapi hukuman untukku.
Semoga saja Kak Arzhan membaca surat yang aku simpan di brankasnya.
Sayang ... jika membaca surat ini, itu artinya aku sudah berada jauh darimu. Aku sendiri pun tidak tahu aku akan pergi ke mana. Aku hanya ingin hidup sendiri dalam ketenangan.
Berjanjilah meski apa pun yang terjadi setelah aku pergi, jaga rahasia yang ada di antara kita. Biarkan cinta kita menjadi rahasia yang kan kita bawa sampai mati. Lakukan semua ini demi diriku.
Sudah banyak rasa sakit dan kecewa yang aku berikan untuk orang tua kita, jangan sampai hubungan kita membuat mereka semakin tersakiti. Berjanjilah, Kak.
Aku akan menjadikan janji kakak sebagai pembuktian rasa cinta kakak untuk aku. Buktikan kalau Kakak benar-benar mencintaiku dan bukan hanya tubuhku.
Aku mencintaimu pria anggrekku
Semua kebahagiaan, kasih sayang, kemewahan dan semua yang dulu tidak aku miliki kini kembali hilang. Hilang karena sebuah dosa yang sangat aku sesali.
Bahkan dia, janinku pun harus ikut menanggungnya. Dia akan lahir tanpa adanya seorang ayah. Dosa yang harus direbus semua orang.
Momy minta maaf, Nak.
__ADS_1