
Rumah yang terletak di sebuah pedesaan. Tidak besar seperti rumah Papa dan Mama, tapi memiliki halaman yang luas juga tembok pagar yang tinggi.
Papa bilang rumah ini hanya sebuah rumah yang dia sewa karena setelah melahirkan, aku akan kembali ke rumah Papa.
Di belakang rumah ada gazebo cukup besar yang dibangun di atas kolam ikan. Ada juga taman kecil yang banyak ditanami anggrek.
Bahkan Papa Indra tau apa yang aku suka.
Di luar pagar, tumbuh pepohonan yang sangat rindang dan cukup rapat. Rumah ini benar-benar sangat tertutup. Aku benar-benar disembunyikan oleh mereka.
Tidak ada yang bisa aku lakukan, tidak ada yang bisa aku hubungi. Ponsel dan nomornya diganti oleh Mama. Jangan sampai aku menghubungi siapapun dan dihubungi siapapun kecuali orang tuaku.
Sadar ponsel itu banyak chat dan foto mesra bersama Arzhan, aku memilih untuk merusaknya ketimbang disita oleh Mama dan Papa.
Malam pertama di tempat baru, rasanya sangat aneh. Meski banyak yang menemani, tapi aku merasa sendiri dan kesepian.
Duduk bersama mereka sambil melihat para pria bermain catur. Sementara pelayan wanita asik ngemil kacang rebus.
"Non, istirahat saja. Ini sudah malam."
"Enggak, Pak Sam. Lagi pula aku takut tidur sendiri. Lebih baik di sini bersama kalian."
"Jangan egois. Kamu tidak sendiri lagi sekarang," ucap Mbok Darmi.
Dia benar, aku harus memikirkan dia yang kini hidup dalam tubuhku.
"Remi temenin aku tidur, ya. Aku gak mau sendirian."
"Mana bisa pelayan tidur bersama majikan. Jangan. Tidur saja di tempat masing-masing."
"Ada masalah apa, Mbok? Kenapa ini itu serba jangan. Mbok tidak suka? Kenapa mau tinggal di sini?"
"Karena saya hanya pelayan yang menuruti perintah tuannya."
"Kalian pelayan tapi bukan budak. Punya hak untuk protes atau mengemukakan pendapat. Dari pada bekerja tapi membuat tuan kalian tidak nyaman seperti sekarang!"
Mereka semua diam.
"Sudah, kalian temani Nona Iksia tidur. Nanti akan kami siapkan kasur untuk kalian berdua."
"Setidaknya Papa tidak salah mempercayai Pak Sam."
Aku segera pergi dan diikuti pelayan pribadiku. Menyebalkan! Mereka tahu kalau mereka hanya pelayan, tapi kenapa harus dia yang mengatur ini itu.
"Non, jangan diambil hati, ya, ucapan Mbok Darmi. Dia memang seperti itu orangnya."
"Bener, Non. Tapi aslinya dia baik, kok."
__ADS_1
"Dia memang baik, aku yang tidak."
Mata Remi melotot kaget. Mereka merasa bersalah karena ucapannya sendiri.
"Bukan begitu, Non. Maksudnya--"
"Tidurlah. Aku lelah."
Sangat sulit memejamkan mata di tempat baru tanpa siapapun. Memikirkan bagaimana mereka di sana, sedang apa mereka di sana, dan bagaimana reaksi mereka saat tahu aku tidak ada.
Aku benar-benar tidak mengira hal ini akan semenyedihkan sekarang. Karena kesenangan sesaat, aku kehilangan kebahagiaan, kepercayaan dan kasih sayang semuanya.
Bagaimana kabar Hilda? Apa dia akan sedih karena aku tidak ada? Siapa yang akan menemaninya di sekolah? Apa mereka akan membully Hilda seperti dulu?
Fateeh mungkin akan percaya pada alasan yang diberikan Mama dan Papa tentang hilangnya aku dari rumah, lalu bagaimana dengan Arzhan? Apa dia akan percaya begitu saja?
Banyaknya pikiran membuat aku merasa pusing. Sakit kepala yang membuat aku merasa ingin muntah.
"Re, tolong ambilkan air hangat. Rasanya mual banget."
"Iya, Non."
Rasa pusing itu tak kunjung hilang, rasa mualnya semakin menjadi hingga aku benar-benar muntah.
Mual muntah itu aku rasakan hingga beberapa hari berikutnya. Pak Sam segera membawa aku ke dokter kandungan untuk diperiksa.
Sungguh berat ternyata menjadi wanita hamil.
"Pak Sam pake parfum apa, sih? Aku gak suka."
"Saya pake parfum yang biasa saya pake, Non."
"Tapi bau banget, Pak."
Aku pun merasakan perubahan sama indera penciuman, dan perasa. Bau wangi entah dari apa pun membuat aku mual luar biasa.
Bau masakan pun aku tidak suka. Melihat nasi seperti melihat sekumpulan belatung, jijik.
Dua hari berikutnya rasa mual itu semakin luar biasa. Rasa tidak suka pada makanan membuat semuanya semakin buruk. Tidak ada asupan yang cukup, sementara aku terus muntah. Tubuhku lemas hingga dokter menyarankan aku untuk dirawat insentif di rumah sakit.
Kesedihan bertambah. Aku tergolek lemas dalam keadaan hamil, tanpa keluarga juga tanpa suami. Menjalani semuanya sendirian tanpa ada yang mendampingi. Berjuang sendiri tanpa dukungan dan kasih sayang dari keluarga.
Hukuman yang berat untuk seorang pendosa sepertiku.
Mohon ampun ya Allah.
Seminggu sudah aku dirawat, hanya ditemani Remi, Pak Sam dan dua body guard yang disiapkan Papa.
__ADS_1
"Papa tau aku dirawat, Pak Sam?" tanyaku saat menuju pulang ke rumah.
"Beliau ingin ke sini, tapi ada kesibukan lain, Non."
"Andai aku tidak mengecewakannya, Papa pasti akan meninggalkan semuanya dan mengutamakan aku."
"Bukan, Non. Saya tidak mendampingi Bapak di sana, jadinya beliau keteteran. Kemarin ada tender yang terlewat dan kami mengalami kerugian. Itulah kenapa bapak sangat sibuk sekarang. Demi menutup kerugiannya."
"Bapak pulang saja. Temani Papa di sana. Saya baik-baik saja di sini."
"Saya tidak akan sanggup jika diinterogasi Tuan Fateeh dan Arzhan. Saya tidak akan bisa berbohong saat ditanya mereka, Non."
Benar, mereka yang ikut bersamaku sekarang harus tetap di sini sampai akhir agar rahasiaku tetap terkubur sampai waktunya nanti.
Yang bisa aku makan sekarang ini hanyalah umbi-umbian. Aku bisa makan singkong dan ubi. Hanya itu saja yang bisa diterima oleh perutku. Selain itu, es krim dan cokelat masih bisa aku makan. Sisanya tidak bisa sama sekali.
"Non ...." Pak Sam menghampiri. Dia tampaknya ragu untuk berbicara padaku.
"Ada apa, Pak?" tanyaku sambil membenarkan posisi duduk. Ternyata semakin lama usia kandungan, semakin sulit untukku melakukan aktivitas. Ditambah karena janin yang aku kandung ada dua. Mereka kembar. Perutku lebih besar dari perut wanita hamil lainnya.
"Ada berita dari rumah."
"Tentang apa? Bukan kabar buruk kan, Pak?"
"Ini bisa jadi kabar buruk atau kabar baik. Tergantung Nona menanggapinya."
"Maksudnya?" Aku penasaran dan juga was-was.
"Tentang Tuan Arzhan."
Deg!
"Dia mau bertunangan, Non."
"Tunangan? Dengan siapa?"
"Non Alea."
Sakit? tentu saja. Hatiku seperti remuk tanpa sisa. Dia yang aku cintai sepenuh hati kini harus pergi dengan wanita lain.
Apa dia sudah membaca suratku?
"Non, tenanglah. Jangan terlalu bersedih karena tidak bisa menghadiri acara pertunangannya. Saya tau bagaimana Non dekat dengan kakak Non. Tapi relakan Non, cepat atau lambat dia memang harus menikah, dan berpisah dari keluarganya. Tapi, Non, bukan berarti Tuan Arzhan akan melupakan adik kesayangannya. Dia pasti tidak akan melupakan Non Iksia."
Aku menangis sejadinya. Tubuhku terkulai lemas di atas lantai.
Kakak, aku bahkan sedang mengandung anak kita.
__ADS_1