
Malu? sudah pasti. Bukan hanya panas rasanya, tapi wajahku seakan hilang entah ke mana.
Arzhan hanya diam. Mungkin dia pun sama terkejutnya dengan yang aku rasa. Situasi yang sangat tidak mengenakan.
"Ma-maf, Kak. Aku--" Tidak punya kekuatan bahkan untuk mengatakan sesuatu. Aku segera pergi dan turun meninggalkan Arzhan.
Entah apa yang aku cari, aku celingukan ke sana ke mari. Yang pasti harus sejauh mungkin meninggalkan kakak tiri yang selalu membuat aku gelisah setiap bertemu dengannya.
Itu dia.
"Remi!"
Pelayan pribadiku pun menoleh bersamaan. Melihat aku yang tergesa-gesa datang, mereka terlihat seperti orang ketakutan. Menundukkan kepala begitu aku sampai di hadapan mereka.
"Kalian dari mana saja?"
"Maaf, Non. Tadi kami sarapan dulu di belakang."
"Belakang?"
Mereka menganggukkan kepala.
"Aku mau ke belakang, tempat kalian sarapan."
Remi saling melirik.
"Ada apa dengan kalian? kenapa setiap kali aku bicara, kalian selalu saling menatap? kalian diam-diam membicarakan aku, ya?"
"Ti-tidak, Non. Kami mana berani." Rere terlihat semakin takut.
"Ya sudah, ajak aku ke belakang. O, iya. Siapa pelayan yang bertanggung jawab atas rumah ini? Aku ingin dia membawaku berkeliling."
"Namanya Mbok Darmi."
"Ya sudah, bawa aku ke sana."
"Saya di sini, Nona muda." Suara seseorang yang terdengar seperti suara orang tua tiba-tiba datang dari arah belakang.
Saat aku menoleh, ada seorang wanita dengan badan lebih gemuk dari orang kebanyakan di rumah ini. Rambutnya terikat rapi dan sudah tumbuh uban di mana-mana. Dia tidak memakai seragam seperti pelayan lainnya.
Tepat di belakang wanita itu ada Arzhan sedang berdiri. Tatapannya membuat aku seperti tidak memiliki tulang tulang. Kaku.
"Saya akan mengajak Nona berkeliling rumah ini. Mari, Nona."
"Mbok, saya berangkat dulu. Tolong jaga anak itu, dia agak sedikit nakal." Arzhan berbisik pada Mbok Darmi. Aku melotot padanya.
Tatapan Arzhan sebelum pergi membuat aku ....
"Mari, Non."
"Ah, iya. Ayo, Mbok."
Hampir satu jam lamanya kami berkeliling rumah. Selain karena memang rumah ini luas, juga karena jalan Mbok Darmi yang sangat pelan adalah penyebab lamanya kami berkeliling.
Terakhir kami pergi ke halaman belakang. Di sana terdapat beberapa pohon buah-buahan. Ada mangga, jambu, durian, kelengkeng, dan juga jambu air.
"Tuan besar menyiapkan kebun ini untuk nyonya." Mbok Darmi memperlihatkan kebun yang ditumbuhi beberapa macam sayuran.
__ADS_1
Ah, Papa Indra ... terimakasih karena telah mencintai mamamku begitu besar.
Jika mengingat bagaimana ayahku memperlakukan Mama, aku merasa ingin segera bertemu Papa Indra dan memeluknya.
"Cinta sejati meski terpisahkan oleh jarak dan waktu, di saat yang tepat mereka akan bertemu dan bersatu."
"Cieee, Mbok."
Wanita tua itu melirik tanpa memberikan ekspresi apa pun. Membuat aku menjadi sedikit takut pada wanita satu ini.
"Sudah sepatutnya kita tidak membalas kebaikannya dengan sebuah kekecewaan bukan, Nona?"
"Ya?"
Mbok Darmi berdiri di hadapanku. Tatapannya selalu membuat aku terintimidasi. Dia menatapku tajam dan dalam.
"Saya permisi. Ada pelayan Nona yang nanti akan menjemput ke sini."
Satu kata pun aku tidak berani mengucapkannya. Entah kenapa dan ada apa dengan pelayan ini.
Apa dia tidak menyukaiku? kenapa?
Mbok Darmi pergi. Sementara aku masih duduk di bangku yang ada di kebun milik Mama. Mama memang sangat suka bercocok tanam. Di rumah yang dulu pun dia menyempatkan diri untuk menanam apa saja. Meski dengan media barang bekas. Seperti botol minum bekas, dan masih banyak yang lainnya.
Aku mengambil ponsel. Mencari nomor Papa Indra.
"Kenapa gak diangkat-angkat, sih."
Sekali lagi.
"Halo, Sayang. Kenapa?"
"Maaf, tadi papa sedang meeting. Ini juga belum selesai."
"Oh, maaf, ya, Pah. Aku ganggu jadinya."
"Enggak, kok. Ada apa, Nak? Apa butuh sesuatu?"
"Enggak, aku kangen aja sama Papa."
"Hmm? Wah, ada apa ini? pasti butuh sesuatu kan?" tanya Papa Indra menggoda.
"Ihhh, aku serius Papa."
"Iya, iya. Papa juga kangen. Nanti kamu minta anter supir aja buat ke kantor Papa. Mau?"
"He-em."Aku menganggukkan kepala antusias.
"Ya sudah, papa lanjut meeting lagi, boleh?"
"Boleh, Pa. He he he."
Ponsel masih berada di telingaku. Sepertinya Papa Indra belum mematikan ponselnya hingga aku masih bisa mendengar suaranya.
"Maaf, itu anak bungsu saya. Sudah sampai mana tadi?" ucap Papa Indra di sebrang sana.
Hangat. Ya, hati dan mataku menghangat. Kasih sayang yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, aku telah dapatkan dari keluarga baru ini.
__ADS_1
Begitu Remi datang menjemput, aku segera berlari menuju rumah.
"Remi, di mana dapur? siapa pelayan yang suka masak di rumah kita?"
"Ada chef, Non."
"Chef?" aku menghentikan langkahku. Remi menganggukkan kepala.
Wah, luar biasa sekali Papa Indra ini.
Aku segera masuk ke dapur dan mencari sosok chef. Setelah bertemu dengannya aku mengutarakannya maksudku. Ingin membuat makan siang untuk Papa.
"Re, tolong carikan sopir, bilang aku akan pergi ke kantor Papa."
Setelah memberi perintah, aku kembali melanjutkan membuat makan siang didampingi chef.
Bekal makan siang selesai. Aku segera ke kamar untuk bersiap-siap. Rasanya seperti aku akan bertemu dengan gebetan. Aku bahkan bingung memilih pakaian mana yang harus kenakan.
Lagi-lagi aku ingin menangis melihat isi lemari baju. Semuanya berisi pakaian baru yang sudah disiapkan Papa Indra.
Pilihanku jatuh pada baju ini.
Berkali-kali aku memutar badan di depan cermin besar, memastikan agar tidak ada celah untuk karyawan Papa Indra mencelaku. Jangan sampai aku membuat Papa Indra malu.
"Oke, sepertinya sudah selesai. Aku siap berangkat."
Rasanya begitu bahagia. Sepertinya ada kupu-kupu berterbangan di sekitarku.
"Mobil sudah siap, Non."
"Iya. Bekal makan siangnya mana?"
"Sudah ada di mobil, Non."
"Makasih, ya, Remi. Kalian tunggu aku pulang. Nanti aku bawakan oleh-oleh."
Mereka terlihat senang. Senyuman yang belum pernah aku lihat, terukir di wajah mereka.
"Mobil ini. Ck ck ck. Apa jadinya kalau aku ke sekolah memakai mobil ini. Apa kepala sekolah gak akan minder? Sebaiknya aku minta mobil lain yang lebih sederhana."
"Bukannya Tuan Arzhan yang akan mengantar jemput sekolah, Non?" tanya sopir padaku.
"Eh, iya. Kakak yang akan antar-jemput aku sekolah. Artinya mobil ini gak akan kepake. Jual lagi aja kali ya, Pak?"
"Ha ha ha. Ya jangan, Non. Nanti kerajaan saya apa? Masa baru masuk Uda dipecat."
"Kan yang anter-jemput saya ke sekolah kakak."
"Saya disuruh bapak nemenin Non kalau mau pergi. Ya, kayak sekarang ini."
"Benar juga. Pak, kantor Papa masih jauh?"
"Siang gini gak macet, kita pake mobil juga yang super cepat. Jauh pun akan terasa cepat. Non siap-siap aja, ya."
__ADS_1
"Siap-siap untuk apa?"
Wushhhh!