
Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam ini udara begitu dingin, Fira sedang bersantai di kamarnya ia juga membaca novel yang baru ia beli.
Tiba-tiba terdengar ketukan dipintu kamarnya, Fira heran siapa yang mengetuk pintu kamarnya selarut ini buka kah ayahnya sudah tidur? Kalo pembantunya sudah pulang dari jam 7 malam tadi.
Dengan rasa penasaran ia segerah bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Saat Fira membuka pintu ia terkejut sekaligus heran karna tidak ada siapa-siapa bahkan lampu rumahnya sudah mati.
"Gak ada siapa-siapa kok." Ucap Fira yang masih melihat kesekitar hingga pandangannya terpaku pada sosok bayangan yang berjalan menujuk ruang tamu.
Fira segera mengikuti sosok itu hingga sampai ke ruang tamu tapi sosok itu tidak ada menghilang begitu saja.
Saat Fira merasa tidak ada siapa-siapa ia ingin kembali ke kamarnya saja karna jujur dia merasa takut dan juga merinding di seluruh bagian tubuhnya.
"Fira...!"
Ucapan itu membuat langkah Fira terhenti ia tau kalo ada seseorang di belakangnya tapi untuk berbalik melihatnya Fira tak berani.
"Fira....." Ucap sosok itu lagi.
Fira mengumpulkan keberaniannya untuk membalik tubuhnya walau dalam hatinya ia tak yakin untuk melakukan ini.
"Akkkhhhhhh...." Teriak Fira lalu ia terjatuh dilantai bertapa kaget nya dia saat melihat sosok yang menemuinya saat ini.
Airin siswi yang katanya meninggal bunuh diri itu menemui Fira. Fira kaget saat melihat wajah Airin bukan karna darah yang menghiasi wajahnya tapi lebih ke mata Airin yang seperti memancarkan dendam, Amarah dan kekecewaan.
Fira masih berusaha menenangkan dirinya ia ingin tau apa yang terjadi kepada Airin hingga dia menjadi seperti ini dengan keberanian yang masih tersisa Fira mencoba mengajak Airin bicara.
"Ke...napa elu bisa jadi begini?" Tanya Fira pada Airin.
Fira terus memperhatikan wajah Airin yang menunjukan raut sedih ia jadi bingung apa yang terjadi sebernarnya.
"Pembunuh mereka pembunuh." Ucap Airin marah lalu ia segera menghilang meninggalkan tanda tanya besar bagi Fira.
"Apa maksud Airin apa yang sebenarnya terjadi." Batin Fira.
__ADS_1
Disisi lain Yola, Danisa dan Sabrina sedang berkumpul di kamar Yola. Mereka sedang membicarakan tentang kejadian di toilet yang menimpa Yola tadi pagi di sekolah.
"Gue serius!." Ucap Yola pada kedua sahabatnya itu.
"Tapi kalo yang elu bilang itu beneran berarti Airin mau bales dendam sama kita! iiihhhhh serem banget." Ucap Danisa.
"Maksudnya dia jadi hantu gentayangan? Aaaahhkkk pokoknya gue enggak mau di gentayangin sama tuh hantu." Kata Sabrina.
"Gue juga ogah kali pokoknya ini salah elu." Ujar Danisa sambil menunjuk Yola.
Yola yang di salahkan tentu tidak terima.
"Apa-apa'an elu nyalahin gue yang ngebully tuh cupu bukan gue doang iya elu berdua juga." Bentak Yola tak mau di salahkan sendirian.
"Tapi kan elu yang dorong dia dari atap sekolah." Balas Sabrina menatap tajam Yola.
"Bener yang di bilang Sabrina elu yang paling bersalah disini." Ujar Danisa.
"Elu berdua apa-apa'an sih kenapa nyalahin gue semua." Sentak Yola.
Hening itu yang sekarang terjadi setelah perdebatan panjang itu semua mendadak diam. Terlebih mereka bertiga menyimpan rahasia bahwa Yola yang mendorong Airin hingga terjatuh dan meninggal. Rahasia itu mereka simpan rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahuinnya.
Flashbeck
Pagi itu suasana cerah, Airin yang memang selalu datang lebih awal agar ia dapat ke perpustakaan terlebih dahulu.
Tiba-tiba jalannya di hadang oleh tiga orang yaitu Yola, Danisa dan Sabrina.
"Heh mau kemana elu?" Tanya Yola pada Airin.
"Bersihin sepatuh gue dulu dong." Ujar Yola.
"Sekalin juga punya kita." Ucap Danisa yang di angguki oleh Sabrina.
"Maaf kak aku gak bisa." Jawab Airin.
"Wah udah berani ngebantah ini anak Yol." Ujar Sabrina menatap sinis Airin.
"Elu berani ngebantah gue hah." Bentak Yola sambil menunjuk Airin.
"Bukan gitu kak tapi aku buru-buru." Ujar Airin.
"Halah alesan doang elu." Danisa sambil mendorong badan Airin.
"Sini elu." Ujar Yola menarik rambut Airin dan menyeretnya ke rooftop sekolah.
"Kak..hiks....hiks...lepasin sakit." Ujar Airin yang berusahan menahan tangan Yola yang menarik rambutnya. Ia sudah mulai menangis karna sakit pada kepalanya akibat jambakan dari Yola.
"Cihh dasar cupu elu harus tau akibat kalo berani lawan kita." Ucap Sabrina.
"Makanya jangan belagu sok ngebatah segalak." Ujar Danisa yang ikut menarik badan Airin agar mengikuti Yola.
"Elu bakal tau akibatnya kalo ngelawan gue." Ujar Yola lalu mendorong tubuh Airin hingga jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Hiks.....hiks....hiks... Maaf kak tolong lepasi aku." Ujar Airin dengan badan gemetar ia sungguh takut sekarang.
"Gue bakal lepasin elu tapi sebelum itu elu harus terima hukumam dari kita." Ujar Yola dengan senyum sinisnya.
"Hiks...hiks.....hiks....hiks....ampun kak ampun." Ujar Airin badanya sakit semua karna Yola dan teman-temanya terus memukulinya.
"Ini belum seberapa makanya jangan macem-macem." Ujar Sabrina.
Saat Yola dan kedua temannya ingin meninggalkan Airin sendiri tiba-tiba Yola menghampiri Airin dan membuat dia berdiri lalu mandorongnya.
Brukkkk.......
"Anjing elu apain tuh cupu?" Tanya Danisa pada Yol.
"Gue enggak sengaja." Ujar Yola yang masih kaget dengan apa yang barusan terjadi.
"Gila elu Yol, elu dorong dia sampek jatuh kebawah gue gak mau iya masuk penjara elu yang ngebunuh Airin." Sentak Sabrina.
"Gue juga gak mau masuk penjara pokoknya ink cuma kita yang tau dan mumpung masih sepi meningan kita pergi dari sini." Ujar Yola.
Mereka pun pergi dari sana membiarkan Airin yang jatuh dari rooftop sekolah itu mereka membuat seakan-akan Airin memang ingin
bunuh diri.
Flashbeck on
Malam ini mereka bertiga menginap di rumah Yola. Tapi entah mengapa malam ingin suasana terasa sunyi.
Danisa yang terbagun dari tidurnya karna haus ia ingin mengambil air minum akan tetapi ia melihat Yola yang keluar dari kamar yang mereka tempati untuk tidur.
Dengan rasa penasaran Danisa pun mengikuti Yola dan berhanti di dapur. Danisa bingung dan merasa aneh dengan Yola.
"Yol elu ngapain sih? Elu haus mau minum?" Tanya Danisa yang tidak mendapat jawaban dari Yola.
Danisa mencoba mendekati Yola karna ia merasa aneh saja dengan sikap Yola. Saat Danisa sudah dekat dengan Yola tiba-tiba Yola berbalik mengahadap Danisa.
"Aahhkkkkkk." Teriak Danisa ia terjatuh di lantai saat melihat Yola yang berubah menjadi Airin.
"Pergi...pergi...elu udah mati pergi...." teriak Danisa ia berusaha bangkit dari segerah berlari menjauh dari hantu Airin.
"Pembunuh." Ujar hantu Airin.
Tiba-tiba saja sebuah pisau melesat tepat di jantung Danisa membuatnya tak bisa lari dan terjatuh di lantai. Sebelum ia menutup mata ia melihat Airin menghampirinya.
"Pembunuh." Ujar hantu Airin lalu hantu tersebut mencabut pisau yang tertancap di jantung Danisa.
"Aakkkkkk." Sakit itu yang Danisa rasakan hingga ia menutup matanya.
... ***Terima kasih ...
sudah membaca cerita ini
__ADS_1
see you next time***