
"Apa kamu udah sanggup untuk berjalan, Num..?" Tanya Fityah untuk memastikan kondisi temannya itu. Terlihat sekali saat itu Hanum sedang menahan rasa sakit di pergelangan kaki kanannya yang telah dicelakai oleh makhluk gaib tadi.
Namun Hanum hanya tertunduk lemas, tanpa bersuara sedikitpun. Suhu badannya mendadak menjadi panas, dan badannya berkeringat. Fityah terdiam sejenak melihat kondisi temannya itu. Biasanya setiap kali ia berhadapan dengan sosok tak kasat mata, belum pernah ada yang bertingkah sampai membuat dirinya celaka.
Para makhluk gaib itu hanya sekedar menampakkan diri, sedikit menggoda dengan suara - suara menyeramkan, dan sesekali bercakap - cakap dengannya. Sejauh ini, belum pernah ada sosok gaib yang menyakiti tubuhnya bahkan sampai harus terluka seperti yang dialami oleh Hanum sekarang ini.
"Aku harus gimana nih..?", Ungkapnya dalam hati sambil memegangi telapak tangan Hanum yang semakin dingin.
"Rindu....., aku membutuhkanmu..., datanglah kesini.". Teriak Fityah dalam kesunyian malam itu.
Tak berapa lama berselang, Fityah merasakan sesuatu yang dingin meniup - niup lehernya dari belakang. Itulah sosok Rindu. Dia selalu datang disaat Fityah memanggil namanya diucapkan. Memang inilah yang disebut sahabat, walau tak bisa dipungkiri alam mereka berbeda.
'Ada apa kak...?, kenapa kakak memanggilku..?" tanya Rindu dengan gaya bicaranya yang khas.
"Lihatlah Hanum ini, Dia sekarang sepertinya tidak sadarkan diri. Ada sebuah kekuatan jahat yang mencelakainya tadi. Aku harus gimana Rindu..?"Jelas Fityah penuh rasa bingung dan risau yang begitu terlihat jelas dimatanya saat itu.
__ADS_1
"Bolehkah aku mendekat...?" Tanya Rindu singkat.
"Ya...tentu saja, cobalah kamu pegang dahinya yang begitu panas, keadaannya seperti ini, setelah ada sesuatu yang menarik kakinya kanannya dengan kuat, hingga ia jatuh terduduk dilantai itu" Jelas Fityah sambil menunjukkan lokasi tempat Hanum tadi terjatuh.
"Aku dari sini saja sudah bisa merasakan ada sebuah luka dalam dikaki temanmu ini.." ucap Rindu dengan ekspresi datar.
"Lantas..bisakah kamu menolongnya Rindu..?" Pinta Fityah dengan wajah memelas, sambil memohon kepada sahabat gaibnya agar bisa mengobati luka dalam yang ada dikaki Hanum akibat kejadian tadi.
" Maafkan aku teman...aku hanyalah sosok arwah penasaran, aku sungguh tidak mempunyai kekuatan yang mampu untuk memulihkan luka dan sakit, seperti yang terjadi pada Hanum.", Begitulah penjelasan Rindu terhadap permintaan Sahabatnya itu.
Bukan pada semua orang, karena energi kami juga terbatas. Setiap kali sesosok arwah itu menampakkan diri hanya karena ingin menakut - nakuti seseorang untuk sekian detik lamanya, maka akan berpengaruh pada energi yang ia punya. Namun lain halnya ketika aku berkominikasi denganmu, tidak banyak energiku yang berkurang karena dirimu adalah manusia dengan kemampuan istimewa yang mampu melihat dan mendengar sosok seperti kami." Begitu ucap Rindu dengan penjelasan yang cukup masuk akal.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Hanum...?" Tanya Fityah kembali.
"Kemampuan yang bisa melakukan hal seperti itu hanyalah dimiliki oleh mereka para bangsa Jin." tambah Rindu menjelaskan lagi.
__ADS_1
" Bangsa Jin...??, kalau begitu, aku mohon kepadamu, tolong jaga Hanum sebentar, jaga dia dari gangguan apapun yang ada disini, jangan sampai ada sesuatu yang mencelakai dia lagi..aku akan pergi ke lantai atas Pondokan ini." Begitu pinta Fityah pada sahabat gaibnya itu.
Dengan berbekal sedikit cahaya penerangan dari ponselnya, Fityah berlari menuju ke lantai atas dengan cepatnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan banyak sosok tak kasat mata yang bergentayangan di sekitar halaman pekarangan depan Pondokan tersebut memperhatikannya.
Ada sosok yang menyerupai Genduruwo, ada pula sosok berbadan tinggi besar dengan tangan yang panjangnya sampai kepermukaan tanah, dan masih banyak sosok gaib yang lainnya. Mereka seolah - olah menjadikan Pondokan ini sebagai markas besar mereka setiap malam tiba.
"Awas saja kalau ada diantara mereka yang berani menggangguku..." ungkap kejengkelan Fityah dalam hati.
Setelah berhasil menaiki tangga dengan aman, sampailah ia di lantai atas. Sebenarnya kedatangan Fityah ke lantai atas adalah untuk menemui sesosok Jin yang menamakan dirinya adalah Pak Tua.
Beberapa jam yang lalu, ia sempat bercerita dengan sosok Jin tersebut sebelum ia melangkah bersama Hanum ke gudang Pondokan.
Fiytah pun bingung bagaimana cara memanggil sosok bangsa Jin itu. Tak lama berselang, terdengar olehnya suara Alesha memanggilnya dari atas pagar pembatas.
"Hai kak Fityah...ada apa kakak datang lagi kesini..?" Tanya Alesha dengan suara lembutnya. Suaranya enak sekali didengar, lembut dan terkesan comel seolah - olah terdengar ia bukanlah sesosok arwah melainkan sosok anak perempuan yang imut.
__ADS_1