
Pada siang itu, cuaca sangat cerah, hampir semua para penghuni Pondokan yang kebanyakan berasal dari Mahasiswa dan pegawai kantoran sudah berangkat ke kampus dan ke tempat kerjanya masing - masing.
Dari jauh, Pak Waluyo melihat Alesha sedang asyik bermain dengan boneka Teddy Bear kesayangannya. Disaat yang sama, ia juga melihat bocah itu sedang duduk seolah - olah sedang asyik bercakap - cakap dengan seseorang disampingnya.
Pak Waluyo terus memperhatikan ini dari tempatnya berdiri. Tak lama kemudian, Alesha melambaikan tangan, seperti mungucapkan "good bye" pada sosok yang ada disampingnya tadi. "Dengan siapa dia ngobrol..?" begitu ujar Pak Waluyo dalam hati, namun hal itu tidak terlalu difikirkannya.
Setelah sosok yang diajaknya mengobrol tadi pergi, Alesha pun lanjut bermain dengan bonekanya lagi di samping kolam hias yang berada disekitar pekarangan depan Pondokan.
Alesha sendiri sebenarnya bukanlah cucu kandung Pak Waluyio, karena dia dan isterinya sampai saat itu belum juga dikaruniai keturunan. Sehingga pak waluyo memutuskan untuk mengangkat seorang anak dan mengasuhnya sampai dewasa, dan bahkan mengantarnya sampai ke jenjang pernikahan.
Dari pernikahan putri angkatnya itulah lahir Alesha. Walaupun demikian, Pak Waluyo sangat sayang sekali kepada Alesha. Ia memanjakan Alesha seperti cucunya sendiri dan selalu memberikan apa saja yang diminta cucunya tersebut.
__ADS_1
Pagi itu seperti biasanya, Ibu Alesha sudah pergi berangkat ke kantor. Melihat kesempatan itu, Pak Waluyo kemudian mengajak Alesha untuk bermain di lantai atas sambil memberinya sebatang coklat yang sangat digemarinya. Alesha tidak membantah perintah kakeknya tersebut. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengikuti langkah kakeknya menuju ke lantai atas sambil membuka bungkus coklatnya tadi.
Setelah sampai di lantai atas, ia dan Alesha duduk - duduk sebentar sambil menunggu cucunya itu selesai makan. Setelah beberapa saat kemudian, Pak Waluyo mulai berfikir untuk melanjutkan aksinya. Sejenak ia menarik nafas dalam - dalam. Dalam hatinya ia berkata " Maaf kan kakek ya Lesha, walaupun ibumu cuma anak angkatku, tapi aku sudah mengganggapmu seperti cucuku sendiri, aku sangat sayang kamu nak, sekali lagi kakek minta maaf, kakek bingung tidak tau harus berbuat apa lagi".
Sesaat kemudian, Pak Waluyo mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia melihat keberadaan orang - orang yang sedang berlalu lalang saat itu, baik yang berada di lantai atas maupun yang berada di lantai bawah. Ia melakukan itu hanya untuk memastikan agar aksinya nanti tidak dilihat dan diketahui orang banyak.
Selang beberapa saat setelah itu, ia pun memanggil Alesha untuk datang kepadanya. Ia memancing kedatangan Alesha dengan alasan kalau dia melihat banyak sekali kupu - kupu yang berterbangan di sekitar taman bunga dilantai bawah.
Mendengar hal itu, Alesha pun segera datang untuk melihat. Pak Waluyo kemudian menawarkan bantuan untuk membantu Alesha melihat lebih jelas lagi puluhan kupu - kupu itu dengan cara menggendongnya. Nah, pada saat itulah Pak Waluyo melancarkan aksinya.
Tanpa fikir panjang lagi, akhirnya ia melepaskan gendongannya hingga tubuh Alesha terjun bebas ke lantai dasar dan langsung menghantam lantai pekarangan yang penuh dengan kerikil.
__ADS_1
Takut aksinya bakal diketahui orang, Pak Waluyo segera turun ke lantai bawah. Ia berlari kecil menuruni anak tangga dengan cepat, dan langsung menuju ke posisi Alesha terjatuh. Sesampainya disana. ia mengecek denyut nadi bocah malang itu, untuk mengetahui apakah Alesha masih hidup ataukah sudah mati.
Setelah ia mengecek pergelangan tangan bocah malang itu, ia mendapati bahwa denyut nadi Alesha masih berdetak. Ia pun merencanakan untuk menghabisi kembali bocah malang itu sampai betul - betul mati.
Mata Pak Waluyo pun tertuju pada ruangan kecil yang terletak bersebelahan dengan gedung Pondokan. Saat itu kondisi ruangan tersebut masih belum selesai tahap pembangunannya.
Langsung saja ia menggendong Alesha yang pada saat itu masih dalam kondisi hidup. Ia membawa bocah malang itu sambil berlari menuju ruangan kecil tadi. Namun alangkah kagetnya ia, ketika membuka pintu gudang tersebut.
Ia mendapati pak Sudirman yang tengah asyik menyusun - nyusun alat - alat kebersihan yang biasa ia pakai saat membersihkan pekarangan di sekitar Pondokan.
Tanpa banyak penjelasan, ia langsung meminta tukang kebunnya itu untuk menggali lubang yang dalam. Pak Waluyo akan menggunakan lubang itu untuk mengubur Alesha yang pada saat itu masih bernafas. Melihat kejadian itu, Pak Sudirman yang sudah lama bekerja padanya menangis terisak - isak sambil memandangi wajah Alesha yang tak berdosa.
__ADS_1
Tak ada yang bisa diperbuat Pak Sudirman, selain hanya mematuhi setiap perintah majikannya itu.
**bersambung