
"Ya, bener kak, emang seperti ini, persis banget seperti ini suara yang aku denger tadi malam." jawab Hanum yakin.
" Terus terang kakak bingung dengan kejadian tadi malam itu, kok bisa ya suara tangisan anak itu kedengaran ama kita, di jam dan waktu yang sama, secara tempat tinggal kita beda. Atau mungkin, tangisan anak tersebut memang ditujukan hanya untuk kita berdua Num..., entah untuk apa tujuannya." tutur Fityah dengan penuh rasa bingung dihatinya.
"Trus, kita mesti ngapain sekarang kak..?" tanya Hanum balik.
"Kakak juga ga tau Num, kakak merasa sepertinya arwah anak perempuan itu sangat tidak berniat mengganggu kita, malahan sepertinya dia menangis pengen kita nolongin dia, begitu yang kakak tangkap." jelas Fityah dengan suara pelan.
Hari semakin larut, saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00 malam. Hujan pun sudah mulai reda. Udara tengah malam itu sangat sejuk sampai menusuk tulang.
Sayup - sayup, masih terdengar sesekali suara tangisan arwah anak perempuan itu dari kejauhan. Fityah dan Hanum hanya bisa saling bertatapan tanpa tau apa yang harus mereka lakukan untuk menolong arwah anak malang itu.
"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu untuk anak itu Num, kakak sudah ga tahan lagi mendengarnya terus - menerus menangis meminta tolong, mungkin memang benar, raungannya itu ditujukan khusus untuk kita berdua, karena hanya kepada kita berdua saja dia menampakkan dirinya kemaren." jelas Fityah dengan rasa kasihan terhadap arwah anak itu.
"Jadi maksud kakak, kita harus keluar malam - malam gini..?, trus gimana caranya kita kesana..?" tanya Hanum kebingungan.
"Rindu...aku membutuhkan bantuanmu, hadirlah disini..", ucap Fityah dengan sangat jelas.
__ADS_1
Ucapan Fityah barusan tentu saja membuat Hanum kaget, dan makin bingung. Tak lama kemudian, Rindu muncul tepat dihadapan mereka.
"Ssiiiiaaaapa ini kak...?", tanya Hanum dengan rasa takut.
"Jangan kaget ya Num.., dia adalah teman tak kasat mata kakak. Namanya adalah Rindu. Kamu juga bisa berteman kok dengannya." Dia memang berbeda alam dengan kita." ucap Fityah sambil memperkenalkan sosok Rindu kepada Hanum.
"Hiiiihiiiiihiiiiiii......", Rindu tersenyum sambil cekikikan.
"Udah deh Rindu, jangan godain Hanum mulu, dia itu juga sama dengan ku."ucap Fityah mengingatkan Rindu.
"Aku tau siapa bocah itu, dia adalah satu dari beberapa makhluk yang mendiami Pondokan Alesha. Kasian sekali dia, harus menjadi arwah penasaran di usia yang sangat kecil. Dia bukanlah arwah yang jahat, dia juga mati dengan cara yang sangat tragis. Kalian memang harus membantunya. Aku akan membawa kalian kesana." Begitu ucap Rindu sambil menjelaskan identitas arwah bocah itu.
"Terus gimana caranya kita ke Pondokan itu tengah malam gini..?" tanya Hanum kembali.
"Itu akan menjadi tugasku..., aku akan masuk ke tubuh kak Lastri, kemudian mengambil kunci pagar kosan, dan memberikannya kepada kalian. Lalu kalian bisa pergi membawa kendraan menuju Pondokan itu." tambah Rindu menjelaskan.
" Oke...lets go." Sahut Hanum bersemangat.
__ADS_1
Setelah berhasil membuka gerbang kosan, mereka langsung memacu laju kendaraan ditengah dinginnya udara malam menuju Pondokan Alesha.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit, mereka sampai di tempat tujuan.
Setibanya disana, mereka langsung disambut oleh kejadian yang sangat aneh. Saat itu, Fityah hanya bisa menjalankan motornya sampai didepan gerbang saja. Bukan disengaja ia melakukan itu, tapi karena mesin motornya langsung mati tepat diposisi pintu gerbang masuk kosan tersebut.
Mau ga mau, Fityah dan Hanum harus berjalan kaki masuk menuju pekarangan Kosan yang berjarak kira - kira dua puluh meter dari gerbang depan. Suasana disekeliling Pondokan Alesha begitu menyeramkan saat itu.
Mereka terus melangkah menuju kearah tangga. Namun dipertengahan jalan, langkah mereka tiba - tiba terhenti ketika mereka mendengar suara cekikikan yang berasal dari atas. Sontak saja kedua Mahasiswi Indigo ini kaget, dan langsung melihat ke sumber suara tadi.
"Astaga naga....Sssiapa itu kak..???" tanya Hanum ketakutan sambil memandang kearah langit. Tampak oleh mereka sesosok perempuan berambut panjang dengan jubah putih, terbang melayang persis diatas posisi mereka saat itu.
"Ssssssttt....diam Num ...abaikan aja, pura - pura aja ga liat . 'Mbak *unti' itu cuma godain kita. Jangan berisik ya.. nanti suara kita bisa membangunkan anak kosan yang ada dilantai bawah." Bisik Fityah kepada temannya itu.
"Ooiya kak..Kalo ga salah, tadi Rindu bilang kosan ini dihuni oleh beberapa makhluk, apakah yang barusan melayang itu adalah salah satu dari mereka ?" tanya Hanum sambil memegangi tangan kiri Fityah.
**bersambung
__ADS_1