
**Selamat membaca**
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kami beristirahat disana cukup lama karna perjalanan yang kami tempuh terasa sangat jauh. Belum lagi udara yang mulai dingin membuat Fira merasa kurang nyaman.
Matahari belum menampakan hujudnya padahal Kami yakin jika sekarang pasti sudah pagi. Tapi hawa disini memang mendung belum lagi kabut yang mulai turun.
"Kita harus cepet turun buat cari pertolongan! kabut udah mulai turun." ucap Ihya yang langsung berdiri bersiap untuk turun.
"Ayok Fir Kita harus turun sekarang." ajak Fadil
"okee." jawab Fira.
Akhirnya kami memutuskan untuk segera turun karna udara di atas sudah semakin dingin. Jarak pandang yang kurang bagus karna kabut membuat mereka kesusahan untuk menentukan arah turun.
"Kita mau belok mana nih kanan atau kiri?." tanya Fira yang melihat dua jalan depannya.
"Gue juga gak tau kita kemana." ucap Ihya pelan.
"Gimana sih lu katanya tadi tau jalan kok malah nyasar." kata Fira kesal.
"Lu bisa diam gak sih berisik tau!" ucap Ihya.
"Iyee serah gue lah mulut-mulut gue." sinis Fira.
Ihya hanya menatap Fira tajam tanpa membalas ucapan Fira yang malah akan membuatnya emosi.
"Kita ambil kanan aja." ucap Fadil tiba-tiba yang langsung di anggukin oleh Ihya.
Fadil dan Ihya langsung berjalan kearah kanan sedangkan Fira masih tertinggal di belakang mereka.
"Ehhh kok gue di tinggal sih! Woyy......tungguin." teriak Fira dan berlari mengejar Ihya dan Fadil yang sudah jauh di depannya.
"Lama lu cepetan." teriak Ihya.
Lama merekan berjalan tapi belum menumukan rumah warga atau pos pertama yang mereka lewati saat naik tadi.
"Masih jauh iya?." tanya Fira
"Kenapa cape lu?" tanya Fadil balik yang di angguki oleh Fira.
"Disana tadi ada gue lihat ada gubuk gimana kalo kita istirahat di sana aja?" usul Ihya.
"Boleh tuh ini juga mau turuh hujan kayaknya." ucap Fadil.
"Ya udah ayok kesana gue dah capek kaki gue sakit lagi." ucap Fira.
__ADS_1
"Sini gue bantu." ucap Fadil yang memapah Fira.
"Maksih Dil lu itu bener-bener baik engak kayak temen lu tuh." sindir Fira pada Ihya.
"Hehehhe iya santai aja nanti mau gue pijitin kagak kaki lu?" tawar Fadil.
"Mau.... mau banget gue Dil kaki gue pegel banget sumpah." uca Fira.
"Lebay banget gitu doang aja udah ngeluh." ucap Ihya.
"Yeee suka-suka gue lah irinya." ejek Fira.
"Gue iri sama modelan lu dih najis." ucap Ihya sambil membuang mukanya.
"Udah ribut muluh lu berdua! cepetan jalannya udah mau hujan ini." ucap Fadil yang langsung di turutin oleh Fira dan
Akhirnya mereka sampai juga di gubuk kayu itu, tidak terlalu besar tapi cukup untuk tempat berteduh mereka. Karna hari sudah semakin sore dan kabut belum hilang di tambah hujan yang mulai turun. Membuat mereka bertiga harus segera menyiapkan makannya untuk mereka makan nanti.
"Gue mau cari kayu bakar dulu sebelum hujan turun." ucap Fadil yang dianggukin oleh Fira dan Ihya.
"Fir persediaan makan kita tinggal berapa." tanya Ihya pada Fira.
"Tinggal dikit nih." ucap Fira.
"Ya udah lu tunggu disini bentar gue cari buah-buahan tau ubi-ubian." ucap Ihya.
"Bawa iya banyak ya.... gue laper." ucap Fira dengan wajah tanpa dosa.
"Iye bawel kalo ada apa-apa teriak aja gue ada di sekitar sini kok." Ucap Ihya.
"Iyee dah sana pergi." usir Fira yang membuat Ihya menatapnya tajam yang di balas cengiran tanpa dosa.
Sekarang Fira sendiri'an di gubuk ini membuat Fira hanya melihat sekeliling. Entah lah hatinya mendadak tidak enak terlebih lagi ia sendiri tiada Ihya atau Fadil. Tapi Fira mencoba berani tidak mungkin kan ia harus merepotkan Fadil dan Ihya hanya karna ia takut.
Saat Fira tengah asik melihat sekelilingnya tiba-tiba saja ia melihat Serlin temannya yang tengah melampai kan tangan kearahnya. Fira menghampirinya tanpa ragu karna ia yakin itu Serlin. Fira terus ngikutinya sampai di sebuah jurang.
"Loh Serlin mana?" ucap Fira sambil celingak celinguk mencari Serlin.
"AAAAAKKKKHHHHH." teriak Fira kencang karna ia hampir terjatuh ke jurang utunh saja ia masih sempat berpegangan dengan akar pohon.
Ditempat lain.
"AAAAAAKKKKHHHH."
"FIRA....." teriak Ihya yang langsung berlari ke asal suara itu.
Ihya yang sudah menemukan Fira yang akan jatuh ke jurang pun segera membantunya untuk naik ke atas.
"Fir.... pegang tangan gue." ucap Ihya.
"Ihya bantuin gue..... gue takut..." tangis Fira.
"Lu tenang aja gak usah nangis pegang tangan gue ayok Fir..." Ucap Ihya lagi.
"Gue gak bisa.... gue takut ihyaa.... bantu guee..." tangis Fira makin keras.
"Lu pasti bisa ayok." ucap Ihya yang masih menyemangati Fira.
Tiba-tibak Fadil pun datang karna mendengar suara Ihya dan Fira.
"Astaghfirullah.....Fir lu kenapa." tanya Fadil.
"Tanya nanti aja Dil cepet bantu gue tarik Fira." ucap Ihya yang langsung di ikuti Fadil.
__ADS_1
Hingga akhirnya Fira dapat naik ke atas walau kaki sebelah kanan nya luka.
"Kita balik ke gubuk aja yuk kaki lu perlu di obatin." ucap Fadil yang di angguki oleh Fira.
"Tapi gue kagak bisa jalan." lirih Fira.
"Sini gue gendong." ucap Ihya yang langsung menggendong Fira.
Mereka telah sampai di gubuk itu lagi dengan Fadil iya kan menyalahkan kayu bakar untuk menghangatkan tubuh mereka karna hari sudah malam.
"Ganti baju dulu sana habis itu gue obatin." ucap Ihya.
Fira langsung bergegas masuk ke dalam gubuk untuk mengganti pakainya yang kotor itu.
"Sini Fir.." ucap Fadil.
Fira langsung menghampiri Fadil dan Ihya yang sedanf membakar sosis untuk makan malam.
"Mana kaki lu yang sakit biar gue obatin." ucap Fadil.
"Biar gue aja lu ambil buah-buahan yang gue jatuhin disana aja." usir Ihya.
Meski kesal Fadil tetap pergi mengambil buah-buahan yang Ihya maksud.
"Makasih udah nolongi gue dan ngobatin gue." ucap Fira dengan tulus.
"Iya sama-sama makan nih." ucap Ihya sambil menyodorkan sosia yang ia bakar tadi.
Fira menerimanya dengan senang hati dan memakannya. Sampai Fadil pun datang membawa beberapa buah-buahan itu.
"Mau Fir?" tanya Fadil.
"Boleh." jawab Fira.
"Oh iya tadi ngapain lu kejurang?" tanya Fadil.
Lalu Fira menyeritakan semua yang ia lihat dan membuat Ihya dan juga Fadil menjadi tegang dan gelisah.
"Gitu ceritanya." ucap Fira.
"Udah lu cepet tidur sana besok perjalanan kita masih panjang." ucap Ihya.
Fira menurut saja badannya juga capek dan perlu istirahat tapi karna Fira masih takut jadi ia tidak tidur di dalam gubuk tapi di teras gubuk itu. Mereka menggelar alas untuk mereka tidur dan Ihya masih terjaga karna ia harus mengawasi sedangkan Fira dan Fadil telah tertidur lelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
wow.....
__ADS_1
Gimananya kelanjutannya jangan lupa vote dan comennya
***Terima kasih***....