
"Sepertinya ada yang mulai menggoda kita lagi nih kak Fit.." Ujar Hanum pelan. Dia sengaja mengecilkan volume suaranya takut sosok yang sedang menggoda mereka mendengarkan perkataan nya
"Iya nih Num..iseng banget kayaknya tuh makhluk."Sahut Fityah dengan perasaan yang mulai tidak enak. Dia pun merasakan apa yang Hanum rasakan.
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 malam. Cuaca di sekitaran Pondokan Alesha masih terasa dingin mencekam diselilingi bunyi jangkrik dan sesekali raungan anjing. Sungguh amat mencekam.
Entah mengapa perasaan Hanum tidak enak saat itu. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata sedang memperhatikan gerak - gerik mereka dari tadi.
Lama kelamaan Hanum menyadari bahwa ada yang mengawasi mereka. Karena merasa penasaran dengan hal tersebut, dengan beraninya Hanum membalikkan pandangannya kebelakang.
Dan siapa sangka ada sesosok makhluk yang berdiri tepat dibelakang mereka. Makhluk tersebut, tentu saja bukan dari kalangan manusia pastinya. Hal itu bisa dilihat dari penampakannya. Selain itu aura dari dimensi lain pun sangat terasa sangat kental saat disana.
Hanum kembali memberanikan diri menatap makhluk itu dari dekat untuk beberapa saat. Tak berselang lama kemudian, Fityah pun melakukan hal yang sama karena merasakan sesuatu berada dibelakangnya. Tampaklah sesosok penampakan yang mengenakan pakaian serba hitam disekujur tubuhnya. Mata Hanum dan Fitri tidak bisa bisa mengalihkan pandangan mereka ke tempat lain. Hanya terpaku melihat sosok yang berpakaian serba hitam itu.
Makhluk tersebut menggunakan jubah hitam dan kerudung hitam yang panjangnya sampai kebatas kaki, dan ia memegang sebuah cemeti kuda ditangannya.
__ADS_1
"Apakah ada yang bisa aku bantu..?" Tanya sosok tersebut dengan suara dan logat yang sedikit aneh. Didalam hati, hanum mencoba - coba untuk menyamakan tutur katanya.
Jika didengar dengan benar, logat bahasanya sangat kental dengan aksen Tiong Hoa. Hanum kembali memandangi wajah sosok misterius tadi. Namun, sulit sekali bagi Hanum untuk melihatnya.
Wajah makhluk tadi tidak terlihat sama sekali karena ia menggunakan kerudung hitam. Tapi dari jenis suaranya, sudah pasti dia adalah seorang perempuan. Karena merasa sosok tadi tidak menampakkan gelagat yang tidak baik, Hanum mencoba berkomunikasi dengannya.
"Siapa kamu..?", tanya Hanum singkat.
"Aku Mei Lin, aku tadi sedang berkeliling di kawasan ini dengan motorku, aku datang kesini tanpa direncanakan, aku tadi sempat mencium bau sesuatu yang wangi dari tempat ini. Langsung saja aku memberhentikan motorku didepan taman itu." Jawab sosok itu dengan panjang lebarnya.
" Apa kalian tidak takut padaku..?" Tanya Mei Lin singkat.
"Ah, enggak kok..kami sudah mulai terbiasa." Jawab Fityah yang merasa sedikit lebih santai.
"Apa sebenarnya yang kalian lakukan tengah malam seperti ini...?" tanya Mei Lin dengan ramah.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang akan kami kerjakan didalam gudang ini, tapi pintunya terkunci, padahal kami sudah menelfon Bapak yang menjaga Kosan ini beberapa kali, tapi hasilnya nihil." Jelas Fityah yang sudah mulai akrab dengan sosok Mei Lin.
"Ooohhh..hanya itu rupanya, kalau kalian tidak merass terganngu, sini aku bantu." Tawar Mei Lin sambil tersenyum.
Hanya berselang beberapa saat saja, terdengar suara seperti suara berdetak dari bagian dalam pintu tersebut. Pintu yang terdiri dari dua lapisan itu pun perlahan langsung bergerak membuka kearah dalam. Fityah dan Hanum sangat kaget dengan apa yang mereka sedang lihat saat itu. Mereka pun hanya bisa saling pandang sambil mengucap syukur dalam hati.
Ketika mereka mencoba membalikkan badan kebelakang untuk melihat Mei Lin, ternyata sosok yang berpakaian serba hitam itu sudah tidak terlihat lagi disitu. Dalam hitungan detik, terdengarlah suara motor tadi kembali oleh mereka berdua. "Mungkin dia sudah pergi,", Begitu ucap Fityah dalam hati.
Padahal Fityah dan Hanum belum sempat mengucapkan terimakasih karena sudah mau menbantu mereka. Mungkin kalau pada saat tadi itu Mei Lin tidak memberikan bantuan, entah sampai kapan kedua gadis Indigo ini berhasil masuk ke gudang Pondokan tersebut.
Setelah pintu gudang itu terbuka lebar, Fityah dan Hanum dengan segera melangkahkan kaki perlahan bergerak sedikit - demi sedikit menuju bagian dalam gudang.
Jika dilihat dari luar, bangunan gudang ini terlihat kecil. Namun, setelah masuk lebih jauh kedalamnya, rupanya luas bangunannya cukup lumayan besar. Bangunan tersebut terdiri dari tiga ruang. Yaitu ruang utama, ruang tengah, dan ruang belakang yang kelihatannya masih belum permanen.
Ruangan yang pertama kali mereka singgahi adalah ruang utama. Ruangan tersebut berukuran hanya sekitar 3 × 4 meter. Ruangan itu terlihat tidak begitu terisi. Hanya beberapa alat kebersihan dan benerapa alat kebun yang terletak disitu.
__ADS_1
Mereka pun melangkah menuju ruangan berikutnya. Saat itu posisi Fityah dan Hanum berada diruang tengah. Menurut mereka, ruang tengah ini lumayan lebar, disana terdapat banyak sekali kerangka tempat tidur yang sudah patah dan tidak terpakai lagi. Hampir semua barang - barang tersebut sudah terlihat usang, dan dipenuhi oleh sarang laba - laba disekelilingnya. Namun yang membuat mereka pusing, adalah letaknya yang tidak beraturan dan sangat berantakan, sehingga mereka menjadi susah untuk melangkah.