Sahabat Beda Alam

Sahabat Beda Alam
BAB 10#Mereka Kembali -ikut campur#10


__ADS_3

" Begitulah nak...kisah dibalik kematian Alesha yang sangat tragis", ujar Pak tua sambil memandangi sosok anak kecil disampingnya itu.


"Kami baru tau kisah sebenarnya hari ini Pak Tua, sebelumnya kami hanya menduga - duga saja" sahut Fityah dengan raut wajah sedih.


"Jadi apa yang bisa kami bantu untuk Alesha pak tua..?" tanya Hanum menyambung percakapan.


"Kalian berdua adalah makhluk istimewa, kalian dianugerahi kemampuan yang tidak dimilik oleh semua orang, apakah kalian mau membantu meluangkan sedikit waktu dan tenaga kalian untuk menolong teman kecilku ini...?" tanya Pak Tua dengan nada memohon.


" Teman kecil...? apa maksud bapak menyebut Alesha sebagai teman kecil...?" Tanya Hanum penasaran.


Pak tua yang berasal dari bangsa Jin itu pun kemudian menyambung ceritanya sedikit mengenai hubungan pertemanannya dengan Alesha.


Sebelum kejadian nahas itu menimpa Alesha, Pak Tua dan Alesha sedang asyik mengobrol di taman depan pekarangan Pondokan. Sedikit pun tidak ada firasat buruk yang dirasakan oleh Pak Tua saat itu.


Tidak pernah terlintas olehnya jika nyawa Alesha sedang terancam pada saat itu. Alesha sudah ia anggap seperti teman, seperti cucu atau seperti keluarga besar bangsa Jin yang mendiami kawasan itu. Ditambah lagi dia sudah menjadi anak Yatim sejak ia bayi. Pak Tua dan bangsa Jin lainnya selalu melindungi keberadaan anak malang ini. Mungkin inilah yang disebut takdir, batas kehidupannya sebagai manusia hanya sampai disitu.


Alesha sebenarnya juga mempunyai kemampuan melihat dunia lain seperti halnya Fityah dan Hanum. Hanya saja ia belum mampu mengendalikan kemampuannya saat itu, mungkin karena usianya masih kecil. Dengan kemampuan batin yang ia miliki inilah makanya Pak Tua bisa berkomunikasi dengannya.


"Ooohhh...begitu rupanya..", ujar Fityah dan Hanum serentak.

__ADS_1


"Jadi..apa yang bisa kami bantu, Pak...?" tanya Fityah


Kemudian Pak Tua menjelaskan apa saja yang harus mereka berdua lakukan untuk melepaskan roh Alesha dari cengkraman kekuatan jahat Nyimas Dewi.


Namun setelah mendengar penjelasan yang panjang dari Pak Tua, kedua Mahasiswi ini merasa kurang begitu yakin dengan kemampuan yang mereka miliki.


Menurut penjelasan Pak Tua, langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah menggali kembali makam Alesha yang terletak di gudang yang bersebelahan dengan Bangunan Pondokan.


Makam Alesha tersebut letaknya tersembunyi didalam gudang. Ada banyak sekali peralatan yang diletakkan di gudang tersebut. Gundukan tanah memang tidak lagi terlihat karena telah diratakan dan ditimpa dengan banyak benda - benda perkakas kebersihan agar tidak terlihat mencurigakan.


Kalau ditilik dengan akal manusia biasa, pasti semua orang akan berpendapat, kekuatan bangsa Jin bisa saja digunakan untuk menggali kembali tanah kuburan, dan dilanjutkan dengan mengeluarkan tulang belulang yang masih tersisa.


Setelah mendengar banyak penjelasan dari Pak Tua, Fityah dan Hanum segera nergerak. Tak ingin membuang banyak waktu, langsung saja mereka pergi menuruni anak tangga dan bergegas melangkah ke gudang.


Rencana mereka rupanya berjalan tidak semulus yang direncanakan. Gudang itu memiliki dua lapis pintu. lapisan pintu pertama terbuat dari papan , dan lapisan pintu kedua terbuat dari besi.


" Hahhhh...apa - apaan ini kak...?" gerutu Hanum sambil menendang bagian bawah pintu tersebut.


"Sssssssttt.......", jangan berisik dong Num...? Nanti pada ramai yang datang kesini..!!!" pinta Fityah sambil berbisik.

__ADS_1


"Terus mau kita apain nih pintu kak...?, keras banget !!! atau kita coba dobrak aja yuk kak....?" seru Hanum dengan penuh semangat.


"Kalau ga salah, Gladys ada nyimpan nomer pak Sudirman ini deh...??" ujar Hanum setengah menduga.


"Terus, apa kita harus menelfon Gladys, malam - malam gini Num..?", tanya Fityah sambil memegang ponselnya.


"Ya...., kayaknya gitu deh kak.., coba kakak telfon dia..", jawab Hanum menganjurkan.


"Halooo...Dis..kamu punya nomernya pak Sudirman yang jaga Pondokan Alesha gak..?", tanya Fityah kepada temannya yang setengah sadar itu.


"Emang ada perlu apa sih kakak nelfonin pak Sudirman malam - malam gini..",jawab Gladys dengan suara agak serak.


"Nanti deh kakak ceritain, sekarang tolong kamu inbox nomer pak Sudirman itu segera ya..?" pinta Fityah setengah mendesak.


Setelah Fityah mendapatkan nomer Pak Sudirman, ia langsung menghubunginya. Tak lama setelah itu, samar - samar terdengar suara motor memasuki halaman Pondokan itu.


"Ahhhaaaa...Mungkin itu adalah suara motornya Pak Sudirman tadi kali kak Fit..."? ujar Hanum senang.


" Tapi kok gak keliatan ya ..?, dimana motornya...?"tanya Fityah kebingungan.

__ADS_1


**bersambung..


__ADS_2