Sahabat Beda Alam

Sahabat Beda Alam
BAB 10#Mereka Kembali -ikut campur#1


__ADS_3

" Mengapa kamu tampak sedih wahai temanku..?, apakah ceritaku barusan mengganggumu..?", tanya Rindu sambil menatap teman barunya yang terlihat diam setelah mendengar kisah hidupnya dulu.


Fityah merasa sedih dan prihatin sekali mendengar kisah dibalik kematian sahabat tak kasat matanya itu.


Fityah sungguh tidak menyangka kejadian yang menimpa Rindu sepuluh tahun yang lalu begitu tidak berperikemanusiaan. Bagaimana tidak, ia dihabisi oleh orang yang sudah dikenalnya dan itu terjadi ketika ia sudah kehilangan penglihatannya.


Dari kejadian tersebut, sudah jelas sekali bahwa kejahatan yang dilakukan oleh dua orang itu sudah sangat direncakan jauh - jauh hari dengan memanfaatkan kelemahan yang ada pada korbannya.


Sepertinya para pemuda biadab itu sudah mencari tahu tentang keadaan dan keberadaan Rindu dikampung halamannya itu. Sehingga mereka tau benar dimana Rindu tinggal. Tapi yang masih sulit diduga oleh Fityah adalah apa sebenarnya motif dibalik kejahatan mereka.


Mengapa mereka begitu berniat untuk menghabisi Rindu. Apakah mereka tidak merasa sedih melihat keadaan Rindu yang sudah cacat itu?. Banyak sekali tanda tanya yang berseliweran dibenak Fityah kala mengetahui jalan kematian sahabat gaibnya yang begitu tragis.


Hanum sendiri sepertinya dulu hanyalah seoarang mahasiswa biasa yang tidak mempunyai musuh. Hanum sempat bercerita kalau dirinya sangat senang dengan kehidupannya dikampus kala itu. Ia mempunyai banyak orang yang berteman baik dengannya, baik itu dilingkungan kampus maupun dilingkungan kosannya. Karena Hanum adalah sosok seorang mahasiswi yang baik dan tidak pernah memilih - milih teman untuk bergaul dengan teman - temannya kala itu.

__ADS_1


" Ehemmmmm...", Rindu pun berdehem. seperti biasanya.


"Mmmm...boleh ga aku nanya - nanya lagi..?", tambah Fityah sambil mengernyitkan dahinya, ia takut kalau teman barunya itu merasa tidak nyaman dengan banyak pertanyaan yang ia dilontarkan.


"Dulu kamu kuliah disini mengambil jurusan apa sih...?", tanya Fityah sambil terbata - bata.


"Aku dulu mengambil jurusan Sastra Bahasa Indonesia, karena aku ingin sekali menjadi seorang Sastrawan dengan kerja sampingan sebagai seorang Dosen, tapi kini impianku itu hanyalah tinggal kenangan, mereka berdua sudah merenggut impian dan masa depanku", jawab Rindu dengan suara lirih.


"Ooo...pantesan Bahasa Indonesiamu kedengarannya bagus banget, padahal kamu berasal dari pedalaman yang kental dengan bahasa lokal", celetuk Fityah sambil menggoda Rindu untuk sekedar menggurauinya .


Mendengar suara tangisan sahabatnya itu, tanpa terasa air mata Fityah pun mengalir sendiri membasahi wajahnya. Ia sepertinya ikut merasakan kesedihan dan kehancuran yang diderita sahabatnya itu.


"Tanpa kamu minta pun, aku akan dengan senang hati dan tulus bakal mengulurkan bantuan untukmu", jawab Fityah sesegukan.

__ADS_1


"Tapi sebelum masaku tiba, aku ingin sekali berada disekitarmu, karena aku masih ingin merasakan indahnya mempunyai seorang sahabat", ucap Rindu sedih sambil mengenang - ngenang sahabatnya dulu yang sudah pergi duluan menghadap Sang Pencipta karena kecelakaan maut menuju Puncak seperti yang pernah diceritakannya tadi.


"Baiklah Rindu, aku harus bersiap - siap dulu, karena aku ada janji dengan seseorang sebelum jam 11.00 siang ini, aku mau pergi kesuatu tempat", ujar Fityah sambil menyudahi pembicaraan mereka saat itu.


"Apakah itu janji dengan Hanum..?", tanya Rindu singkat.


"Kamu tidak perlu terlalu memikirkan masalah itu, aku tau sebenarnya apa yang mau kalian lakukan disana, aku akan membantumu, kamu masih ingatkan bagaimana cara memanggilku..?, jika kamu membutuhkan sedikit bantuanku, panggil saja aku", ucap Rindu menjelaskan.


Sebelum mereka menyudahi pembicaraan, Rindu pun menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah mengenal sosok anak kecil yang bergentayangan di Pondokan Alesha.


" Nasib anak perempuan itu juga sama denganku..dan sebaiknya kalian jangan mengganggunya.", jelas Rindu lagi sambil menghilang.


Setelah Rindu menghilang, Fityah mencoba relaks sejenak dan menarik nafas dalam - dalam. Selang beberapa saat kemudian, Ia pun kembali membuka semua gorden dan daun jendela kamar kosannya, untuk merasakan kembali sedikit hembusan angin sepoi - sepoi yang masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Paling tidak hembusan angin itu sedikit menambah energi positif pada dirinya, sambil mempersiapkan mental dan keberaniannya untuk 'mengobservasi' Pondokan Alesha bersama Hanum siang nanti.


***Bersambung


__ADS_2