
"Kak...apa ada anak kosan yang sudah bangun di jam segini..",Tanya Hanum memastikan sambil melirik jam tangan sport miliknya. Dia juga melirik ke sisi kiri dan kanan Kosan tersebut, takutnya nanti ada CCTV disekitar mereka. Mereka pasti bakal jadi sorotan semua penghuni kosan karena mereka datang dari luar padahal waktu masih subuh saat itu.
"Setau kakak, anak - anak kos disini jarang banget yang bangun sepagi ini Num. Kakak biasanya dengar suara riuh ramai suara anak kosan di jam enam -an gitu, Num.." Sahut Fityah setengah menjelaskan.
"Oke, kalau begitu kita aman ya kak... Ayuk ...kak...kita masukin aja sekalian motor kakak, takutnya nanti penjaga kosannya curiga ke kita. " Ucap Hanum sambil melihat - lihat kondisi di dialam dari balik pintu tralis masuk.
Berbekal kunci pintu utama yang mereka dapat melalui bantuan sosok Rindu sebelum berangkat ke Pondokan Alesha malam tadi, mereka akhirnya berhasil membuka pintu masuk utama kosan itu. Mereka kemudian mendorong pelan motor matic fityah tersebut sambil sesekali memantau keadaan sekitar kosan.
"Ahh aman..., sekarang tinggal beberapa langkah lagi sampe dah kita dikamar, abis sampe dikamar langsung mengamankan diri ditempat tidur, kangen banget pengen baring - baring." Ujar Fityah saking kelekahannya berpetualang ke dimensi lain dalam satu malam.
"Iiihhhhhhh...kakak....baru aja 5 jam ninggalin kosan .. kok..kangennya kayak udah ditinggal 5 hari aja" Sahut Hanum sambil tertawa lepas didepan temannya itu.
"Sssssssttttt.....jangan kenceng - kenceng ketawanya Num, ntar anak - anak pada bangun." Ucap Fityah sambil berbisik .
"Ehhh, Kamu masih dikosan kakak kan Num...?"Tanya Fityah kembali untuk memastikan.
"Tapi kak...apa sebaiknya aku pulang aja ke rumah tante..? Aku takut nanti tanteku kebingungan mencariku. Mana hape ku dari tadi malam ke charge tinggal disini lagi. Pasti udah banyak panggilan tak terjawab nih dinotifikasi hapeku." Jelas Hanum menambahkan sambil menyampaikan kekhawatirannya pada saat itu.
"Ya udah deh, kalo gitu kita ke kamar dulu buat ambil hape kamu, yuk.." Begitu ucap Fityah yang sebenarnya sedikit khawatir jika Hanum melanjutkan perjalanan untuk kembali kerumah kerabatnya. Seperti yang diketahui, Hanum sendiri kelihatannya belum pulih benar dari cedera akibat ulah makhluk jahat di gudang tadi malam itu. Hal itulah yang membuat Fityah sedikit risau, apa Hanum bisa berkendara sendiri nantinya.
__ADS_1
"Mari masuk Num...sebaiknya duduk dulu sebentar sambil menunggu Kak Lastri dan suaminya membuka gerbang depan. Sekarang baru aja pukul lima. Nanti setelah Sholat subuh baru kamu pulang. "Jelas Fityah sambil memberi sedikit saran pada temannya itu.
"Tuh hapemu ada diatas laci meja, coba deh di cek charge nya. Aku bikinin segelas teh hangat dulu ya.." Ujar Fityah sambil berlalu ke dapur meninggalkan temannya sebentar.
"Nih, minum dulu tehnya biar kamu agak rileks sedikit", Ujar Fityah lagi sambil menyodorkan secangkir teh hangat kepada Hanum.
"Waw...makasi kak..", Sahut Hanum singkat.
Setelah mengecek ponselnya, Hanum pun duduk menyandar kedinding kamar untuk menyeruput secangkir teh hangat yang diberikan oleh temannya itu.
"Ahh...badanku jadi tambah enakan nih, abis minum secangkir tehnya kak Fityah." Ucap Hanum menambahkan.
"Oh syukurlah kalau begitu, kakak seneng dengernya, padahal kakak sempat khawatir banget sama kamu tadi Num..,takut kalau kamu belum pulih." Jelas Fityah sambil tersenyum.
"Neng Fityah, ini nasi gorengnya, kok pagi - pagi bener sih neng mesennya..? Untung kakak masih punya stock bumbu di kulkas, kalo enggak...., bisa - bisa pesenan neng datangnya jam delapan nanti." Ujar kak Lastri yang belakangan ini makin suka ceplas ceplos ngomongnya, tapi walaupun begitu ia selalu cekatan dalam kerjaan dan masakannya sangat disukai oleh anak kosan disini.
"Oh iya, makasi kak Lastri, maaf subuh - subuh da gangguin kakak tadi.."Ucap Fityah sambil mengambil dua piring nasi goreng yang disodorkan olah kak Lastri kepadanya didepan pintu kamar.
"Kalau gitu, kak Las pamit dulu ya neng..." Ujar kak Lastri sambil berlalu dari kamar Fityah.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Fityah pun mempersilahkan Hanum untuk menyantap sarapan pagi, dengan menu nasi goreng kesukaan Fityah. Ia sangat memfavoritkan nasi goreng buatan Kak Lastri itu, bahkan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di Kosan itu.
Jika dilihat - lihat, mungkin tampilan nasi goreng itu tidak begitu menarik, hanya terdapat sebuah telor ceplok dan sedikit taburan seledri dan bawang goreng diatasnya. Namun, yang paling tidak bisa ditawar - tawar itu adalah aroma dan rasanya yang cocok dilidah, ditambah lagi dari segi harganya yang cocok banget dikantong anak kosan seperti mereka. Pantas saja Fityah tidak pernah bosan dengan menu satu ini.
"Kak...enak banget ya nasi gorengnya, pantesan subuh - subuh buta kakak dah mesen ke kak Lastri tadi." Ujar Hanum sambil menyantap sarapannya itu.
"Ssssstttt...kakak gak pernah mesen nasi goreng ini, Num.., emangnya dari tadi kamu disini, pernah gak liat kakak ngotak ngatik hape...? Malahan hape kakak, dimatiin dulu tadi sebelum di chargenya ."Sahut Fityah sambil berbisik.
"Atau ini nasi goreng pesenan kamar sebelah kali kak...?" Tanya Hanum penasaran.
"Enggak kok, Num..ini bener pesenan untuk kita." Ucap Fityah dengan sangat yakin.
"Lantas, siapa yang udah berbaik hati mesenin sarapan maknyus ini untuk kita berdua..?" Tanya Hanum kembali yang masih dengan lahapnya makan disuapan - suapan terakhirnya.
" Kakak rasa pasti ini ulah Rindu.., Udah beberapa kali dia ngelakuin hal kayak gini,..kmaren pas kamu dateng di jam makan siang, juga karena ulah baiknya. Dia juga yang mesenin menu makan siang kala itu. Kakak jadi enggak enak hati sama dia. Malahan kakak sampai lupa terus ngucapin makasi ke dianya.
"Kok dia sampai baik begitu ke kakak..?, apa dia punya semacam utang budi atau gimana kak..?"
Fitri pun akhirnya menceritakan sedikit awal kisah persahabatannya dengan Rindu, sesosok arwah penasaran yang kematiannya terjadi dengan sangat tragis. Dengan anggukan kepala Hanum menghayati kisah demi kisah yang Fityah ceritakan hingga akhirnya mereka bersahabat walaupun datang dari dua alam yang berbeda.
__ADS_1
"Ohhh...gitu rupanya ya kak...?" ujar Hanum singkat.
" Tapi setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, Num..", Ucap Fityah, mungkin karena menyadari akan hal itu, dia benar - benar menghargai waktu dalam kami menjalankan pertemanan. Tidak seperti kisahnya dan sahabatnya dulu sewaktu ia masih belum menjadi roh. Persahabatan mereka terpaksa dipisahkan oleh ajal. Nyawa sahabatnya pada waktu itu tidak dapat lagi diselamatkan dalam sebuah insiden kecelakaan yang membuat sahabatnya itu harus meninggal dunia ditempat kejadian.