
"Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan sekarang Pak...?" Tanya Fityah meminta masukan dari Jin Pak Tua yang sepertinya tau banyak tentang segala hal yang berkaitan dengan kekuatan gaib disekitar kawasan Pondokan itu.
" Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan temanmu dulu, bapak pun bisa merasakan dari sini, sekarang ini keadaan temanmu sedang dalam keadaan kritis. Luka yang ada dikakinya itu memang tidak terlihat oleh mata biasa, namun bapak bisa melihat luka itu cukup dalam hingga menusuk kedalam lapisan bawah kulit, sehingga menjadi gosong dibagian dalamnya.
Makhluk yang mencederainya sepertinya mempunyai kekuatan yang sangat hebat. Tentu saja makhluk gaib, tidak akan pernah menyakiti seseorang jika ia tidak merasa terusik. Atau bisa jadi, makhluk tersebut melukai temanmu atas perintah sesuatu yang membawahinya.
Bisa saja itu perintah dari Nyimas Dewi ataupun sosok gaib lainnya. Siapapun mereka, nanti akan kita bahas. Sekarang yang paling penting, selamatkan dulu nyawa temanmu itu. Jika temanmu dibiarkan berlama - lama disana tanpa pertolongan, takutnya dia akan tiada." Jelas Pak Tua dengan tenang seperti biasanya.
"Tapi siapa yang akan mengobati teman saya, Pak..?", Tanya Fityah singkat.
"Insyaallah bapak akan coba mengobati luka dalam dipergelangan kaki temanmu itu. Bawalah permata ini bersamamu, dan tempelkan benda itu pada bagian kaki yang luka. Usapkan sebanyak tiga kali berulang - ulang sambil mengucapkan Dua Kalimat Syahadat di tiap kali usapannya." Begitu ucapan Jin Pak Tua menjelaskan cara kerja dari batu permata sakti yang dipinjamkannya kepada Fityah.
"Pergilah sekarang juga ke gudang tadi, cepat obati luka temanmu dengan benda yang bapak berikan tadi. Cepatlah kesana, karena sebentar lagi akan masuk waktu subuh." Jelas Pak Tua lagi sambil melihat kearah langit yang sudah mulai memerah di ufuk timur.
__ADS_1
Dengan segera Fityah melangkah menuruni anak tangga satu persatu. Tidak ada hal lain yang difikirkannya saat itu, kecuali hanya bagaimana secepat mungkin Hanum bisa sadar kembali dari pingsannya, akibat dari luka dalam yang dideritanya.
Setelah melewati anak tangga satu - persatu, sambil ia melangkah, kembali terfikir olehnya bahwa ia pasti akan kembali melewati pekarangan depan yang tadi dipenuhi oleh penampakan berbagai penampakan makhluk astral yang sangat menakutkan. Yang pasti akan membuat siapa saja untuk berfikir dua kali ketika melewati areal tersebut. Apalagi bagi mereka yang sama sekali belum pernah berhadapan langsung dengan sosok tak kasat mata.
Namun apa boleh dikata, mau tidak mau Fityah harus melewati areal pekarangan itu, karena itulah jalan satu - satunya yang harus dilalui untuk bisa sampai di gudang Pondokan.
"Bismillah..."Begitu ucap Fityah dalam hati, kemudian menapakkan kaki kanansebagai langkah pertamanya keluar dari belokan anak tangga tadi. Ketika ia mencoba memulai langkahnya di beranda depan, alangkah kagetnya ia pada saat itu.
Kala itu, Fityah tidak lagi menemukan satu sosok makhluk gaib pun yang berlalu lalang ataupun sekedar berdiam diri disana. Semua sosok yang mencoba mengganggu dan menghalang - halangi perjalanannya tadi, tiba - tiba tidak ditemukan lagi keberadaannya disana. Hal ini dikarenakan mungkin saja pada saat itu waktu sudah hampir mendekati fajar, dan dari ufuk timur langitpun sudah berwarna kemerah - merahan yang membuat semua sosok astral ini harus segera pergi menghilang atau sosok mereka akan hangus terbakar.
Sesampainya ia di gudang, ia langsung menarik handle pintu dan membukanya perlahan agar tidak berisik.
"Hanum....Rindu....." Fityah bergantian memanggil nama kedua temannya itu, namun belum ada jawaban satupun dari mereka.
__ADS_1
Tak beberapa lama setelah itu, muncul sosok Rindu dari balik tumpukan meja bekas yang terletak di ruang tengah.
"Disini kak...", jawab Rindu singkat.
"Kenapa kakak lama sekali..?" tanya Rindu sambil beranjak sedikit dari sisi kanan Hanum yang masih tidak sadarkan diri.
"Aku harus menunggu Pak Tua dulu datang. Setelah itu, Dia memberiku ini.." Jawab Fityah sambil menunjukkan suatu benda berkilau yang disebut sebagai 'Batu Permata Sakti' oleh para bangsa Jin.
"Ini untuk apa kak...? apakah kak Hanum harus memakannya....? Tanya Rindu lagi.
"Ya, tentu saja tidak. Kita hanya perlu mengusapkan batu permata sakti ini bagian kaki Hanum yang cedera itu sebanyak tiga kali." Jawab Fityah sambil menjelaskan cara kerja dari benda ajaib tersebut.
"Baiklah kak...sini aku bantu., biar aku saja. Kelihatannya kakak sudah kelelahan", Begitu Rindu menawarkan bantuan untuk mengusapkan batu permata sakti itu ke pergelangan kaki Hanum, dan kemudian menoba memegangnya.
__ADS_1
"Eiiiittss....Jangan Rindu, nanti tanganmu akan terbakar, karena kamu sekarang bukan manusia lagi, melainkan sosok arwah, biar aku saja yang mengusapkannya ya.." Pinta Fityah sambil menjelaskan perkara yang sebenarnya.
**bersambung