
Setelah Hanum bisa mengendalikan dirinya, Fityah memintanya untuk menarik nafas dalam - dalam dan menyuruhnya untuk menstabilkan dulu emosi dan rasa shock yang menderanya saat itu.
Melihat Hanum sudah mulai relax dan tenang, Fityah pun mencoba untuk bertanya tentang apa sebenarnya yang terjadi. Mengapa Hanum tiba - tiba berteriak begitu kerasnya, padahal tadi ia tengah asyik menelfon kekasihnya, sambil sesekali senyum - senyum sendiri.
Hanum pun mulai menceritakan apa yang membuat ia begitu shock dan kaget setengah mati sehingga ia berteriak sejadi - jadinya seperti tadi itu.
Rupanya dari jauh Hanum melihat sosok anak perempuan yang memakai gaun berwarna merah, dengan rambut panjang terurai. Anak itu kira - kira berusia sekitar 5 - 6 tahun.
Sosok anak perempuan itu awalnya hanya berjalan santai saja dipinggir pagar kos, makin lama langkahnya semakin cepat dan tiba - tiba saja dia melangkah naik keatas pagar pembatas yang terbuat dari besi hitam itu.Tak lama kemudian, dia langsung terjun bebas sambil tersenyum kearah Hanum.
Nah, saat itulah Hanum berteriak keras karena ia tidak menyangka sosok anak yang awalnya tidak menunjukkan gelagat yang macam - macam, akan secepat kilat naik memanjat pagar pembatas dilantai dua kosan itu.
Fityah kemudian melangkah dan berhenti tepat disamping Hanum dan membisikkan sesuatu ke telinganya" apa anak perempuan itu membawa boneka...?"
Spontan saja Hanum langsung terperanjat mendengar pertanyaan Fityah saat itu.
__ADS_1
"Bagaimana kakak bisa tau...?, apa kakak tadi juga melihat sosok yang sama seperti yang aku lihat..?", tanya Hanum dengan bibir yang masih gemetar.
"Ya..tentu aja kakak melihatnya dengan jelas, sama seperti apa yang kamu lihat, hanya saja kakak cuma melihatnya sebentar karena sosok anak itu cepet banget ngilangnya". jawab Fityah.
" Ya udahlah Num, jangan terlalu kamu pikirin, kamu bawa tenang aja dulu, kalau ada apa - apa nanti, telfon kakak aja", lanjut Fityah lagi.
"Hanum...., apa kamu baik - baik aja?" tanya Gladis dengan wajah panik. " Apa kamu mau aku antar pulang dulu pulang kerumah Tantemu...?", lanjutnya pula.
Hanum adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari luar kota, namun disini sebenarnya ia masih mempunyai kerabat dekat yang ia biasa sapa dengan panggilan Tante Immar, hanya saja rumah tantenya itu tidak mempunyai cukup kamar untuk ia tinggali selama ia menuntut ilmu dikampus ini.
Tante immar adalah seorang janda dengan empat orang anak yang masih berstatus pelajar. Namun begitu, Tante immar masih mau berbasa - basi untuk terus mengajak Hanum tinggal dirumahnya selama mejalani pendidikan dikampus.
*****
"Heyyyy...., kok ngelamun aja sih Num..?", sapa Gladis.
__ADS_1
Hanum sepertinya masih belum bisa lepas dari sosok anak kecil yang dilihatnya, Ia masih terlihat sedikit shock setelah kejadian tadi. Jantungnya masih berdebar kencang dan tangannya masih basah oleh keringat dingin. Melihat kondisi Hanum yang belum stabil, Gladis pun mengambil inisiatif.
" Ya udah, gini aja Num, sebaiknya aku antar dulu kamu pulang kerumah Tantemu, tentang bagaimana kelanjutannnya nanti kosan ini, itu masalah gampang kok.., kita tinggal hubungi Pak Dirman yang jagain kosan ini aja, nomernya udah aku kantongin nihh", lagian kamu kan baru bilang cuma mau liat - liat aja", ucap Gladis menjelaskan.
Akhirnya, mereka semua memutuskan untuk bubar dari lantai atas dan langsung turun menuju parkiran.
Tadi rencananya Fityah ingin sekali bertemu dengan satu - satunya penghuni kamar kosan dideretan kamar sebelah kanan tersebut. Ia merasa sangat penasaran dengan sosok anak perempuan yang ia liat tadi.
Sepanjang jalan menuruni anak tangga, Fityah masih saja memikirkan hal - hal aneh yang ia saksikan langsung ditempat yang baru ia singgahi ini.
Menurutnya tempat ini memang menyimpan sejuta cerita. Arel sekitar kosan ini pun terasa berbeda, penuh dengan energi jahat, dan Fityah bisa merasakan energi itu dari awal ia menginjakkan kakinya di halaman depan kosan ini.
"Ada apa lagi ini...?, mengapa makin bertambah saja penampakan - penampakan makhluk astral yang aku lihat, dan mengapa aku kembali bisa merasakan aura - aura dari dimensi lain lagi sekarang...? ", ujar Fityah kebingungan dalam hati.
Setelah beberapa saat, Fityah dan teman - temannya akhirnya sampai kehalaman depan. Mereka tadi berjalan sangat pelan ketika menuruni anak tangga, karena harus merangkul Hamum yang masih terlihat lemas.
__ADS_1
Mereka pun menuju ke kenderaan masing - masing. Perlahan satu persatu mulai meninggalkan halaman kosan yang terlihat sunyi seolah tidak berpenghuni itu.
**bersambung..