Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.10


__ADS_3

Malik akhirnya mendekat kesumber suara dimana Hanan berteriak, Malik mengrenyit mendapati pintu yang tidak bisa dibuka.


Mama!


Teriak Malik tapi Manda sudah lebih dulu kabur agar tidak dimarahin oleh Malik, Malik berusaha mendobrak pintu kamar.


Brak!


Papi!


Hanan berhambur kepelukan Malik dengan ketakutan sambil terisak, entah apa yang sudah dilakukan Manda sehingga Hanan menjadi ketakutan seperti ini.


"Ada apa sayang?" Malik mencoba menenangkan Hanan.


"Nenek jahat Pi! Tadi saat Hanan pulang sekolah Hanan mencari Mami yang tidak ada dirumah, Nenek bukannya menjawab pertanyaan Hanan justru Hanan dimasukkan kedalam kamar mandi diguyur menggunakan air. Hanan bingung apa kesalahan Hanan sampai membuat Nenek begitu marah? Setelah selesai menguyur Hanan, Nenek tiba-tiba saja pergi, Hananpun mengambil pakian ganti supaya tidak kedinginan. Anehnya disitu sudah ada makanan Pi, saat Hanan makan sedikit-demi sedikit rasa kantuk itu mulai membuat Hanan tertidur, pas bangun Hanan mendapati pintu yang sudah terkunci," jelas Hanan masih sesenggukan.


Kurang ajar!


Batin Malik mengumpat atas kelakuan Mamanya yang sudah diluar batas ini, tapi Malik memendamnya agar Hanan tidak mengetahui apa yang sedang Malik rasakan.


"Yaudah gak papa mungkin Nenek lagi capek aja, Hanan mau ketemu sama Mami?" tawar Malik mencoba menenangkan Hanan.


"Mau! Hanan mau Pi, memangnya Mami kemana kok tadi Hanan pulang Mami gak ada?" tanya Hanan dengan antusias.


"Mami lagi ada dirumah sakit sayang, ada kejadian yang membuat Mami harus dibawa kesana tapi kamu tenang aja Mami gak papa kok, makanya Papi bisa kesini karena Mami yang nyuruh. Kata Mami udah kangen sama anak Papi yang ganteng ini," jelas Malik sambil mencubit pipi cubby Hanan.


"Ah Papi! Hanan kan udah bukan anak kecil lagi kenapa Papi masih saja gemas dengan pipi Hanan sih," gerutu Hanan sambil mengusap pipinya yang memerah.


"Emm anak Papi ceritanya merajuk nih, bagi Papi kamu tetap anak kecil Papi yang menggemaskan. Yaudah sekarang kita berangkat yuk,"


Malik mengendong Hanan menuju mobilnya, sebenarnya Malik ingin bertanya kenapa Mamanya bisa melakukan perbuatan jahat itu. Tapi Manda sepertinya sudah kabur lebih dulu, yasudah lah nanti saja Malik membicarakan masalah ini.

__ADS_1


"Pi? Boleh Hanan mengatakan sesuatu?" tanya Hanan yang membuat Malik menoleh.


"Boleh dong sayang, Hanan mau mengatakan apa?" Malik menatap Hanan sambil tersenyum dan melajukan mobilnya.


"Hanan minta jangan bilang ini sama Mami ya, Papi kan tau kalau selama ini Nenek gak suka sama Mami. Hanan hanya gak mau aja kalau kejadian ini membuat Mami jadi kepikiran dan meminta agar Papi mau menceraikan Mami. Hanan gak mau kehilangan Mami maupaun Papi, Hanan bahagia mempunyai orang tua seperti kalian. Apapun yang terjadi kalain harus tetap bersama," jelas Hanan sambil memegang lengan Malik yang fokus menyetir.


"Sebenarnya tadi Papi juga punya pemikiran seperti itu tapi Papi gak mau bilang takut kamu menolak, karena ini kamu yang minta sendiri mari kita bekerjasama untuk menutupi semua ini dari Mami, boleh Papi bicara sesuatu sama Hanan?" tanya Malik membelai rambut Hanan yang hitam itu.


"Baiklah mari kita menyembunyikan kebohongan demi kebaikan, boleh," jawab Hanan sambil tersenyum.


"Sebelum Mami dibawa kerumah sakit kemarin saat Nenek bilang bahwa Mami memecahkan piring apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Malik sambil fokus menyetir namun sesekali memandang kearah Hanan.


"Papi tau saat Hanan pulang, Hanan mendapati Mami sedang makan nasi yang udah jatuh dilantai, Hanan udah ngelarang Mami tapi Mami bilang mubadzir Pi," celoteh Hanan sambil mengingat-ingat kejadian itu.


Ckit!


Brak!


"Maaf ya sayang Papi hanya kaget aja mendengar penjelasan itu, makasih ya udah kasih tau Papi." Malik mengelus rambut Hanan sambil tersenyum.


Malik kembali melajukam mobilnya dengan banyak pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi hingga Mila makan nasi kotor itu? Sepertinya Mama sengaja melakukan semua ini saat dirinya dan Hanan tidak ada dirumah. Itulah berbagai pertanyaan yang ada didalam pikiran Malik.


Malik kembali melajukan mobilnya sedangkan kini Malik dan Hanan saling terdiam, tidak ada pembicaraan lagi. Sampailah kini mereka dirumah sakit Malik mengendong Hanan untuk memasuki ruangan dimana Mila berada.


"Kenapa lama sekali Mas? Mas gak buka pesanku?" tanya Mila sambil memeluk Hanan yang berhambur mendekatinya.


"Maaf tadi dijalan agak macet sayang, emang kamu kirim pesan apaan?" tanya Malik sambil mengrenyitkan keningnya.


"Coba kamu buka dulu Mas, Hanan udah makan?" tanya Mila yang kini melihat kearah Hanan.


"Sudah kok Mi, Mami sudah makan belum?" Hanan berbalik menanyai Mila.

__ADS_1


"Bagus, makan yang banyak ya sayang supaya tetap gendutan. Mami udah makan sayang bahkan tadi Mami dibelikan seblak sama sate loh, lihat habis semuanya kan." Mila bercerita dengan sangat bangganya.


"Lah Hanan kan emang gendut Mi, tadi Papi cubit pipi Hanan sampai kemerahan Mi. Wah Mami keren tidak biasanya Mami makan banyak gitu." Hanan mengadu pada Mila.


"Kamu mau pulang sekarang atau bagaimana sayang?" sela Malik sambil menatap kearah Mila.


"Boleh yuk pulang aja Mas, aku udah gak sanggup lama-lama disini. Lebih baik istirahat dirumah saja." Mila memandang kearah Malik penuh harap.


"Baiklah ayo biar Mas bantu kamu,"


Malik memindahkan Mila kekursi rodanya sedangkan Hanan sudah menunggu kursi rodanya. Malik menuju ruang administrasi terlebih dahulu untuk membayar biaya penanganan Mila, Mila dan Hanan menunggu Malik dikursi tunggu pasien.


"Kalau boleh Hanan tau, kenapa Mami sampai masuk kerumah sakit lagi?" tanya Hanan membuka percakapan.


"Tidak apa-apa sayang, Mami hanya ada yang dikontrol saja. Apalagi Mami kan butuh penanganan supaya kaki Mami tidak terjadi infeksi, memangnya apa yang Hanan pikirkan?" jelas Mila menyembunyikan sebuah kenyataan.


"Hanan berfikir jika Nenek sudah menyiksa Mami hingga membuat Mami masuk kerumah sakit lagi." Hanan berkata dengan nada lesu.


"Kenapa Hanan berfikir seperti itu?" tanya Mila menepuk punggung Hanan.


"Hanan tau ya bagaimana kejamnya Nenek sama Mami, apalagi kemarin Nenek sempat memfitnah Mami. Hanan jadi gak ingin sekolah mau dirumah aja jagain Mami, setiap Hanan sekolah fikiran Hanan tidak bisa fokus Mi," raut wajah Hanan berubah menjadi sedih.


"Hanan sayang, Mami ini udah gede jadi kalau Nenek macam-macam Mami udah bisa bela sendiri dengan kekuatan yang Mami miliki. Hanan tenang saja Nenek gak akan berani sama Mami, Mami kan jago silat. Jadi Hanan meragukan kekuatan Mami nih? Ah Mami jadi sedih deh kalau Hanan begitu," rajuk Mila yang membuat Hanan terkekeh.


"Hehehe.. Maaf Mami, Hanan gak akan ragukan kemampuan Mami lagi deh,"


Senyum terbit dibibir Hanan menampilkan deretan giginya, Malik selesai membayar dan membawa Hanan serta Mila menuju mobilnya.


Aww!


JALAN PAKAI MATA DONG!

__ADS_1


__ADS_2