Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.8


__ADS_3

Mila mecekal tangan Malik memberikan isyarat untuk menyudahi perdebatan yang sedang terjadi. Mila tidak ingin nantinya Malik berbuat yang tidak-tidak lagi.


"Mas lebih baik sekarang kita susul Hanan dimobil aku takaut kalau nanti malah Hanan marah karena menunggu kita yang lama ini. Jangan lakukan ini lagi untuk menampar Mama, bagaimanapun Mama itu orang tua yang sudah seharusnya kita hormati. Ayok Mas sekarang kita pergi saja, Mila pamit dulu ya Ma mau pergi keluar sebentar." Mila menarik tangan Malik untuk mendorong kursi rodanya.


"Hissh! Dasar mantu gak tau diri!" teriak Manda yang masih bisa didengar Mila dan Malik.


"Sudahlah Mas anggap saja angin lalu, hari ini kita lupakan semua masalah yang sedang terjadi. Aku tidak mau kalau acaran ini gagal hanya karena kamu tidak bisa mengontrol emosi." Mila terus berbicara supaya Malik tidak terpengaruh dengan perkataan Mamanya.


"Kenapa kalian lama sekali? Hanan sampai mengantuk nungguin kaliam, Hanan kira kita tidak jadi buat jalan-jalan," protes Hanan saat aku dan Mas Malik memasuki mobil.


"Mana ada gak jadi, jadi dong sayang. Lagian gak mungkin kalau Papi sampai ngebatalin jalan-jalan sore kita, ngomong-ngomong Mas dapet uang dari mana?" tanya Mila yang kini sudah berada dimobil dengan Malik dan Hanan.


"Alhamdulilah Mas menang tender besar yang membuat Mas mendapatkan bonus, makanya Mas mau ajak kalian buat jalan-jalan sebagai bentuk rasa syukur. Oh ya giamana kalau besok kita adain syukuran kecil-kecilan dirumah? Sebagai bentuk syukur juga kamu masih diberi kesempatan hidup sayang? Mau gak?" tawar Malik sambil melirik kearah Mila.


"Alhamdulilah! Wih Papi hebat ya, Hanan kalau udah besar nanti mau hebat seperti Papi." Hanan berceloteh dengan semangatnya.


"Alhamdulilah, boleh Mas kalau memang ada uangnya Mila ngikut saja. Makanya Hanan sekolah yang bener biar nanti pintar, jadi hebat deh kayak Papi." Mila mengelus rambut Hanan yang ada dipangkuannya.


"Iya Hanan harus semangat belajarnya supaya jadi anak yang pinter, kalau Hanan pinter bisa jadi hebat kayak Papi," jelas Malik sesekali melirik kearah Hanan dan Mila sambil tetap fokus menyetir.


"Siap Bos! Hanan pasti bakal belajar yang rajin biar pinter, boleh turun di warung makan dulu gak Pi? Hanan laper nih! Tuh lihat cacing diperut Hanan udah pada demo," celoteh Hanan sambil menunjuk bagian perutnya.


"Oh iya tadi kalian belum makan sore ya? Yaudah mau makan dimana?" tanya Malik sambil melihat kearah spion mobil.


"Diangkringan aja Mas, aku udah lama gak pergi kesana. Pengen makan yang gak banyak orang-orang berlalu lalang Mas, aku juga belum bisa membiasakan diri kalau ada orang yang menatap iba terhadaku," jelas Mila sambil membuang muka kearah luar.


"Baiklah didepan itu ada angkringan kita makan disana saja ya,"

__ADS_1


Hanan dan Mila pun mengangguk, Malik memarkirkan mobilnya. Setelah itu memesankan untuk Mila dan Hanan agar makannya dimakan dimobil saja, Malik merasa bahwa Mila belum siap bertemu dengan orang banyak dalam keadaan kakinya yang seperti itu.


Mereka melewati sore hingga larut malam dengan bersenang-senang, sampai tibalah mereka dirumah. Sedangkan Hanan sudah tertidur dengan pulasnya, Malik lebih dulu mengendong Hanan menuju kamar sebelum menurunkan Mila.


"Udah cacat gak bisa turun dari mobil sok-sokan pergi keluar," cerocos Manda sambil melangkahkan kakinya.


"Plis deh Ma, Mila sedang gak mau debat sama Mama. Mila bisa saja kok bales ucapan Mama itu tapi Mila lebih memilih diam daripada mencari masalah." Mila mulai terusik dengan kehadiran Manda.


"Loh dari mana Ma?" tanya Malik melihat Mamanya masuk kedalam rumah.


"Habis jengukin tetangga yang sakit demam, urusin tuh Istrimu yang gak bisa turun dari mobil." Manda berlalu pergi melengang masuk kedalam rumah.


"Mas ayo turunin aku, aku udah ngantuk nih." Mila membuyarkan amarah Malik.


"Kamu mau langsung tidur atau mau ganti baju dulu?" tanya Malik sambil mendorong Mila masuk kedalam rumah.


"Aku mau ganti baju dulu Mas gak enak kalau tidur pakai gaun begini," jelas Mila sambil tersenyum.


"Nyapu nih! Sekalian pel," suruh Manda karena pagi sudah beranjak Malik dan Hanan juga sudah pergi.


"Baiklah Ma, bisa tolongin Mila naik kekursi roda?" tanya Mila dengan sabarnya.


"Hissh! Bisanya ngrepotin aja," gerutu Manda namun tetap membantu Mila menuju kursi rodanya.


"Makasih Ma, Mila juga suntuk hanya didalam kamar terus. Makasih sudah diberikan pekerjaan juga." Mila menerima sapu dan pel tersebut dan keluar kamar tanpa mendegar jawaban Manda.


Sebenarnya Mila bingung harus bagaimana menyapunya, tangan yang satu Mila gunakan untuk memegang sapu sedangkan yang satu lagi untuk memagang kursi roda supaya bisa jalan.

__ADS_1


Awalnya Mila kesulitan apalagi ini pengalaman barunya tapi Mila terus mencoba hingga akhirnya Mila terbiasa. Mila tersenyum mendapati dirinya yang sudah bisa menyapu. Tapi saat mengepel Mila kewalahan hingga menumpahkan air yang ada disebuah ember."


Brak! Akh!


Mila terjatuh karena laintainya yang licin mengakibatkan kursi rodanya tergelincir. Mila basah kuyub dan mencoba untuk bangkit, beberapa kali Mila mencoba tapi dirinya gagal.


Hiks! Hiks!


Mila menangis sambil tangannya meraih kursi roda yang masih dalam posisi miring, Mila mulai merasa dirinya tidak berguna. Bahkan untuk bangunpun tak bisa.


Haduh!


"Kamu ini gimana sih? Tadi kan Mama suruh kamu buat ngepel! Kenapa jadi tumpah begini airnya, kamu nih bukannya bantuin malah nambahin pekerjaan aja," teriak Manda menghampiri Mila tanpa membantunya.


"Maaf Ma tapi Mila kewalahan belum terbiasa, apalagi dengan kondisi Mila yang seperti ini." Mila mendongakan kepalanya agar bisa melihat Manda.


"Maaf! Maaf! Mama ambilin baju dulu buat ngelap air ini, kamu lap air ini sampai bersih,"


Manda berlalu pergi meninggalkan Mila sedangkan Mila hanya memandang nanar kearah Manda, Mila berusaha menegakkan tubunya. Syukurlah setelah bersusah payah akhirnya Mila bisa menegakkan tubuhnya.


Manda tiba-tiba mebuang sebuah kain tepat didepan muka Mila. Sedangkan Mila yang mendapat perlakuan tersebut hanya tersenyum kecut, Mila mengelap tumpahan air dengan sengat cepat. Kram ditanganya tak dirasakan hingga rasa haus membuat Mila menghentikan aktifitasnya.


"Loh kenapa berhenti? Itu kan belum selesai." Manda menghampiri Mila yang berhenti mengelap.


"Mila haus Ma, capek juga. Kalau boleh tolong ambilin minuman buat Mila dong Ma," jelas Mila sambil memohon.


"Tidak! Sebelum semuanya selesai jatah minum dan makan gak akan Mama kasihkan. Udah cepetan bersihin keburu siang nih,"

__ADS_1


Mila hanya bisa menangis melanjutkan kembali mengepelnya, karena capek dan lapar tiba-tiba Mila mendadak pusing.


Mila!


__ADS_2