Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.9


__ADS_3

Malik berteriak melihat kondisi Mila yang mengenaskan; basah kuyup dan pingsan. Dia mengambil pakaian untuk menggantinya nanti di rumah sakit dan membopong Mila ke sana.


"Sabar sayang," lirih Malik pada Mila. Dia tidak tahu apa yang membuat Mamanya memperlakukan Mila seperti ini, dan menyesal telah menyerahkan Mila pada Mamanya.


Pintu ruangan terbuka, dan dokter yang memeriksa kondisi Mila keluar. Malik menghampiri dokter dan bertanya, "Bagaimana kondisi istri saya, dok?"


"Istri Bapak tidak apa-apa, hanya kelaparan saja yang membuatnya pingsan. Lain kali tolong jangan sampai telat makan ya, terutama karena Istri Bapak sedang dalam masa pemulihan. Saya harap kejadian ini tidak terulang kembali. Kalau begitu, saya permisi dulu," jelas dokter sebelum berlalu.


Tubuh Malik melemah mendengar kabar dari dokter. Kenapa Mamanya tidak memberikan makanan pada Mila? Kenapa Mamanya begitu tega padanya? Batin Malik tersayat, namun dia mencoba menenangkan diri.


Setelah membelikan Mila makanan, Malik memasuki ruang Mila. Saat ini, hanya dirinya yang menjadi tempat berteduh Mila. Malik harus kuat menopang dirinya dan menyemangati Mila. "Mas?" Mila membuka suara ketika Malik masuk.


"Mas membawa kamu sate dan seblak, makanan kesukaan kamu. Sekarang makan dulu ya, biar Mas suapin. Kalau masih belum kuat duduk, tiduran saja," jelas Malik sambil menyajikan makanannya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Mas? Kok kamu bisa bawa aku ke sini?" tanya Mila, bibirnya bergetar menahan lapar.

__ADS_1


"Mas sudah ijin, tadi ada berkas yang ketinggalan. Tapi jangan khawatir, ada orang baik hati yang mau menjemput kamu dan membawamu pulang. Mas akan siapkan sarapan untukmu besok dan bertanggung jawab agar kejadian ini tak terulang lagi," jawab Malik yang menyuapkan nasi kedalam mulut Mila.


Air mata Mila meleleh, bahkan hanya karena sesuap nasi. "Kenapa, sayang? Ada yang sakit?" tanya Malik panik.


"Hanya sesuap nasi aku sampai memohon Mas dan membuat Mas jadi kerepotan," jelas Mila yang membuat Malik ikut menangis.


Malik memeluk tubuh Mila. Mila adalah istrinya, namun dia bagaikan pengemis di rumahnya sendiri. Hati Malik terluka melihat perlakuan terhadap Mila. "Maafkan Mas ya, sayang. Mas tidak bisa melindungimu saat kamu membutuhkan perlindungan itu," kata Malik.


"Ingin rasanya aku membalas Mamamu, tapi aku tak kuasa. Kesabaranku ini terbatas, tapi aku memperluasnya. Tanganku ini ringan, tapi aku melemah saat mengingat siapa Mamaku," jelas Mila yang terisak di pelukan Malik.


"Sudah boleh pulang besok, Mas?" tanya Mila. "Ini sudah jam pulangnya, Hanan pasti sudah mencariku. Apakah sebaiknya kamu menyusul Hanan?"


"Kalau begitu Mas tinggal bersamamu saja. Kamu gak papa, kan?" tawar Malik yang dianggukinya.


Setelah mendapat persetujuan dari Mila, Malik pergi. Mobilnya melaju cepat agar Hanan tidak menunggunya lama.

__ADS_1


Di rumah, Malik menemukan Manda sedang memasak. "Loh, kamu sudah pulang, Mal?" tanya Manda seperti biasa.


"Hebat ya, Ma. Tanpa rasa bersalah, Mama melakukan perbuatan keji pada Mila. Apa karena Mila tidak bisa mencari uang lagi? Jadi selama ini Mama baik karena Mila bisa mencari uang?" tanya Malik dengan nada tinggi.


"Mama tidak begitu, Mama hanya ingin kamu melihat fakta bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu kamu perthankan dari wanita cacat seperti itu," jelas Manda sambil fokus pada masakannya.


"Kenapa Mama sebegitu ambisinya ingin hubungan anaknya berantakan?" tanya Malik terheran-heran.


"Karena kamu masih pantas bersanding dengan orang lain dan mendapatkan seorang perempuan yang sempurna, bukan perempuan yang cacat. Kamu itu anak satu-satunya Mama, jadi Mama tidak mau jika hidupmu hanya dihabiskan untuk merawat perempuan cacat itu," hardik Manda sambil menghampiri putranya.


"Ma! Harus Mama tahu bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah berpisah dengan Mila. Sehebat apapun Mama mencoba mempercerai hubunganku dengan Mila, aku akan tetap mempertahankannya," jawab Malik sambil meninggikan suaranya.


"Dan sampai kapanpun Mama akan berusaha agar kamu bercerai dengan Mila. Kamu tidak merasa kasihan dengan Hanan? Hanan masih memiliki kehidupan yang banyak dan mimpi yang harus diwujudkan. Bagaimana jika hidup Hanan menjadi berantakan karena harus mengurus perempuan cacat itu? Kamu dengarkan Mama dengan baik. Sekeras apapun kamu mempertahankan hubunganmu dengan Mila, Mama akan tetap membuat kalian berpisah, bagaimanapun caranya," Manda menatap tajam ke arah Malik.


"Papi!"

__ADS_1


Teriak Hanan mengedorkan pintu, membuat Manda panik dan Malik curiga.


__ADS_2