
Malam menjelang Mila dan Marni memutuskan untuk tertidur, hari ini Mila mulai tertdur dengan nyenyak. Masalah yang menghancurkan hidupnya sempat membuat Mila sering tidur dengan uring-uringan, adzan subuh membuat tidur Mila terusik. Saat ini Mila hanya ingin tertib memenuhi kewajibannya meskipun dosanya sudah sangat menumpuk.
"Loh Bapak udah pergi kesawah Mak?" tanya Mila menyusul Marni diruang makan.
"Bapakmu mah memang kebiasaan begitu Nduk, katanya kalau kesiangan takut rejekinya dipatok ayam. Yaudah kita sarapan aja dulu yuk! Nih Emak udah buatin semur jengkol kesukaanmu," jelas Marni mengambilkan piring yang sudah disi nasi beserta semur jengkol.
"Wah mantab Mak! Kita jadi kan buat pergi kerumah Dinda Mak? Andai dulu aku tidak memutuskan menikah setelah lulus sekolah pasti nasibku tidak begini ya Mak. Aku jadi lulusan bidan yang sejak dulu aku cita-citakan, aku menyesal Mak menuruti egoku sendiri. Sakit rasanya Mak melihat Dinda yang sekarang sudah menjadi bidan sedangkan nasibku justru seperti ini," ucap Mila yang membuat Marni mengulum senyum.
"Namanya nasib seseorang itu beda-beda Nduk! Sekarang kamu gak perlu ngiri sama kehidupan orang, yang harus kamu buktikan itu kamu mampu menjadi yang lebih baik lagi. Makan yang banyak sebentar lagi kita mau kerumah Dinda," jelas Marni sambil menghabiskan sarapannya.
Sedangkan Mila hanya mengangguk mendapatkan nasehat dari Marni, Mila menghabiskan sarapan dengan semangat. Entah kenapa Mila sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Dinda teman semasa kecilnya, dulu Dinda sempat menentang pernikahan Mila tapi sayang Mila tidak mendengarkan perkataan sahabatnya itu.
"Loh ini bukannya Mila?" tanya Jinten tetangga sebelah yang berpapasan dengan Mila juga Marni.
"Iya Mpok saya Mila, Mpok habis ngapain?" jawab Mila dengan basa basi.
"Yang sabar ya Mil harus iklas nerima semua cobaan, ini habis beli sayuran kapan-kapan mampir dirumah Empok ya. Main kerumah Empok udah lama kan kamu gak pernah main kerumah Mpok," jelas Jinten sambil menatap kaki Mila.
"Pasti Mpok, kapan-kapan deh saya kerumah Empok ini mau kerumah Dinda dulu Mpok." Mila tersenyum dengan ramah kearah Jinten.
"Yaudah kalau gitu Mpok juga mau masak dulu, aku permisi dulu ya Mar," jawab Jinten berpamitan dengan Marni yang dari tadi hanya diam saja dan membalas dengan senyuman.
"Kenapa diem aja dari tadi Mak?" tanya Mila sambil mendorong kursi rodanya kerumah Dinda.
__ADS_1
"Gak papa Nduk, Emak udah lama gak pernah ngobrol bareng warga. Waktu Emak sudah tak habiskan buat kesawah jadi agak cangung aja kalau ada warga yang mengajak ngobrol gitu," jelas Mirna ikut jalan disebelah Mila dengan menggendong tangannya kebelakang.
"Pantes sih Mak, tapi Mpok Jinten itu kalau dilihat-lihat bukan tipe yang suka rempong deh Mak. Biasanya Emak-emak disini kan terkenal suka julid ini kok enggak ya Mak?" tanya Mila sambil celingukan mencari Emak-Emak yang biasanya sudah nongkrong.
"Ini kan bukan hari libur mana mereka mau keluar Nduk! Kebiasaan kalau mereka itu pada nongkrong diwaktu libur saja seperti tanggal merah atau hari minggu, kalau hari-hari biasa mah pada takut diem dirumah semua," jelas Mirna sambil menatap kearah Mila yang pasti kebingungan.
"Emang kenapa bisa gitu Mak?" Benar saja Mila kebingungan.
"Lah biasa Nduk pada ngutang sama Bank Plecit demi menuruti gengsi! Kau tau sendiri kan kalau Emak-Emak disini emasnya pada gede-gede? Itu semua hasil minjem sama Bank Plecit Nduk," jelas Mirna mempraktekan emas yang bertengger ditangan dan dikalung Emak-Emak.
"Bank Plecit? Apaan sih Mak? Kok aku baru denger ada bank begituan?" tanya Mila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bank itu loh yang setiap hari senin-sabtu selalu wira-wiri nawarin uang, angsurannya misal 1 minggu setiap hari selasa gitu loh Nduk," jelas Marni sambil menunjuk jalan.
"Oooo ya maksud aku kalau itu Mak, pantesan ya orang sini pada kaya-kaya Mak. Gaya hidup mereka terlalu ngeri apalagi suka saing-saingan gitu ya Mak?" tanya Mila bergidik ngeri.
Tok! Tok! Tok!
Mila akhirnya mengetuk pintu agar yang punya rumah mendengar bahwa ada tamu, ketukan pertama tak kunjung mendapatkan respon. Akhirnya Mila mengetuk pintu lagi kini beserta dengan suara.
Tok! Tok! Tok!
Permisi!
__ADS_1
Ceklek!
Pintu terbuka saat tangan Mila masih ada didepan pintu, paras cantik tidak lepas membuat Mila terkagum. Padahal dulu Dinda merupakan anak yang dekil dan hitam tapi sekarang berbanding terbalik bahkan terakhir saat Mila dan Dinda sama-sama duduk dibangku SMK, Dinda masih terlihat hitam dan biasa-biasa saja.
Mila!
Dinda!
Teriak Mila dan Dinda secara bersamaan, air mata mengalir dari sudut mata Dinda. Ya sudah lama sekali Dinda tidak bertemu dengan Mila, memang setiap lebaran Mila berkunjung kerumah Marni ibunya tapi tidak pernah menemui Dinda.
"Kapan kamu kesini? Lama banget gak ketemu ya, kamu tambah gendutan sekarang. Yaudah yuk masuk." Dinda mempersilahkan Mila dan Marni untuk duduk disofa.
"Baru 2 haru aku disini, kamu juga cakepan sekarang sampai pangling ini yang keluar Dinda apa bidadari sih. Ngomong-ngomong kamu belum berangkat dinas kepuskesmas?" tanya Mila penasaran kenapa Dinda masih ada dirumah.
"Hari ini dapat jatah posyandu didesa jadi aku libur kepuskesmasnya, wah kamu bisa aja bikin aku jadi malu. Kaki kamu kenapa?" Dinda memandang kaki Mila yang masih tertutup dengan perban.
"Oh pantesan, enak ya jadi bidan? Jangan meleleh yang pasti, kecelakaan jadi kakiku diamputasi. Mak kalau Mak mau pergi kesawah gak papa nanti aku bisa pulang senidri kok, kalau Mak nunggu bisa gak jadi kesawah deh. Soalnya aku bakal ngobrol lama." Mila memandang Marni yang sudah ada disampingnya.
"Yaudah kalau gitu Mak pergi dulu ya, titip Mila ya Neng. Kalau Mila bandel cubit aja ginjalnya Mak iklas kok, saya permisi dulu ya Neng." Marni beranjak dari duduknya sambil berdiri meninggalkan rumah.
"Hati-hati Mak jangan sampai kesandung!" teriak Mila sambil cengegsan.
"Dasar anak gak punya akhlak kau! Ngomong-ngomong gimana sama suamimu itu?" tanya Dinda disela tawa mereka.
__ADS_1
Mila menceritakan kejadian semuanya pada Dinda, meskipun awalnya Mila tidak ingin bercerita. Tapi Dinda memaksa untuk menceritakan semuanya, ada rasa sedih dihati Mila saat teringat kembali bagaimana kejadian itu menimpa dirinya yang membuat Manda mantan mertuanya jadi membencinya. Ada rasa rindu pula saat menceritakan tentang bagaimana semangat itu kembali ada karena Hanan, bahkan Mila jadi menangis lagi.
Huaa..Mila!