Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.49


__ADS_3

Paginya Mila menyiapkan sarapan untuk semua orang, sebelum Malik berangkat kerja Mila menyuruh Malik untuk sarapan dulu. Ya bagaimanapun Malik harus masuk kerja, apalagi baru kemarin Malik kerja.


"Mi? Memang gak papa kalau Hasna gak kerja lagi? Memangnya nanti Bu Guru gak akan marah sama Hasna? Hasna kan udah 2 hari gak masuk Mi," tanya Hasna saat rambutnya di kucir oleh Mila.


"Gak papa sayang, itu juga Papi kok yang nyuruh. Oh ya Mila, Mas mau berangkat dulu ya. Takut nanti justru kesiangan, gak papa kan kalau Mas tinggal? Nanti Mas bakal pulang kesini kok tenang saja," sela Malik membuat Mila tersenyum.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba pintu diketok sedikit kencang membuat Mila dan Malik saling menatap, Malik segera membukakan pintu.


Mama!


Teriak Malik membuat Mila yang sedang mengikat rambut Hasna ikut menghampiri ke arah pintu, Mila terkejut mendapati Manda sang mertua yang sudah ada di depan ambang pintu.


"Apa yang membawa Mama kesini? Apakah ada sesuatu hal hingga membuat Mama kemari?" tanya Malik tanpa menyuruh Manda masuk terlebih dahulu.


"Kamu akan tau setelah Mama menyerahkan semua ini, maaf jika selama mendidik kamu Mama banyak kurangnya. Mama sudah iklasin kamu bersama perempuan ini, hanya ini yang ingin Mama sampaikan. Kalau gitu Mama permisi," ucap Manda mengenakan kaca matanya kembali setelah menyerahkan beberapa berkas pada Malik, setelah itu berbalik badan menuju mobilnya.

__ADS_1


"Apa itu Mas? Kita buka saja di dalam, gak enak kalau buka disini apalagi banyak warga yang lewat. Yuk Mas," ajak Mila membuat Malik mengekor.


Mila dan Malik duduk disofa, Marni dan Mardi yang baru saja keluar dari meja makan menghampiri mereka. Sedangkan Hanan masih di kamar mandi, Hanan sedang membuang panggilan alamnya.


"Ada siapa tadi? Kok gak kalian ajak masuk?" tanya Marni ikut duduk disebelah Mila.


Malik dan Mila tidak menjawab, Malik kembali fokus dengan berkas yang diberikan Manda. Malik membuka berkas tersebut, Malik menyugar rambutnya dengan frustasi.


"Kenapa Mas? Apa isi berkas tersebut?" tanya Mila menatap kearah Malik dengan seksama.


Malik tidak menjawab melainkan memberi berkas tersebut pada Mila, Mila pun ikut terkejut kala membaca isi dokumen tersebut. Mila mengusap punggung Malik dengan lembut, seolah memberikan kekuatan untuknya.


"Ada apa dengan Malik, Nduk? Kenapa mukanya lesu gitu tampak sedih?" giliran Mardi yang bertanya pada Mila.


"Jadi begini Pak, tadi ada Mama kesini. Lantas Mama memberikan berkas ini pada Mas Malik, awalnya Mila pikir berkas tersebut merupakan tagihan selama hidup Mama. Ya semenjak Mila tinggal dengan Mama, Mama hanya mengantungkan hidup denganku maupun Malik. Ternyata dugaan Mila salah, berkas ini berisi tentang surat yang menerangkan jika Mas Malik bukan anak kandung dari Mama. Bahkan disitu menjelaskan jika Mas Malik hanya lah seorang bayi yang dititipkan di panti asuhan, tak jelas siapa pengirimnya. Bahkan ayah ibunya tak diketahui identitas aslinya," jelas Mila membuat Marni menatap kearah Mardi.


"Pantas saja jika Mamamu berbuat seperti itu ternyata Malik bukan anak kandungnya, ya bagus deh kalau memang Malik bukan anak kandungnya. Kamu jadi tidak ada halangan lagi buat bersama Malik, Emak sempat curiga saja sih. Kok ada Ibu yang dengan tega seperti itu dengan anaknya, kalau Malik bukan anak dari mertuamu itu. Lantas apakah mertuamu tidak memiliki anak?" ucap Marni membuat Mila berfikir sejenak.

__ADS_1


"Kurang tau sih Mak, nanti coba aku tanyakan pada Wawan. Wawan itu merupakan saudara Mas Malik, ya bukannya Mila ini bahagia mendapat kabar bahwa Mama bukan Ibu kandung Mas Malik. Yang membuat Mila leluasa memiliki Mas Malik tanpa hambatan lagi, hanya saja Mas Malik pasti terpukuk dengan kejadian ini Mak. Apalagi tanpa menceritakan apapun, Mama hanya menyerahkan berkas ini setelah itu pergi. Selama 25 tahun seolah Mas Malik tidak ada artinya untuk Mama, tapi cemburu Mama saat melihatku dengan Mas Malik begitu kentara sekali Mak. Ah Mila jadi bingung begini," ucap Mila memijat pelipisnya.


"Ya sudah tidak perlu kamu pikirkan Nak, lebih baik sekarang kamu kuatkan Malik. Malik butuh dukunganmu, Bapak yakin saat ini Malik sedang syok besar mengetahui kenyataan itu. Jadi kamu harus menjadi kekuatan untuk Malik, jangan sampai gara-gara ini Malik frustasi. Bapak percaya bahwa kamu bisa membuat Malik kuat," jelas Mardi yang dijawab anggukan oleh Mila tanda sejutu.


"Baiklah Pak, kalau Bapak mau pergi kesawah pergi saja. Mungkin nanti sore aku baru pulang, lagian Mas Malik biar istirahat dulu. Hasna mau ikut Mami kewarung sebelah atau dirumah saja?" tawar Mila yang diangguki Hasna.


Mila menuju warung disebelah rumah Marni, Mila membeli beberapa cemilan untuknya juga anak-anak. Sampai dirumah Hanan sudah terduduk di sofa, Hanan langsung menyambut kedatangan Mila dan Hasna.


"Kalian dari mana sih? Kok ninggalin Hanan sendirian? Lagian rumah sepi amat bikin Hanan jadi tambah kesepian kan," gerutu Hanan membuat Mila tersenyum gemas.


"Baru juga sebentar ninggalinnya udah marah-marah saja, nih Mami beliin kamu cemilan biar gak ngambekan. Lagian kamu lama amat sih berada di kamar mandi? Jangan-jangan kamu tidur dulu ya di kamar mandi? Mami tungguin gak nongol-nongol yaudah Mami tinggalin aja," ucap Mila menyerahkan cemilan pada Hanan.


"Mami tau aja kesukaan Hanan apa kalau lagi ngambek, padahal Hanan kan masih ngambek. Kalau gini kan Hanan jadi gak bisa ngambek," celoteh Hanan membuat Hasna terkekeh.


"Ternyata kalau Kakak ngambek gampang banget ya bikin normal kembali, cuman dikasih cemilan saja sudah balik kayak semula. Unting aku gak kayak Kakak, sepertinya Kakak ini sifatnya mirip sama Mami deh, Mami mah kalau gak ada cemilan rasanya masih kurang. Bahkan kalau di kamar suka banget tuh nyimpen cemilan," unkap Hasna membuat Hanan dan Mila saling pandang.


"Hahaha, ya memang sudah seperti itu sayang. Kamu juga sifatnya mirip banget sama Papi kan, oh ya sayang. Hanan sudah tau belum perihal Papi?" tanya Mila penuh selidik.

__ADS_1


"Soal Papi yang bukan anak kandung Nenek? Hanan sudah tau Mi, jadi Hanan gak kaget. Hanan hanya gak berani bilang saja sih, biar Nenek saja yang bilang. Akhirnya Nenek bilang juga kan, Hanan gak mau bilang takut membuat Papi semakin kecewa Mi." Hanan menghentikkan aktifitas nyemilnya kala Malik keluar dari kamar.


Hanan!


__ADS_2