Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.48


__ADS_3

Pekik Mila membuat Hernanto menutup telinganya, duh Mila untung hanya gendang telinga coba kalau jantung Hernanto sampai copot. Bisa gawat dong!.


"Aduh Mbak kenapa jadi teriak gitu sih, telinga saya ini rasanya ingin meledak. Sudah ingat sekarang Mbak?" tanya Hernanto menyunggingkan senyuman.


"Haduh Mas, kenapa panggil saya Mbak sih. Panggil saja saya Mila, lagian saya dan Mas itu lebih tuaan Mas. Maaf ya Mas, habis lama banget gak ketemu. Terakhir kali juga waktu saya masih sekolah, kok Mas sendirian saja? Gak sama Tama," jawab Mila mengrenyit.


"Ya gak bisa dong Mbak, bagaimanapun saya ingin menghormati Embak. Terlepas Mbak mau lebih muda atau lebih tua dari saya, wah Tama kan sibuk Mbak jadi ya sama saya. Jadi begini Mbak kehadiran saya kemari karena ingin mengantar sesuatu, ini undangan dari Tama. Semoga Mbak bisa datang ya." Hernanto mengeluarkan sebuah undangan untuk Mila.


"Haduh Mas, saya jadinya yang gak enak. Ya memang sih Mas, Tama itu super sibuk sepertinya. Wah undangan? Apakah Tama menikah Mas? Wah dengan Dinda, saya usahkan biar dateng deh Mas. Tapi kok aku gak daper dari Dinda ya?" gumam Mila.


Selesai memberikan undangan Hernanto pamit untuk pulang, sebelum pulang Hernanto mengatakan. Jika cinta tak terbalas mungkin dengan merelakan orang tersebut lebih bahagia, Hernanto juga mengatakan jika sebenarnya Tama hanya pura-pura sibuk untuk tidak bertemu dengan Mila. Hernanto mengatakan jika selama ini masih mencintai Mila.


Glek! Glek! Glek!


Mila minum dengan begitu rakusnya, perkataan Hernanto membuat ulu hatinya memanas. Mila memang tau jika Tama sebenarnya masih mencintainya, cinta Tama sempat membuat Mila bimbang kala menerima kembali Malik. Saat itu Mila sudah berjanji menerima Tama, namun Mila kembalu mengecewakan Tama demi memenuhi keinginan sang putra.


"Maafkan aku Tam, aku memang memberikan kesempatan itu. Tapi perasaanku masih untuk Mas Malik, aku juga tidak ingin kehilangan Hanan demi memberikan kamu kesempatan. Memang aku ini wanita yang tidak bisa dipercaya, tapi kenapa hingga pernikahan itu tiba. Kamu masih tetap mencintaiku Tam? Kenapa kamu tak hilangkan perasaan itu yang nantinya akan menyakiti perasaan Dinda, dan aku bersyukur karena akhirnya kamu menikah dengan Dinda. Aku yakin cinta kamu padaku akan luntur tergantikan dengan, cintamu terhadap Dinda. Terimakasih pernah menjadi pewarna dalam hidupku," gumam Mila menatap layar ponselnya yang ada foto Tama disana sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


Bukan air mata kecewa! Melainkan air mata bahagia melihat orang yang begitu dalam mencintai Mila akhirnya menemukan tambatan hatinya, bersanding dengan sahabatnya sejak kecil. Mila menghapus air mata itu kala Simbok datang kerumah, sore harinya Malik tiba di kediaman Mila. Sampai di depan pintu, Mila menyambut Malik dengan mencium tangan Malik.


"Gimana kerjanya Mas? Nyaman kan?" tanya Mila mengajak Malik menuju dapur.


"Nyaman dong sayang, kemana anak-anak? Kok tumben rumah sepi," tanya Tama celingukan menatap sekeliling rumah.


"Anak-anak lagi ganti baju Mas, kamu buruan mandi habis itu ganti baju juga ya. Aku mau ajakin kamu kerumah Emak, nanti biar aku yang nyetir. Aku tau kamu pasti capek, nanti aku jelasin semuanya. Tapi sebelum bersihin badan dan ganti baju, kamu makan dulu udah aku masakin kesukaan kamu. Aku tinggal dulu buat ganti baju ya Mas," jelas Mila begitu antusias membuat Malik terbengong.


Malik menatap kepergian Mila dengan menyuapkan nasi kedalam mulutnya, selesai makan Malik memutuskan untuk mandi dan mengganti pakian. Malik bergegas menghampiri Mila, Hanan serta Hasna yang sudah menunggu dimobil. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan Emak membuat Malik terdiam menunggu perkataan dari Mila, kali ini Mila lah yang menyetir.


"Loh Nduk, tumben kamu kesini udah sore begini. Gak ngabarin segala, udah gitu teriak-teriak gak jelas. Yuk masuk sini biar Hasna, Emak yang gendong. Kalian masuk aja buatkan minum untuk suami dan anakmu," perintah Marni mendahului masuk kedalam rumah.


"Loh Malik, Hanan, Mila? Kalian tumben sore-sore begini main kesini, biasanya kalau main juga nunggu Hasna libur." Mardi menghampiri Malik dari kamar menuju ruang tamu.


"Malik juga gak tau Pak, tiba-tiba Mila ngajakin kesini. Udah gitu Hasna dan Hanan juga udah ganti baju, yaudah Malik nurut saja. Daripada gak diturutin nanti ngambek kan berabe Pak," canda Malik menbuat Mardi terkekeh.


Mila masuk keruang tamu membawakan minuman serta cemilan.

__ADS_1


"Jadi gini loh Pak, tadi pagi kan ada orang yang ngirim undangan buat Mila. Ternyata undangan itu dari Tama, nah Mila kesini mau nanya apakah Dinda juga ngundang Mila?" tanya Mila dengan serius.


"Astaga! Nduk! Kamu ini kan bisa nanya lewat handphone, ya Dinda juga ngundang kamu. Nih undangannya," ucap Marni menyerahkan undangan pada Mila.


"Syukurlah, yang membuat Mila kesini tuh aneh aja Mak. Masak undangannya terpisah gak di kasih jadi satu gitu, kan unik Mak. Makanya Mila penasaran atau memang Mila ini gak di undang," bela Mila pada dirinya sendiri.


"Haduh! Tau begini aku gak ikut sayang, lagian kamu nih aneh-aneh saja. Tapi kita juga udah lama gak kerumah Emak sama Bapak, terakhir saat Emak sakit juga. Oh ya Mak sudah sembuh kan?" tanya Malik membuat Marni mengangguk.


"Gimana dengan pekerjaanmu di pabrik Nak? Kamu bisa kan? Nyaman kan? Bapak sudah diberi kabar kalau kamu sudah bekerja di pabrik, semoga adanya kamu pabrik semakim jaya ya. Bapak doakan kalian semua sukses," ucap Mardi yang di amini semua orang.


Mereka memutuskan untuk makan, setelah berbincang dan bercanda yang cukup melelahkan. Awalnya Mila ingin langsung pulang, namun dilarang oleh Marni, Marni menginginkan Mila untuk menginap satu hari itu. Mila menatap kearah Malik, dan Malik mengangguk.


"Mas tapi besok kan Hasna harus sekolah? Apa gak papa kalau harus ijin lagi? Ini sudah 2 hari loh Hasna ijin Mas? Kalau Hanan sih masih masuk 2 hari lagi, jadi gak papa nih kita nginep disini?" tanya Mila mengeluarkan unek-uneknya.


"Ya udah gak papa, kamu hubungin saja pihah sekolah. Pasti pihak sekolah juga akan mengerti kok, apalagi Hasna itu habis dari rumah sakit. Jadi mereka juga akan paham dengan kondisi Hasna, sudah gak perlu dipikirkan. Lebih baik sekarang tidur, Mas gak mau gara-gara ini kamu jadi gak bisa tidur. Sudah yuk tidur," saran Malik yang diangguki Mila.


Karena badan sudah capek beberapa menit kemudian Malik mengorok, mendengar suara ngorok Malik membuat Mila ikut mengantuk. Akhirnya Mila memutuskan tidur juga.

__ADS_1


__ADS_2