Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.11


__ADS_3

Teriak seorang perempuan berparas cantik nan menawan, perempuan tadi fokus dengan ponselnya sampai tidak melihat bahwa ada orang yang sedang berjalan.


"Mbak itu sudah salah masih saja nyolot, lagian main ponsel kok gak lihat kanan kiri maupun depan belakang," Malik geram dengan perempuan yang kini ada dihadapannya.


"Yeeeee, suka-suka saya dong mau main ponsel pakai gaya kodok juga gak masalah. Kenapa situ yang jadi sewot, harusnya kan saya yang marah-marah. Lihat nih kaki saya jadi lecet gara-gara kelakuan kalian, lagian udah tau cacat kenapa mesti keluar rumah. Bikin orang lain susah aja," maki perempuan tersebut tanpa rasa bersalah.


"Hey wanita aneh! Mulutmu belum pernah ditampar ya? Mau aku tampol biar kamu ngrasain bagaimana sakitnga ditampol? Kayak gak pernah sekolah aja bilang seperti itu." Malik mulai terpancing emosi mendekati perempuan tersebut.


"Sante aja dong Mas gak usah teriak-teriak lagian saya bicara apa adanya kok sesuai fakta, kalau gak mau dikritik yaudah diem aja dirumah," jelas wanita tersebut berlalu pergi.


"Sudah Mas gak usah diladenin lebih baik sekarang kita pulang, kasihan Hanan kalau kamu selalu marah didepan Hanan seperti ini. Kamu secara gak langsung mencontohkan hal yang gak baik pada Hanan Mas." Mila menghampiri Malik yang masih tersulut emosi.


"Bagaimana Mas gak emosi Dek namanya juga kerumah sakit itu kan hak setiap orang, mau orang itu sehat ataupun cacat gak ada yang bisa ngelarang." Malik jongkok agar bisa melihat wajah Mila.


"Berarti perempuan itu yang gak waras Mas, yaudah yuk Mas kita pulang saja," jelas Mila yang diangguki oleh Malik.


"Loh Hanan kemana sayang?" Malik celingukan mencari keberadaan Hanan.


"Tadi ada dibelakang aku kok Mas mungkin udah ada didalam mobil," jelas Mila mencoba berfikiran positif.


"Yaudah kita kemobil dulu,"


Malik mempercepat langkahnya supaya cepat sampai dimobil, entah mengapa langkah kakinya seakan lama sekali tidak sampai dimobil tersebut. Malik membuka mobil namun tak mendapati Hanan didalamnya, Malik menyuruh Mila untuk naik kemobil terlebih dahulu. Mila menjadi panik sambil terus berdoa supaya Hanan tidak kenapa-napa.


"Sayang Mas harus pergi lebih baik kamu disini dulu nanti Mas jemput lagi, Hanan dalam bahaya sekarang ini. Mas gak mau kalau kamu ikut dalam bahaya ini jadi Mas minta kamu berlapang dada untuk mengerti situasi saat ini," jelas Malik dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Hanan Mas?" tanya Mila mulai curiga.


"Hanan diculik, Mas baru saja mendapatkan sebuah pesan. Mas hubungin Bang Wawan dulu untuk menjemput kamu, Mas rasa lebih baik kamu ada yang menjaga. Tapi Mas minta kamu tetap disini sampai Mas kembali lagi," jelas Malik mengeluarkan sebuah ponselnya.


"Mas tapi aku ingin ikut, aku mau melihat Hanan Mas." Mila mulai mengeluarkan air mata.


"Sayang pliss, Mas gak mau kamu kenapa-napa biar Mas saja. Maaf ya Mas harus menurunkan kamu, maaf juga Mas tidak menunggu Bang Wawan dulu. Ini benar-benar genting Mas harap kamu mau mengerti,"


Malik menurunkan Mila disebuah parkiran sebenarnya Mila ingin ikut tapi Malik tidak mengijinkannya, Mila begitu terluka antara takut dan sedih. Mila takut jika Hanan sampai kenapa-napa sedihnya karena Mila teledor tidak mengawasi Hanan dengan baik-baik.


HANAN MAAFKAN MAMI!


Teriak Mila penuh frustasi, sampai suara motor memebuat Mila fokus kesumber suara.


"Apa yang terjadi Mila?" Bang Wawan sepupu Malik menghampiri Mila.


"Mila! Tunggu! Kamu mau kemana?" Wawan menghentikan Mila.


"Aku mau mencari Hanan Bang, CCTV! Ya ayo Bang antar aku untuk melihat CCTV." Mila kembali bersemangat saat dirinya sadar masih ada harapan agar Hanan kembali.


Mila dibantu Wawan ingin memasuki rumah saki tadi, baru juga sampai didepan pintu tiba-tiba ada suara yang memanggil Mila.


Mami!


Hanan!

__ADS_1


Teriak Mila sambil memeluk Hanan yang berlari menuju arahnya, entah apa yang terjadi tapi ini beneran Haman yang sedang dipelukkan Mila.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Mila sambil memandang lekat putranya itu.


"Tadi Hanan mencari Tante yang udah maki-maki Mami, awalnya Hanan mau memberikan pelajaran tapi Tante tadi udah hak kelihatan dimana," jelas Hanan yag membuat Mila mengelengkan kepalanya.


"Sayang lain kali tidak usah gegabah, Mama tidak apa-apa yang dikatakan Tante tadi ada benernya. Mami sudah panik kalau sampai Hanan beneran diculik," jelas Hanan sambil mencium kening Hanan.


"Diculik? Hanan gak diculik kok Mi, memangnya ada kabar Hanan diculik ya?" tanya Hanan yang membuat Mila terdiam.


Benar juga kalau Hanan gak diculik lalu apa maksud dari Malik? Kata Malik mendapat pesab bahwa Hanan diculik, Mila yang mulai panik mencoba untuk menghubungi Malik. Tapi saat Mila membuka ponselnya Mila dikejutkan dengan pesan yang masuk dalam ponselnya.


"Bang bisa anterin aku pulang? Kita sewa aja mobil atau kalau gak Abang bisa tidak pesankan taksi supaya kita bisa pulang?" Mila meminta pendapat dari Bang Wawan.


"Sebenarnya sih bisa saja Abang bawa kalian pulang tapi sayang mobil Abang mogok jadi bawa motor. Kalau mau sewa mobil memang mobilnya siapa yang mau kita sewa? Orang yang berbaik hati sekarang ini jarang loh Dek, Abang coba cariakn taksi dulu ya," jelas Bang Wawan yang membuat Mila mengangguk.


"Loh memangnya Papi kemana Mi? Kok bukan Papi yang jemput kita?" tanya Hanan dengan penasaran.


"Papi gak bisa jemput sayang makanya kita cari taksi onlien saja ya, gak papa kan kalau Hanan naik taksi?" tanya Mila membohongi Hanan kembali.


Hanan mengangguk sambil tersenyum, batang hidung Wawan pun mulai terlihat. Tanpa basa basi lagi Wawan mendorong kursi roda yang ada Mila serta Hanan disana, Wawan ikut masuk kedalam taksi tersebut yang membuat Mila mengrenyit.


"Kok Abang ikut masuk? Abang gak mau bawa motor saja?" tanya Mila yang penuh kebingungan.


"Jalan Pak! Bagaimanapun saat ini kamu tangungan Abang jadi biar Abang antarin," jelas Wawan yang membuat Mila mengangguk.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir biaya ini biar Abang yang nanggung," jelas Wawan yang membuat Mila semakin tidak enak dan Mila hanya bisa bilang terimakasih.


Selama perjalanan tidak ada obrolan seperti biasanya, Hanan menaruh curiga pada Mila pasalnya dari tadi Mila hanya diam saja. Lantas apa sebenarnya isi pesan tersebut hingga membuat Mila jadi murung seperti ini?.


__ADS_2