
Teriak Malik mendekat kearah Hanan, setelah berteriak memanggil nama Hanan. Malik langsung mendekati Hanan.
"Ceritakan sama Papi, gimana kamu bisa lebih tau terlebih dahulu dibandingkan Papi?" perintah Malik membuat Hanan mengangguk.
"Jadi dulu Hanan pernah melihat Nenek sedang melamun sambil memeluk foto Papi, saat itu Nenek bilang jika Nenek belum bisa jujur dengan Papi. Nenek berusaha keras menutupi semua itu, karena tidak ingin Papi meninggalkan Nenek. Nenek bahkan bercerita saat pertama kali menemukan Papi, Papi yang menangis akibat kedinginan. Ditemukan Nenek disebuah semak-semak, saat itu Nenek sedang mengandung. Kandungan Nenek sudah 9 bulan, sayang kejadian tak terduga pun terjadi. Nenek kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya, akibat mengurus Suaminya yang sakit-sakitan." Hanan menjeda ucapannya sebentar untuk menegguk air minum.
"Semenjak kejadian itulah Nenek membenci orang cacat, Nenek terus mencaci maki suaminya hingga akhirnya sang suami meninggal dunia. Dan itulah sebabnya Nenek tidak menyukai Mami," imbuh Hanan membuat Mila terdiam.
"Terimakasih sudah mengatakan yang sebenarnya terhadap Papi, sekarang Papi tau harus berbuat apa. Papi akan menjaga Nenek dari kejauhan, karena percumah memaksa Nenek untuk menerima Mamimu. Sampai kapanpun Nenek tidak akan bisa menerima Mamimu, akibat cacat yang Mamimu alamai. Papi tetap akan mempertahankan hubungan dengan Mamimu," jelas Malik membuat Mila berkaca-kaca.
"Kenapa Mama harus melibatkan aku Mas? Tidak semua orang cacat itu pembawa sial, Mama terlalu menutup hatinya. Mama tidak mau menyadari bahwa kejadian anaknya meninggal, itu karena musibah. Yasudah Mas biarkan saja rasa benci pada Mama selalu tumbuh, karena aku tidak akan mencoba menumbangkannya. Biarlah suatu saat Mama menyadari kesalahannya itu," jelas Mila mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
Ya memang sakit saat musibah yang dialami kita dijadikan musibah oleh orang terdekat, bahkan itu merupakan Ibu dari suami sendiri. Mungkin Mila memang harus merelakan kebencian yang tumbuh dalam diri Manda tak pernah hilang, sore harinya Mila memutuskan untuk pulang kerumah. Sampai dirumah Mila merebahkan tubuhnya cukup lelah itu, Malik menatap lekat manik mata Mila.
Mila ikut menikmati tatapan dari Malik, hembusan nafas Malik menarik Mila untuk menatap lebih dekat dan dalam. Malik menangkup wajah Mila, diciumnya bibir ranum milik Mila yang membuat candu Malik. Malik mulai ******* bibir Mila, membuat Mila terengah hingga kejadian malam itu membuat Malik dan Mila menyatukan kembali cintanya.
"Sayang Hasna? Bangun yuk? Hari ini Hasna kan harus pergi kesekolah, katanya Hasna gak mau dimarahin sama Bu Guru. Yuk sayang buruan nanti keburu siang loh." Mila membangungkan Hasna dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Haduh Mi, bentar lagi ya 5 menit lagi saja deh. Hasna masih ngantuk Mi," mohon Hasna masih menutup matanya.
"Gak ada penawaran lagi sayang, Hasna harus bangun sekarang. Kalau gak bangun Mami potong uang jajannya," ancam Mila membuat Hasna seketika terbangun dan masuk kedalam kamar mandi.
Mila tersenyum melihat kekonyolan Hasna, anaknya benar-benar unik. Mila menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk Malik serta Hasna dan Hanan. Mereka kini menikmati hidangan yang sudah tersaji, Malik mengantarkan Hasna terlebih dahulu. Nanti giliran Mila yang menjemput, mereka bergegas pergi tinggal lah Hanan yang memutuskan untuk bermain game.
Tring!
Sebuah pesan masuk dalam ponsel Mila.
"Maaf ya La aku gak sempet berkujung kerumahmu, soalnya aku sibuk mempersiapkan semuanya. Aku harap kamu gak marah maupun kecewa denganku ya La, nanti kalau aku sudah selesai nikahnya bakal main kerumahmu lagi deh. Yang penting kamu jangan marah denganku ya La," isi pesan tersebut dari Dinda.
"Aaa akhirnya aku nyusul kamu juga ya La, aku berharap nasib pernikahanku gak seburuk pernikahanmu. Ya walaupun aku tau cobaan dalam berumah tangga itu ada, tapi aku bakal nawar buat kasihnya yang ringan-ringan saja. Aku gak akan lupa sama kamu La, gak bisa lupa gimana kita pernah berjuang bareng bersama-sama akhirnya aku ninggalin kamu karena tugas. Ah sedih deh rasanya La, aku juga berharap supaya rumah tanggamu ayem tentrem ya La. Kalau kamu mintanya gak aneh-aneh sih aku turutin, kalau hanya seblak mah kecil. Asal jangan sama gerobaknya ya La," balas Dinda membuat Mila tertawa.
"Ya namanya juga tugas Din, lagian itu kan cita-citamu sejak kecil. Ah makasih doanya ya Din, kalau aku mintanya balon yang bisa bawa terbang rumahku gimana? Kamu masih sanggup Din?" balas Mila lagi.
Namun setelah balasan Mila tak ada balasan lagi dari Dinda, ya mungkin Dinda lagi sibuk. Kan tinggal besuk pernikahannya, Mila menatap layar ponselnya. Dua sahabat yang dulu kalau bertemu kayak kera sama kucing sekarang akan melangsunhkan pernikahan, Mila ikut berbahagia tentunya.
__ADS_1
Esok hari pun tiba, Mila sudah mempersiapkan diri dari pagi untuk berdandan. Mila tidak ingin melewatkan momen sepesial sahabatnya itu, mau tidak Mau Hasna dan Hanan tidak pergi sekolah. Padahal ini awal Hanan memasuki sekolah, ya gimana lagi Mila tidak ingin menghadiri pernikahan sahabatnya itu sendirian.
"Selamat ya Din, akhirnya sah juga jadi seorang istri. Semoga lekas dapet momongan yang lucu-lucu," ucap Mila mencium pipi Dinda kanan kiri.
"Ah makasih ya sudah di sempatin buat datang kesini, aku tau sih sebenarnya kamu sibuk. Tapi makasih banget loh kamu sudah mau datang ke pernikahnku," balas Dinda ikut mencium pipi Mila.
"Ah kamu mah kayak sama siapa saja, intinya selamat buat kamu juga Tama. Kalau gitu aku mau turun dulu ya, kayaknya Hasna dari tadi pengen cemilan itu deh. Selamat ya Din," ucap Mila meninggalkan resepsi pernikahan.
"Hasna pelan-pelan dong sayang makannya, itu kan masih banyak. Sayang kamu gak mau makan apa gitu? Kamu juga Mila? Dari tadi kalian asik dengerin biduan nyanyi terus," sela Malik membuat Mila menoleh.
"Habis enak banget Mas suaranya, andai suaraku seenak itu pasti aku udah jadi artis ya Mas. Sayang bakatku bukan jadi penyanyi," gerutu Mila membuat Malik memutar bola matanya malas.
Selesai mendatangi pernikahan Dinda, satu minggu kemudian mereka memutuskan berlibur ke pantai. Suara ombak yang bergemuruh membuat hati Mila tenang, Hasna dan Hanan ikut Malik membuat rumah-rumahan dari pasir. Sedangkan Mila menyendiri menghilangkan penat yang selama ini bersarang dalam hatinya, Mila teringat kembali tentang kejadian saat kecelakaan hingga diperlakukan tak enak dengan mertuanya.
Mungkin kata maaf tak menjadikan semua baik-baik saja, tapi Mila berusaha menjadikan kata maaf untuk membuat hidupnya kembali berjalan. Tentang cinta Tama terhadapnya, mungkin memang berat melupakan bahkan melepaskan perasaan yang sudah terlanjur bersarang dalam hatinya. Biarlah jika perasaan itu tetap ada sebagai pengobat rindu biar tetap ada, namun jika perasaan itu menghancurkan biarlah terbuang. Dengan seiring berjalannya waktu cinta itu akan menghilang, tentang cinta pada Malik cinta memang tak menjadikan semua berakhir dengan indah.
Tapi cinta bisa membuat siapa saja kembali setelah ego itu tiada, kekuatan cinta menyatukan kembali dua ingsan yang pernah terpisahkan oleh keegoisan masing-masing. Jika berpisah bisa menyelesaikan semuanya maka berpisalah tidak ada yang salah dengan berpisah, namun jika berpisah membuat hidup semakin kacau maka bertahanlah. Seberat apapun cobaanmu dengan bertahan dan menurunkan ego akan ada kata indah pada usahamu itu.
__ADS_1
Dinda!