Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.31


__ADS_3

Hasna mendekati Malik dan mencium pipi kanan Malik, Malik terlonjak kaget mendapat perlakuan yang begitu manis dari Hasna.


"Makasih ya udah bikin Hasna semakin cantik, Papi luar biasa. Hasna pikir Papi gak bisa ngiket rambut," puji Hasna membuat Malik tersenyum.


"Yaudah yuk kita turun, Kakak udah nungguin dari tadi loh. Kasihan Kakak kalau nunggu lama-lama." Mila membopong Hasna namun Malik menghentikannya.


"Biar aku saja yang bopong Hasna, yuk sama Papi. Hasna mau kan?" tawar Malik yang dinagguki oleh Hasna.


Mereka menuruni anak tangga menuju ruang tamu yang sudah ada Hanan, Hanan memandang kearah mereka dengan seksama.


"Kamu gak mandi sayang? Gak ganti baju juga?" tanya Mila menghampiri Hanan.


"Em Hanan kan gak ada baju disini Mi, lagian nanti aja deh mandinya masih males. Udah mau berangkat ya?" tanya Hanan mendekat kearah Mila.


"Yaudah nanti kita beli aja, iya nih nanti keburu sore. Yaudah yuk masuk kemobil," perintah Mila yang diangguki semuanya.


"Kakak kenapa gak mandi? Kan bau kalau gak mandi, ganteng-ganteng tapi jorok ih!" ledek Hasna yang duduk disebelah Hanan.


"Apaan? Kakak wangi begini kok, coba kamu cium sini. Kalau kamu gak percaya," perintah Hanan sambil mendekati Hasna sangat dekat.


"Gak mau Kak!" teriak Hasna menutupi hidungnya.


Mila tersenyum melihat kedekatan antara anknya, hanya Malik yang masih bertanya-tanya siapa sebenarnya Hasna? Apakah benar bahwa Hasna anaknya? Kenapa Mila tidak memberitahunya, atau mungkin itu anak dari Tama? Tapi bukankah Mila bilang bahwa Mila belum bisa menemukan penggantinya? Akh hati Malik benar-benar kacau.

__ADS_1


"Mas berhenti didepan sebentar ya mau beliin sesuatu buat Emak," perintah Mila yang diangguki Malik.


"Wah buah, Mi mau dong Hasna dibeliin anggur. Mami kan udah lama gak beliin Hasna anggur," celoteh Hasna membuat Mila tersenyum.


"Kalau kamu mau minta apa sayang? Kamu juga mau apa Mas? Biar sekalian aku belinya," tanya Mila menatap Hanan bergantian menatap Malik.


"Aduh Mi, Hanan tuh udah gede gak usah lah beli oleh-oleh segala. Lagian kita kan niatnya mau beli buat Nenek, udah lah terserah Mami aja mau beli apa. Hanan mah ngikut aja," jawab Hanan sambil membenarkan jaket yang dikenangkannya.


"Oh sekarang anak Mami udah gede ya, yaudah deh kamu mau disamain aja sama Hasna Mas? Atau mau buah yang lainnya?" tanya Mila sebelum turun dari mobil.


"Ya gitulah anakmu ini udah gede padahal mah baru juga mau SMP, samain aja sama Hasna biar gak kelamaan juga. Mau dibantuin gak?" tawar Malik yang dijawab gelengan oleh Mila.


Mila turun dari mobil membelikan buah segar yang nantinya akan dijadikan oleh-oleh untuk Emaknya, sementara itu Hasna memandang Hanan tanpa berkedip membuat Hanan terusik.


"Kok Kakak mirip dengan Mami ya? Sedangkan aku gak ada mirip-miripnya sama Mami? Atau kita ketuker ya?" oceh Hasna membuat Malik membalikkan badannya.


"Kebalik gimana? Lah kamu aja mirip kok sama Papi, lihat aja mukamu mirip banget kek Papi. Atau emang kamu anaknya Papi ya?" jawab Hanan sambil menunjik muka Hasna.


"Masak sih? Coba aku pinjem ponsel Kakak buat ngelihat mukaku beneran mirip gak sama Mami, ya gak tau anak siapa sebenarnya tapi kata Mami Hasna ini anak Papi. Nanti tanya lagi aja sama Mami," saran Hasna yang diangguki oleh Hanan.


"Kakak gak punya ponsel Dek, emang kamu punya ponsel? Kok tau banget soal ponsel?" tebak Hanan membuat Hasna tersenyum.


"Masak udah gede gak punya ponsel sih Kak? Punya sih tapi dibawa sama Mami, kata Mami anak kecil gak boleh mainan ponsel terus. Kadang Hasna main ponsel cuman bentar doang gak lama kok," jelas Hasna membuat Malik geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Memang bener kata Mami sayang gak boleh kalau mainan ponsel terus, Kakak aja gak Papi kasih ponsel kok. Biar fokus sama sekolahnya," sela Malik membuat Hasna menoleh.


"Maaf ya nunggunya lama tadi ngantri lumayan banyak, Hasna sayang kamu mau makan anggurnya terlebih dahulu atau nanti aja?" tanya Mila memandangi Hasna yang juga memandangnya.


"Nanti aja deh Mi kalau udah sampai rumah Nenek, kalau Hasna makan disini nanti ngotorin mobil. Kata Mami gak boleh ngotorin sembarang tempat," ucap Hasna membuat Mila tersenyum.


"Anak pintar, yaudah yuk Mas jalan lagi. Nanti keburu sore kita kan juga mau pergi beliin baju buat Hanan kamu juga," perintah Mila yang diangguki Malik.


Malik kembali melajukan mobilnya, tidak ada pembicaraan lagi karena Hanan tertidur. Sedangkan Hasna melihat pemandangan dari kaca mobil, Mila tersenyum mendapati 2 anaknya yang kini ada didepan mata. Mila bahkan tidak menyangka kini Hanan sudah berada dalam pelukannya kembali, Mila memandangi Malik yang masih fokus menyetir. Lelaki yang terus membuat Mila jatuh cinta itu kini ada didepan matanya, Malik menoleh sambil mengrenyitkan keningnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Malik membuka suara.


"Tidak Mas, kamu tetap sama masih tampan seperti 3 tahun terakhir aku menemuimu. Tidak ada yang berubah sama sekali," puji Mila sambil tersenyum.


"Em ceritanya kamu lagi ngegombal? Ah kamu mah sekarang berubah jadi sok-sokan gitu deh, biasanya juga aku yang gombalin kamu. Kok sekarang pindah kamu yang gombalin aku jadi aneh," jawab Malik kembali fokus menyetir.


"Iya ya kenapa aku jadi bucin gini, ah efek lama tidak bertemu ini Mas. Jadi gimana dengan pekerjaanmu Mas?" tanya Mila yang mulai bosen dengan suasana mobil yang sepi.


"Gak papa kalau bucinnya sama aku doang, yang penting pas aku tinggalin gak ngebucin sama Tama. Belum tau Mas belum bisa mutusin gitu aja, kamu kan juga tau nyari pekerjaan iti sulit. Tapi kalau harus bolak-balik kayanya Mas juga gak kuat, nanti deh kita cari solusinya. Kasihan juga kalau aku tiba-tiba ngambil posisi Emak, kalau Emak butuh kesibukan akunya yang jadi gak enak. Yang penting kita cari tau dulu gimana dengan Emak," jelas Malik mengacak rambut Mila yang tergerai.


"Aku sih ngikut aja gimana baiknya Mas, kalaupun kamu mau mempertahankan pekerjaanmu aku gak akan melarang. Yaudah deh kita lihat aja nanti gimana Emak, kok tumben ya perjalanan lama banget biasanya gak sampai 30 menit udah sampai kok. Ini kenapa jadi lama banget sih Mas?" gerutu Mila memandang kearah depan.


"Kayanya macet deh entah ada apa Mas juga gak tau, emang biasanya gak macet ya? Ini sih udah hampir mau 1 jam kita disini terus dari tadi. Lihat tuh banyak mobil kan?"

__ADS_1


Akhh!


__ADS_2