Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.39


__ADS_3

Merasa terintimidasi Hanan tidak melanjutkan bicaranya, namun Mila menggenggam tangan Hanan. Seolah Mila tau bahwa sekarang Hanan sedang butuh dukungannya, Hanan menoleh. Mila menatap manik mata Hanan dengan seksama, seolah berkata jelaskan semuanya.


Hanan pun tersenyum menatap kearah Malik, Malik hanya terdiam. Hanan tau kejujuran Hanan pasti banyak melukai Malik, setidaknya setelah ini Hanan bisa bernafas lega. Karena Hanan tidak perlu menyembunyikan kebohongannya lagi, sebagai Ayah Malik berhak tau apa yang sudah dilalui anaknya.


"Semenjak saat itu Hanan mulai sadar kalau seseorang menghampiri Hanan, ya Hanan berada di sebuah mushola dekat rumah. Orang tersebut menghampiri Hanan sambil mengelus punggung Hanan dengan lembut, orang tersebut mengatakan bahwa apapun masalahmu serahkan pada yang pembuat lika-liku kehidupan. Hanan terdiam Mi bingung harus bicara apa, sampai akhirnya Hanan mengerti apa maksud orang tersebut. Saat itu pula Hanan kembali ke jalan Hanan, bahkan Hanan mulai menyibukkan diri dalam hal positif," jelas Hanan sambil tertunduk.


"Syukurlah akhirnya kamu menuntaskan ceritamu itu sayang, tidak apa-apa. Mami tau bagaimana keadaan kamu saat itu, justru Mami minta maaf akibat keegoisan Mami kamu harus menanggung akibatnya, Mami bersyukur akhirnya kamu kembali kejalan yang benar. Kalau sampai kamu gak kembali, Mami orang pertama kali yang menyalahkan diri Mami sendiri. Terimakasih ya sayang akhirnya kamu mau jujur sama Mami juga Papi," ungkap Mila mengelus puncak kepala Hanan.


"Papi juga minta maaf ya sayang, karena kesibukan Papi. Papi sampai tidak tau kalau Hanan melewati masa sulit itu, ini juga salah Papi yang tidak becus menjadi Ayah Hanan. Papi benar-benar bodoh!" ucap Malik membuat Hanan mendongak.


Hanan berhambur memeluk Malik, bukan ini yang Hanan inginkan. Bukan membuat Malik menyalahkan dirinya sendiri, Hanan hanya perlu mengatakan sesungguhnya. Bagaimanapun kebohongan akan lebih menyakitkan jika terus ada kebohongan yang lainnya, Hanan mengecup kening Malik.


"Harusnya Hanan tidak menceritakan ini, karena Hanan yakin pasti Papi akan menyalahkan diri Papi sendiri. Inilah yang membuat Hanan enggan bercerita," tutur Hanan membuat Malik menatap lekat kearah Hanan.


Malik kembali memeluk Hanan, Mila yang dari tadi hanya memandang ikut memeluk Hanan. Kini Malik memeluk dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, dua orang yang sempat dipisahkan. Akhirnya kembali bersama, kehidupan memang tidak ada yang tau akan seperti apa kedepannya.

__ADS_1


"Sudah dong kenapa kita jadi seperti teletubies begini, lanjutkan makannya lagi ya. Setelah itu kamu istirahat ya sayang, Mami sama Papi juga mau istirahat. Nanti solat isyak di kamar saja, yang penting jangan buat adikmu jadi terusik tidurnya. Yuk buruan," ucap Mila melepaskan pelukannya.


"Kamu beneran mau lanjut makan gak mau dengerin penjelasan Mas dulu?" tanya Malik sedikit menggoda.


"Hah? Penjelasan apa lagi Mas?" Mila terbengong tidak ingat hal apa yang sudah dilewatkan.


"Kamu tau bahwa Mama sudah menikah lagi? Ya Mama sudah menikah lagi dengan seorang pria yang mengaku bahwa dirinya orang kaya, mempunyai berbagai macam bisnis terutama batu bara. Anehnya selama ini makan sehari-hari suami Mama tidak pernah memberikan uang pada Mama sepeserpun, Mama sering kok memintaku uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku pernah nanya kenapa Mama gak minta saja sama suami Mama yang katanya banyak bisnis itu, Mama hanya terdiam. Apakah orang kaya memang se pelit itu? Bahkan dengan istrinya sendiri?" ungkap Malik membuat Mila tersedak.


Uhuk! Uhuk!


"Hati-hati dong Mi, memang benar apa yang dikatakan sama Papi Mi. Anehnya juga Kakek gak pernah sepeserpun memberikan Hanan uang," jelas Hanan semakin membuat Mila melongo.


"Lah gimana ceritanya sih Mas, secara pengusaha batu bara itu uangnya melimpah ruah loh. Lah ini kenapa jadi gak punya uang? Bukannya mau suudzon tapi jangan-jangan nih orang hanya orang biasa lagi Mas, dirinya gengsi mengatakan yang sesungguhnya. Kau kan tau Mas bahwa Mama merupakan perempuan yang royal pula, mungkin jika lelaki itu mengatakan yang sejujurnya Mama gak akan mau nerima. Wah bisa gitu ya Mas bakalan rumit, ya memang sih bisa lega akhirnya Mama ada yang jagain gak sendiri lagi. Lah tapi kalau penipu ya sama aja bohong," jelas Mila menatap nanar kearah Malik.


"Mas juga sepemikiran sama kamu, ya semoga saja Mama memang sudah tau. Kalau Mama sudah tau kan Mas jadi bisa bernafas lega, yasudah semua sudah jelas kan? Sekarang lebih baik kita istirahat, sambung lagi besok. Kamu duluan saja sayang, inget ya mulai sekarang kamu harus jujur mengatakan apapun sama Mami maupun Papi. Papi gak mau ini semua terulang kembali, bukannya Papi gak percaya sama kamu. Papi hanya tidak ingin melihat Hanan menjadi salah pergaulan yang menyebabkan Hanan bakal menyesal nantinya, ingat baik-baik pesan Papi ini ya sayang," tegur Malik membuat Hanan mengangguk.

__ADS_1


"Mami gak nyalahin kamu sayang, tapi perkataan Papi ada benernya. Kalau kamu merasa beban di pikiranmu itu terlalu berat, coba kamu bicara sama Papi. Papi gak akan pernah marah kok sama Hanan, yang penting Hanan bicara jujur sama Papi. Jangan sembunyikan sesuatu lagi dari Mami maupun Papi," imbuh Mila.


"Baiklah Pi Mi, Hanan bakalan ingat baik-baik pesan Papi. Kalau gitu Hanan istirahat dulu ya, kalian lekas nyusul. Jangan begadang sampai pagi," tegur Hanan berdiri melangkah menuju kamarnya.


Mila dan Malik saling pandang, apa yang dimaksud dengan Hanan? Mila mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti, dari pada membuat pusing Mila beranjak dari meja makan. Mencuci bersih piring yang kotor, sedangkan Malik ijin lebih dulu masuk ke kamar. Rasanya tubuh Malik begitu remuk redam, baru beberapa jam saja Malik mengistirahatkan tubuhnya.


"Mas? Sudah tidur?" tanya Mila mendapati Malik yang mendengkur dengan pelan.


Tidak ada sahutan dari Malik, ya benar saja akibat kelelahan dan kenyang Malik akhirnya tertidur. Padahal niat Mila membangunkan Malik untuk sholat berjamaah bersama, merasa kasihan Mila mengurungkan niatnya untuk membangunkan Malik. Mila mengecek ke kamar Hanan sebentar, Hasna dan Hanan tertidur dengan sangat lelap.


Selamat tidur sayang!.


Ucap Mila sembari membenarkan selimut milik Hanan dan Hasna, diciumnya kening Hanan maupun Hasna. Melihat sejenak wajah mereka yang begitu menggemaskan, Mila tersenyum lantas beranjak pergi meninggalkan Hasna juga Hanan. Mila membuka pintu kamar dengan hati-hati agar Malik tidak terusik, anehnya Mila tidak mendapati Malik di kamarnya. Lantas kemana perginya Malik? Gak mungkin kan Malik dibawa wewe gombel? Ah serem sekali, Mila mencari keberadaan Malik, sampai akhirnya gemericik air membuat Mila lega.


Mas Malik!

__ADS_1


Teriak Mila seketika dengan mata yang melotot, wah apa-apaan nih kenapa teriak-teriak begitu?.


__ADS_2